Mencari Makna Dari Banyaknya Musibah yang Melanda
Oleh : Adi Sumaryadi
Musibah berasal dari kata ashaaba, yushiibu, mushiibatan yang berarti
segala yang menimpa pada sesuatu baik berupa kesenangan maupun
kesusahan. Namun, umumnya dipahami musibah selalu identik dengan
kesusahan. Padahal, kesenangan yang dirasakan pada hakikatnya musibah
juga. Dengan musibah, Allah SWT hendak menguji siapa yang paling baik
amalnya.
`Sesungguhnya kami telah jadikan apa yang ada di bumi sebagai
perhiasan baginya, karena Kami hendak memberi cobaan kepada mereka,
siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya.` (QS Al-Kahfi
(18): 7) Ada tiga golongan manusia dalam menghadapi musibah. Pertama,
orang yang menganggap bahwa musibah adalah sebagai hukuman dan azab
kepadanya. Sehingga, dia selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh.
Kedua, orang yang menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa.
Ia tidak pernah menyerahkan apa-apa yang menimpanya kecuali kepada
Allah SWT. Ketiga, orang yang meyakini bahwa musibah adalah ladang
peningkatan iman dan takwanya. Orang yang seperti ini selalu tenang
serta percaya bahwa dengan musibah itu Allah SWT menghendaki kebaikan
bagi dirinya.
Musibah yang ditimpakan kepada manusia ada dua macam. Pertama, musibah
dunia; dan kedua, musibah akhirat. Musibah dunia salah satunya ialah
ketakutan, kelaparan, kematian, dan sebagainya sebagaimana Allah SWT
jelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 155. `Dan pasti akan kami uji
kalian dengan sesuatu dari ketakutan, dan kelaparan, dan kekurangan
harta dan jiwa dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira bagi
orang-orang yang sabar.` Adapun musibah akhirat adalah orang yang
tidak punya amal saleh dalam hidupnya, sehingga jauh dari pahala.
Rasulullah SAW pernah bersabda, `Orang yang terkena musibah, bukanlah
seperti yang kalian ketahui, tetapi orang yang terkena musibah yaitu
yang tidak memperoleh kebajikan (pahala) dalam hidupnya.`
Orang yang terkena musibah berupa kesusahan di dunia, jika ia hadapi
dengan kesabaran, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT, hakikatnya ia
tidak terkena musibah. Justru yang ia dapatkan adalah pahala.
Sebaliknya, musibah kesenangan selama hidupnya, jika ia tidak pandai
mensyukurinya, maka itulah musibah yang sesungguhnya. Karena, bukan
pahala yang ia peroleh, melainkan dosa.
Berkenaan dengan hal tersebut, dalam hadis Qudsi Allah SWT berfirman,
`Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, Aku tiada mengeluarkan hamba-Ku yang
Aku inginkan kebaikan baginya dari kehidupan dunia, sehingga Aku tebus
perbuatan-perbuatan dosanya dengan penyakit pada tubuhnya, kerugian
pada hartanya, kehilangan anaknya. Apabila masih ada dosa yang tersisa
dijadikan ia merasa berat di saat sakaratul maut, sehingga ia menjumpai
Aku seperti bayi yang baru dilahirkan.`
(Deni Rahman, Hikmah Republika )