Artikel Islami
Menelisik Kejahatan Kemanusiaan di Rohingnya

Menelisik Kejahatan Kemanusiaan di Rohingnya
Muslim Rohingya kerap menjadi korban kekerasan dari pemerintah negara itu sejak berpuluh tahun silam. Tak sekadar ditindas, Rohingya tidak diakui sebagai salah satu suku bangsa Rohingya. Malangnya, Bangladesh juga enggan menerima mereka. Para pengungsi itu pun berjalan dalam kesendirian.

Setidaknya, dari perspektif Islam, jelas setidaknya ada dua hal yang perlu dicatat. Pertama, jelas ada umat Islam yang -dalam jumlah besar- menjadi korban penindasan bahkan pembantaian. Kedua, pihak yang membantai secara tegas menyebut yang menjadi target adalah Muslim. Ini adalah terlepas dari apakah ada motif lain atau tidak.
Karena itulah, dalam perspektif Islam, tidaklah aneh bila narasi keislaman berkembang hingga ke wilayah-wilayah lain. Pada waktu sebagian umat Islam sedang menghadapi jihad fi sabilillah di suatu wilayah, maka umat Islam di wilayah lain harus membantu. Tentunya bantuan ini adalah sesuai kemaslahatan dan tidak boleh membuat keadaan lebih runyam. Misalnya, baiknya mengirimkan donasi dan bantuan kemanusiaan atau menampung pengungsi atau maju berdiplomasi sebagaimana upaya luar biasa yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, umat Islam bagaikan satu tubuh. Bila satu bagian terasa sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakannya. Karena itu, sangatlah wajar dan masuk akal apabila umat Islam meneriakkan solidaritas bernuansa Islami sebagai respons terhadap masalah Rohingya.
Sebagai catatan, tentu ini bukan berarti musibah kepada non-Muslim tidak perlu dibantu. Hanya saja, sangat manusiawi jika lebih bereaksi kepada sakitnya bagian tubuh sendiri dibandingkan bagian tubuh orang lain. Tentu kepekaan sosial antarumat merupakan pekerjaan rumah bagi sebagian umat Islam. Dikatakan ‘sebagian’, karena bukan sedikit umat Islam yang sangat cepat turun membantu non-Muslim yang tertimpa bencana, misalnya pada kebakaran apartemen Grenfell di London (Inggris) dan pascabadai Harvey di Houston (Amerika Serikat) baru-baru ini.
Dengan demikian, sebetulnya kedua pola pikir ini tidaklah perlu dipertentangkan. Barangkali tidak salah pandangan bahwa masalah Rohingya bukan konflik agama, sepanjang dipahami term ‘agama’ hanya dimaknai sebagai hubungan vertikal antara personal dengan sembahannya saja. Sebuah sistem kepercayaan yang mengintegrasikan hubungan vertikal dan horizontal tampaknya asing dan kurang pas dalam cara pandang ini.
Di sisi lain, khususnya bagi umat Islam, tidak salah pula jika menyuarakan solidaritas berbasis Islam atau mengatakan Rohingya yang melawan adalah melaksanakan jihad. ‘Agama’ dalam makna ‘hubungan vertikal’ tentu merupakan unsur penting dalam Islam, tapi bukan satu-satunya unsur. Adanya nuansa ekonomi dan politik tidaklah serta merta menghilangkan karakter keislaman pada sebuah perkara.
Betapa tidak membingungkan, istilah yang sama dengan dua makna yang berbeda dalam konteks bahasan yang tidak jauh berbeda. Terkadang masalah ini timbul akibat penerjemahan. Kata ‘religion’, dalam Oxford Dictionary, hanya dimaknai hubungan vertikal:  “The belief in and worship of a superhuman controlling power, especially a personal God or gods”.
 
Kondisi Pengungsi Memilukan
Muslim Rohingya kerap menjadi korban kekerasan dari pemerintah negara itu sejak berpuluh tahun silam. Tak sekadar ditindas, Rohingya tidak diakui sebagai salah satu suku bangsa Rohingya. Malangnya, Bangladesh juga enggan menerima mereka. Para pengungsi itu pun berjalan dalam kesendirian.
Sebagian besar pengungsi telah tiba dalam 2,5 bulan terakhir setelah serangan terhadap sekitar 30 pos keamanan oleh pemberontak Rohingya mendapat balasan keji dari militer Myanmar.
Komisaris hak asasi manusia PBB Zeid Ra'ad Al Hussein mengatakan hal ini sebagai contoh pembersihan etnis. Sedangkan pemerintah Myanmar menyatakan tindakannya merupakan respons yang proporsional terhadap serangan Rohingya.
Temuan IOM, berdasarkan diskusi dengan kelompok penduduk jangka panjang dan pendatang baru-baru ini, menunjukkan kehidupan di kamp-kamp pengungsian hampir tidak lebih baik daripada di Myanmar untuk anak-anak Rohingya.
IOM mengatakan anak-anak ditargetkan oleh agen tenaga kerja dan didorong untuk bekerja dengan orang tua mereka yang malang di tengah malnutrisi dan kemiskinan di kamp-kamp. Kesempatan pendidikan terbatas untuk anak-anak di luar Kelas 3.
Anak laki-laki dan perempuan Rohingya yang berusia tujuh tahun dipastikan bekerja di luar permukiman. Anak laki-laki bekerja di peternakan, lokasi konstruksi, dan kapal penangkap ikan, juga di kedai teh dan sebagai sopir becak.
Anak perempuan biasanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan pengasuh untuk keluarga Bangladesh, baik di kota resor dekat Cox's Bazar atau di Chittagong, kota terbesar kedua di Bangladesh, sekitar 150 Km dari tempat pengungsian.






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Artikel Islami Lainnya
April Mencekam di Andalusia
April Mencekam di Andalusia
22
Inilah kemenangan versi mereka. Kemenangan yang didapat melalui jalan apa saja, termasuk penyiksaan dan penipuan.