Artikel Islami
Menumbuhkan Jiwa Kepahlawanan

Menumbuhkan Jiwa Kepahlawanan
Menumbuhkan jiwa pahlawan ini, bukanlah disengaja meniatkan diri menjadi pahlawan agar jasa-jasanya dikenang oleh orang lain. Cukup menjadi sosok yang selalu dirindukan orang lain, karena kehadirannya dapat menjadi solusi.

Ketika mendengar kata pahlawan, secara tidak langsung kita berpikir pahlawan adalah mereka yang berjasa untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Sosok yang mengorbankan harta, jiwa dan raganya demi kebebasan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan. Kecintaan para pahlawan, meninggalkan kenangan tersendiri bagi bangsa ini. Tanpa perjuangan dan pengorbanan mereka, mustahil kita bisa merdeka seperti sekarang.

Pahlawan Masa Kini

Kondisi sekarangamatlah berbeda. Dulu, seorang dikatakan pahlawan ketika benar-benar turun di medan pertempuran. Kini, untuk menjadi pahlawan, kita tidak harus turun ke lapangan dengan senjata maupun bambu runcing untuk menumpas para penjajah.

Tidak dipungkiri, saat ini, sangat sulit menemukan sosok pahlawan yang nyata. Jasa Presiden, TNI, Polisi, dokter, guru, dan yang lainnya, dapat kita lihat dan rasakan langsung.Tetapi, bagaimana dengan pahlawan masa kini? Tidak perlu jauh-jauh melihat keluar. Kita sendiripun, sebenarnya bisa menjadi pahlawan bagi orang lain.

Menumbuhkan jiwa pahlawan ini, bukanlah disengaja meniatkan diri menjadi pahlawan agar jasa-jasanya dikenang oleh orang lain. Cukup menjadi sosok yang selalu dirindukan orang lain, karena kehadirannya dapat menjadi solusi, bukan sebaliknya.

Menjadi Jalan Kebaikan Orang Lain

Sebagai umat Islam, sekecil apapun amal kebaikan dan dilakukan dengan ikhlas, maka akan berbuah pahala. Tidak perlu dikenal terlebih dahulu baru berbuat baik, tapi berbuat baiklah sebanyak-banyaknya maka kebaikan itu yang akan menyelamatkan kita.

Jalan untuk berbuat kebaikan bisa dengan berbagai cara. Salah satunya yakni sedekah. Mendengar kata ini, ada yang berfikir mustahil karena untuk kebutuhan sendiri saja masih sangat kurang bagaimana bisa berbagi sedekah dengan orang lain. Perlu disadari, tidak ada orang yang jatuh miskin karena bersedekah sekalipun ia tidak memiliki uang yang banyak.

Sedekah tidak ada aturan nominal yang harus dikeluarkan. Berdasarkan firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 261 “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Dari ayat ini, seseorang yang memberikan hartanya di jalan Allah akan mendapatkan kebaikan. Betapa mulianya seseorang yang memiliki keinginan untuk bersedekah. Bahkan bersedekah tidak perlu menunggu mampu terlebih dahulu. Jika bersedekah dengan ikhlas, Allah akan melipatgandakan kebaikan kepada hambaNya.

Sedekah yang diberikan nantinya akan sangat berharga bagi mereka yang membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kita sering mendengar kisah orang-orang yang diberi kemuliaan oleh Allah jika bersedekah. Contohnya ada seorang dosen, pada masa menempuh pendidikan kuliah ia bertekad untuk mengikuti program beasiswa kursus bahasa Inggris di Kansas, Amerika selama dua bulan.

Ia sudah mencoba beberapa kali mengajukan beasiswa tetapi selalu gagal. Hingga pernah satu waktu ia menginstrospeksi diri, kemduian memutuskan sebelum mengajukan beasiswa kembali Ia bersedekah setiap hari. Ikhtiar mengajukan berbagai persyaratan beasiswa tetap dilakukan. Sampai suatu saat, tanpa disadari ia menerima surat dari lembaga yang mengurus program beasiswa, bahwa ia lulus menjadi penerima beasiswa program kursus bahasa Inggris di Kansas, Amerika.

Dari kisah diatas terdapat hikmah, keutamaan sedekah secara tidak langsung memberi dampak kepada diri sendiri. Barangkali tanpa disadari, ketika bersedekah mereka yang menerima manfaat mendoakan orang yang membantunya secara diam-diam. Nah,secara tidak langsung kitapun telah menjadi pahlawan bagi mereka dengan bersedekah.

Sedekah, Latihan Mendididik Jiwa Pahlawan

Tindakan yang dilakukan secara berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu melahirkan karakter. Ketika telah menjadi karakter, maka secara otomatis akan melekat dengan diri sendiri. Untuk menciptakan karakter baik, harus dimulai dengan kebiasaan yang baik. Seperti hal nya sedekah, pada awalnya bagi kita yang belum terbiasa mungkin akan terasa berat melakukannya.

Kita berupaya mengeluarkan apa yang dimiliki untuk diberikan kepada orang lain. semua itu butuh tekad yang kuat. Firman Allah dalam surat Al-Ankabut ayat 69, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.

Allah SWT telah menjanjikan memberi petunjuk kepada orang yang berbuat baik. Kita tidak mungkin melewatkan kesempatan terbaik ini begitu saja. Selagi kita masih dimampukan untuk berbuat baik berupa bersedekah, lakukan dengan sungguh-sungguh. Jadikan sedekah sebagai bagian dari gaya hidup, bahkan kita gelisah ketika satu hari belum bersedekah. Kebaikan dalam bersedekah akan menumbuhkan jiwa pahlawan untuk terus memberi kepada orang lain.

Sedekah, Ladang Amal Untuk Pendidikan

Tidak sulit menumbuhkan jiwa pahlawan dalam diri. Sedekah yang kita keluarkan berapapun nilainya menjadi kebaikan bagi orang lain. salah satu  manfaat sedekah tersebut yakni bagi program pendidikan yang telah dijalankan oleh lembaga ZIS (Zakat, Infaq, Sedekah) resmi seperti Dompet Peduli Ummat (DPU) Daarut Tauhiid. Program pendidikan dari DPU Daarut Tauhiid bernama Beasiswa-Ku.

Beasiswa-Ku memberikan bantuan beasiswa untuk level pendidikan mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), SMP hingga SMA.  Program ini, diperuntukkan bagi siswa yang kurang mampu serta menempuh pendidikan di pesantren Daarut Tauhiid.

Lembaga resmi dan terpercaya seperti DPU Daarut Tauhiid bisa menjadi jalan bagi kita untuk menyalurkan sedekah . Apalagi distribusi dapat langsung kita lihat melalui para penerima beasiswa ini. Mereka yang menerima tersebut, menjadi terbantu atas sedekah yang kita berikan. Bagi mereka kita adalah pahlawan yang mampu menyelamatkan mereka dari kebodohan dari ilmu pengetahuan.

Begitu mudahnya menumbuhkan jiwa pahlawan itu pada zaman ini. Sekarang tinggal bagaimana aksi kita untuk mewujudkan menjadi seorang yang bermanfaat bagi orang lain. Teruslah istiqomah dalam memberi, walaupun kita dalam kekurangan. Karena kita tidak tahu dari jalan mana keberkahan dapat diraih.






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Artikel Islami Lainnya
Qubbatuz Zaman dan Tabut Nabi Musa
Qubbatuz Zaman dan Tabut Nabi Musa
20
Tabut; adalah peti penyimpan dua batu berisi kesepuluh perintah Allah. Arsitek Nabi Musa membuatnya dari kayu cendana berukuran 2,5 x 2 x 1,5 hasta. Bagian luar dan dalam peti ini dilapisi emas murni dengan tambahan empat pegangan di setiap sisinya.