Artikel Islami
Nabi Daud: Pentingnya Tabayun Saat Memutus Perkara

Nabi Daud: Pentingnya Tabayun Saat Memutus Perkara
Seketika setelah Nabi Daud memutuskan perkara itu, para tamu hilang tak berbekas. Nabi Daud heran, mengapa keduanya tidak berpamitan sebagaimana layaknya (kewajiban) tamu yang hendak meninggalkan kediaman.

“Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar? Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata: "Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat dzalim kepada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus..” (Q.S. Shad [38]: 21-22).
 
Nabi Daud berusaha keras total mengurusi kerajaannya. Berbagai hal beliau hadapi, diantaranya berbagai dinamika keumatan dengan ragam bentuk kasuistiknya.
Pada suatu hari (di jam-jam beliau sendirian mendekatkan diri keada Allah), ia dikagetkan dengan kedatangan dua orang yang datang tiba-tiba. Keduanya tidak melewati pintu sebagaimana mestinya. Mereka datang membawa permasalahan yang hendak mereka  tahkim-kan kepada Nabi Daud.  Mereka dengan segala hormat meminta Nabi Daud berkenan mengabulkan permohonannya.
 
Nabi Daud bertindak bijak. Walau di luar waktu semestinya, ia mempersilakan kedua orang tersebut untuk menyampaikan hajat-nya. Lalu salah seorang dari mereka menceritakan titik permasalahan yang sedang dihadapinya, bahwa saudaranya (orang di sampingnya) walau sudah memiliki sembilan puluh sembilan ekor kambing betina namun tetap menginginkan kambing miliknya yang jumlahnya hanya seekor.
 
Mendengar penjelasan itu Nabi Daud sontak membelanya dengan mengatakan bahwa si pemilik 99 ekor kambing zalim karena telah berbuat serakah. Oleh karenanya Nabi Daud memutuskan agar ia membiarkan pemilik satu ekor kambing tetap memiliki kambingnya. Dan ia akan menindak tegas bila tidak mau menerima keputusannya. Dengan demikian, kasus beres dan tidak boleh ada yang mengungkit-ngungkitnya. 
 
Seketika setelah Nabi Daud memutuskan perkara itu, para tamu hilang tak berbekas. Nabi Daud heran, mengapa keduanya tidak berpamitan sebagaimana layaknya (kewajiban) tamu yang hendak meninggalkan kediaman.  Aneh bin ajaib, mengapa bisa demikian?
Nabi Daud mengerahkan daya nalarnya mencari tahu ada apakah gerangan? Ia mencoba menelusuri berbagai peluang. Ia mengerti sekali bahwa para petugas dan pengawal berjaga di sekitar kerajaan. Tentunya mereka akan mengabarkan bila ada tamu yang datang. “Datang tanpa kabar, pulang tanpa ucapan (pamitan)”.
 
Nabi Daud mulai mendekati sebuah kesimpulan, bahwa mereka bukanlah manusia. Lantas siapa? Seketika Nabi Daud sadar bahwa kedatangan mereka bukan karena ada permasalahan. Namun karena hendak memberikan pelajaran. Nabi Daud pun mereka ulang pernyataan (kasus) yang disampaikan sang tamu. Saat itu juga, akalnya menuju pada satu titik kesadaran bahwa ia telah melakukan kesalahan besar.
 
Astaghfirullah al-adzim. Badannya lemah. Kepalanya tersungkur ke lantai memohon ampunan-Nya. Seandainya permasalahan tadi memang ada, berarti ia telah berbuat zalim. Ia tidak berlaku objektif dengan mengabaikan hak bicara dan membela pemilik 99 kambing sehingga keputusannya hanya menilik dari satu sisi saja.
 
Nabi Daud takjub dengan ke-Mahabijaksanaan Allah yang telah memberikan skenario pembelajaran hebat. Melalui kejadian ini, Nabi Daud memiliki tekad kuat untuk mengklarifikasi setiap hal dari berbagai sudut serta tidak tergesa-gesa memutuskan sebelum data yang dibutuhkan lengkap dan sempurna. Sejak saat itu, di kerajaan Nabi Daud hampir tidak ditemukan kejadian yang tidak jelas serta tidak ada keputusan/ketetapan  tanpa data yang kuat dan akurat.
 
Demikianlah, sebuah akhlak mulia diwariskan. Tabayun; adalah proses menggali data untuk mengetahui sebab dan motif yang ada di balik sesuatu (sikap dan tindakan seseorang), karena Allah telah menganugerahkan potensi akal yang dengannya manusia bisa memikirkan dan memahami sesuatu. setiap orang umumnya memiliki alasan di balik yang di lakukannya. Dan melalui akhlak ini pula kesalahahpaman bisa dihilangkan karena seseorang bisa mengerti maksud yang hendak disampaikan teman bicaranya. Wallahu a’lam.
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Artikel Islami Lainnya
Qubbatuz Zaman dan Tabut Nabi Musa
Qubbatuz Zaman dan Tabut Nabi Musa
20
Tabut; adalah peti penyimpan dua batu berisi kesepuluh perintah Allah. Arsitek Nabi Musa membuatnya dari kayu cendana berukuran 2,5 x 2 x 1,5 hasta. Bagian luar dan dalam peti ini dilapisi emas murni dengan tambahan empat pegangan di setiap sisinya.