Artikel Islami
Menjadi Guru Lewat Tulisan

Menjadi Guru Lewat Tulisan
Memang tidak gampang menjadi penulis itu. Terlebih jika kita belium terbisa menuangkan sesuatu dalam bentuk tulisan, misanya kejadian-sehari-hari yang kita alami.

“ Buku adalah guru yang tak pernah marah”. Itulah lontaran kata orang-orang bijak. Namun, seberapa banyakah orang yang mau jadi guru tanpa pernah marah kepada muridnya?. Tulisan ini mencoba menggambarkan urgensi tulisan dari sudut pandang transformasi ilmu pengetahuan.

Kita sering melontarkan kata “dia itu guru”. Tapi, mungkin sebagian ada yang belum paham akan definisi dan esensi dari guru tersebut. Secara umum guru adalah sesuatu yang memberikan tambahan pengetahuan, ketampilan serta merubah lebih baik diri kita. Ini diungkapkan, sebab tidak selalu guru tersebut meski dalam bentuk orang langsung. Namun, pandangan umum guru adalah seseorang yang mengajarkan ilmu pengetahuan, keterampilan atau yang membimbing perjalanan hidup dan bertatap langsung dengan kita.

Guru bukanlah hal yang biasa. Islam menilai ia memiliki kemulian yang sangat besar. Bahkan dalam kitab ta’lim muta’alim menjelaskan betapa harus memuliakannya seorang murid terhadap guru. Karena ilmu yang telah diberikannya menjadi cahaya lampu kehidupan kita. Selain itu nilai pahala yang diberikan bagi guru sangat besar dan takan pernah putus walau ia sudah meninggal. Ilmu yang bermanfaat dan menjadi penerang bagi mereka akan berbuah pahala yang terus mengalir. Ini dijelaskan dalam sebuah hadits nabi. Nabi bersabda “ Bila telah mati anak Adam, putuslah amalnya, kecuali tiga perkara yaitu : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendo’akan kepadanya”.

Menjadi guru secara langsung mungkin tidak semua orang bisa. Latar belakang pendidikan, keahlian dalam menyampaikan ide secara lisan, teknik keguruan dan hal-hal lainya menjadi menjadi hambatan bagi sebagian orang. Namun, akankah kita menyerah begitu saja, setelah melihat hambatan tersebut? Padahal, begitu besar nilai dan makna bagi seoarang guru.

Jangan khawatir. Jadi guru tidak mesti datang langsung ke tempat murid-murid belajar. Tidak selamanya mesti menyampaikan ilmu pengetahuan secara lisan. Bagi mereka yang punya kemampuan menulis dan menyampaikan ilmu lewat tulisan merupakan peluang besar. Bukankah ulama-ulama terdahulu telah menjadi guru bagi kita semua, padahal kita tak pernah tahu dan bertemu dengan meraka. Karya-karyanya yang gemilang dan tersusun secara rapi kemudian diperbanyak serta jadi rujukan banyak orang mereka telah menjadi guru bagi kita semua. Bukankah pepatah mengatakan buku adalah guru yang tak pernah marah. Berarti tidak selalu kita menajdi guru yang formal, berpakaian seragam guru, menengteng tas dan berangkat ke ruang kelas.

Menjadi guru lewat tulisan tak menganl batas. Ilmu-ilmu yang telah dituangkan dalam bentuk tulisan dapat ada sepanjang mereka membutuhkan dan menjaganya. Tulisan tak mengenal mati, tulisan tak menganl pensiun, tulisan tak mengenal tempat. Jadi guru disuatu sekolah belum tentu dapat menyampaikan ilmu ditempat lain. Tapi kaji, jika ilmu kita tertulis dimanapun dan kapanpun kita akan menjadi guru bagi mereka yang mempelajari ilmu yang telah kita tuangkan.

Memang jika kita jadi guru dari karya-karya pengetahuan kita tidak punya murid secara langsung. tidak ada keberlangsungan dan kebersamaan dengan murid-murid kita. Murid banyak namun tidak bisa nampak sebagaimana biasanya. Secara materil peluangnya besar pula, bahkan mungkin bisa lebih dari seorang guru formal yang stiap pagi berangkat ke kelas dan siang pulang lagi kerumah. Bagi ia yang sering menuangkan karyanya lewat tulisan bisa menajdi kaya. Berbagai media masa memberikan imbalan materi yang mejajnjikan bagi tulisan-tulisan yang dimuat. Hal ini saya rasakan sekarang dalam satu bulan saya dapat dimuat tiga tulisan dimedia yang memang skupnya masih kecil, namun imbalannya bisa melebihi gaji kerja saya. Pertanyaan selanjutnya bagamana biar kita bisa menulis ?

 

Kunci Menjadi penulis

Memang tidak gampang menjadi penulis itu. Terlebih jika kita belium terbisa menuangkan sesuatu dalam bentuk tulisan, misanya kejadian-sehari-hari yang kita alami. Tapi bukan sesuatu yang rumit dan mustahil untuk kita lakukan. Berikut beberapa kunci menjadi penulis : pertama, sikap kita. setiap manusia yang bernyawa pasti memiliki harapan. Sebab, manusia tanpa harapan akan ‘mati’. Namun keberhasilan dalam mengagapai harapan tersebut kemalai pada sikap kita sendiri. Bagamana kita menyikapi harapan yang telah terbersit dalam jiwa itu akan menjadi nilai point tersendiri bagi keberhasilan menggapai harapan.

Hernowo dalam sebuah artikelnya mengatakan “Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza merupakan contoh konkret bagaimana saya menerapkan teori “mengikat makna”. Saya “mengikat” (mencatat) apa saja yang berkesan dan menarik bagi diri saya lewat tulisan. Saya “mengikat” apa pun yang masuk ke dalam diri saya dan yang berasal dari mana pun”. Kebisaannya dalam menuangkan apapun dalam bentuk tulisan merupakan sikap yang patut kita tiru, jika berkeinginan menjadi guru lewat karya tulisan.

Kedua, Optimis. Sikap optimis seseorang berpengaruh besar terhadap kinerja yang dilakukannya. Optimisme yang dibangun dalam diri kita senantiasa membawa kita pada apa yang kita harapkan. Bayangkan, jika seseorang tidak optimis dengan apa yang ia lakukan dan harapkan. Semangatkah dalam menacapai keinginannya?.

Terlebih bagi para pemula, menulis sering tersendat dengan id-ide yang harus dikeluarkan. Selain itu tulisan yang telah dibuat dengan susah payah tidak ada yang memuatnya, bahkan orang sekitar juga membiarkan begitu saja. Biasanya itu akan melemahkan semangat kita.

Ketiga, Istiqomah. Kunci keberhasilan yang diungkapkan Agung Gede Prama ketiganya adalah the power of consistenci. konsisten dengan apa yang kita harapakan akanmenjadi dasar kseuksesan kita. namun sayang, lemahnya kita sering berpindah-pindah targetan. Hari ini ingin bisa menulis, besok ingin jadi pembicara yang top. Padahal, jadi penlis belum bisa kita raih. Bayangkan jika hal itu selalu ada dalam diri kita, tidak istiqomah denga apa yang kita harapkan. Kapan cita-cita kita akan tercapai.

Itu saja yang dapat saya sampaikan semoga bermanfaat dan jadi penulis yang digandrungi karya-karyanya. Wallahu a’lam bis shawab.






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Artikel Islami Lainnya
Shibghatallah: Jatidiri Terbaik Seorang Muslim
Shibghatallah: Jatidiri Terbaik Seorang Muslim
16
Celupan ini akan meresap ke seluruh sendi-sendi, memasuki setiap serat-seratnya, lalu muncullah penampakkan yang indah, warna yang memikat serta corak yang istimewa. Begitulah gambaran seorang muslim yang telah ter-shibghah oleh shibghah Allah.
Galeri
Lempar Jumroh

Ust. Abdul Wahab sedang memperagakan Lempar Jumroh kepa

DR. Zakir Naik dan Aa Gym sedang berdialog

Dialog antara Aa Gym dengan Dr. Zakir Naik selepas Shol

Dari Kecil Mencintai NKRI

Belajar mengajak anak bergabung dalam event besar, agar