Artikel Islami
Menjaga Kerukunan Keluarga

Menjaga Kerukunan Keluarga
Ibarat dua sisi mata uang, jika tidak bahagia maka derita. Juga sebaliknya. Itulah hidup. Semua derita itu adalah badai kehidupan yang akan mernghempaskan kita dari cita-cita yang diharapkan. Jika badai derita itu dianggap sebagai

Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan- itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (QS. At-Taubah: 109)

Rumah tangga yang bahagia adalah rumah tangga yang diwarnai dengan kerukunan. Yakni rumah tangga yang dibangun atas dasar cinta kasih dan ketakwaan. Allah SWT berfirman, “Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan- itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (QS. At-Taubah: 109).

Setiap manusia, sepanjang zaman pasti mendambakan kehidupan sakinah, mawaddah, warahmah. Akan tetapi tidak sedikit manusia yang gagal mewujudkannya dikarenakan mengambil langkah yang salah dalam mengarungi biduk kehidupan keluarga.

Pasang surut kehidupan adalah sunatullah. Rumah tangga sebagai miniatur kehidupan, tentu tidak akan lepas dari sunatullah. Sewaktu-waktu pasti akan mengalami pasang surut. Lantas, bagaimanakah kita mengendalikan biduk rumah tangga yang terkadang harus siap diterjang badai kehidupan yang senantiasa berubah?

Maka, rumah tangga sejatilah yang kemudian dicita-citakan. Rumah tangga sejati adalah rumah tangga yang memahami alur kehidupan sebagai sunatullah. Selalu siap mengatasi bermacam gelombang keidupan. Duka, lara, nestapa, pedih, pilu, dan semua kata yang bersinonim dengan penderitaan dan kegagalan adalah sisi lain kehidupan.

Ibarat dua sisi mata uang, jika tidak bahagia maka derita. Juga sebaliknya. Itulah hidup. Semua derita itu adalah badai kehidupan yang akan mernghempaskan kita dari cita-cita yang diharapkan. Jika badai derita itu dianggap sebagai batu loncatan menuju kesuksesan, kita akan menikmati setiap derita itu sebagai salah satu dari episode kehidupan yang suatu saat bisa berubah.

Saat badai rumah tangga menerpa, seorang mukmin tentu akan sadar bahwa semua yang terjadi adalah ujian bagi keimanan. Ujian sebagai bukti kasih sayang Allah kepada kita sebagai sarana peningkatan derajat keimanan sekaligus menyempurnakan nikmat-Nya.

Menggagas rumah tangga yang paling ideal bukan hal yang mudah. Perlu persiapan, kesabaran, dan keilmuan yang cukup untuk bisa membangunnya. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan bekal dalam menggagas rumah tangga ideal, sehingga kerukunan keluarga senantiasa terjaga.

Hal yang pertama adalah kita harus menjadi orang yang rendah diri. Tidak merasa ”paling” di antara anggota keluarga yang lain. Yang kedua, jadilah orang yang sabar. Karena dengan kesabaran, akan timbul kebahagiaan. Ketiga, mulai menyayangi saudara dari diri kita sendiri. Menyayangi anggota keluarga tanpa mengharapkan orang lain yang lebih dulu menyayangi kita. Keempat, jadilah orang yang terbuka, jujur, dan mau mendengar. Terbuka mengungkapkan perasaan kepada anggota keluarga dengan jujur dan siap menjadi pendengar saat anggota keluarga ingin mengungkapkan perasaannya. Kelima, bentuk komunikasi yang baik antar anggota keluarga, sehingga perbedaan karakter masing-masing tidak menjadi hambatan dalam membangun kerukunan keluarga. Dan yang keenam adalah menyambung tali silaturrahim. Sebab dengan silaturrahim berarti kita telah menyambungkan tali kasih sayang. 
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Artikel Islami Lainnya
Belajar Kearifan dari Binatang
Belajar Kearifan dari Binatang
13
Bagaimana seorang manusia sebagai hamba Allah mampu berkaca dan menarik hikmah dari perilaku hewan-hewan tersebut. Menyimpulnya menjadi nilai-nilai kebijaksanaan dan kebajikan.