Artikel Islami
Belajar Kearifan dari Binatang

Belajar Kearifan dari Binatang
Bagaimana seorang manusia sebagai hamba Allah mampu berkaca dan menarik hikmah dari perilaku hewan-hewan tersebut. Menyimpulnya menjadi nilai-nilai kebijaksanaan dan kebajikan.

Belajar untuk menjadi arif tak harus berguru kepada seorang filosof. Menjadi arif pun tak selalu dihabiskan dengan mengeja makna setiap masa. Tapi, menjadi arif dapat diraih dengan berkaca pada kehidupan bintang-bintang yang ada di sekitar kita.
 
Mungkin, kita telah banyak mendengar atau pun melihat langsung kehidupan binatang yang sarat hikmah. Dengan caranya, binatang memang mengajarkan pada manusia nilai-nilai kebajikan universal. Ia ada dan bertebaran dimana-mana. Syaratnya, manusia harus memiliki kepekaan dan kesadaran untuk mencerapnya.        
 
Kisah Penguin
Penguin bisa jadi adalah salah satu binatang yang paling penuh pengorbanan. Maksudnya, penguin sangat perhatian kepada anak-anaknya, bahkan rela mengorbankan nyawanya. Dramatis.
 
Penguin hidup di daerah kutub yang suhunya sangat dingin, dapat mencapai minus 40 derajat Celcius. Mengapa penguin dapat hidup di daerah kutub? Setelah diteliti, ternyata penguin mempunyai tubuh yang diselimuti lapisan lemak tebal dan mempunyai sistem pencernaan yang mampu memproses makanan dengan cepat. Dengan begitu, suhu tubuhnya dapat mencapai 40 derajat Celcius sehingga udara dingin di sekitarnya tidak berpengaruh.
 
Penguin sangat perhatian kepada anaknya. Ia mengerami telur selama musim dingin. Penguin betina hanya bertelur satu butir. Telur itu kemudian dierami oleh penguin jantan. Sedangkan, penguin betina kembali ke laut dan tidak kembali selama empat bulan.
 
Selama mengerami, penguin jantan harus menghadapi badai kutub dan tidak makan. Sebab, sumber makanan sangat jauh, akibat makin luasnya gletser pada musim dingin. Sementara itu, penguin jantan tidak dapat begitu saja meninggalkan telur walau hanya sekadar mencari makan.
 
Saking sayangnya pada calon anaknya itu, penguin jantan rela kehilangan setengah berat badannya karena tidak makan demi kelahiran anaknya. Sebuah pengorbanan yang sangat besar dari seorang ayah penguin.
 
Setelah empat bulan, barulah telur itu mulai menetas. Pada saat telur menetas, penguin betina tiba-tiba muncul, dan akan menghampiri anaknya. Waktu empat bulan selama pergi, dimanfaatkan penguin betina untuk mengumpulkan makanan. Kemudian, tugas pun beralih. Sekarang, giliran penguin betina mengurus anaknya.
 
Saat musim semi tiba, gletser mulai mencair. Lubang-lubang mulai bermunculan di tengah bongkahan es sehingga ada jalan menuju laut. Pasangan induk penguin ini pun mulai berburu mencari makanan.
 
Memberi makan si bayi adalah tugas yang berat. Kadang-kadang pasangan induk penguin tidak makan dalam waktu lama demi memberi makan sang anak. Saat udara sangat dingin, induk penguin menjaga anaknya dengan meletakkannya di atas kaki mereka, dan menghangatkannya dengan perut mereka.
 
Mengapa penguin bertelur pada musim dingin dan bukan musim panas? Salah satu alasannya adalah jika bertelur pada musim panas, perkembangan anaknya akan berlangsung pada musim dingin. Pada saat itu laut membeku sehingga semakin sulit mencari makanan.
 
Pribadi yang Tercerahkan
Dalam Quran pun, Allah menceritakan berbagai hewan yang terdapat dalam kisah para nabi. Seperti tongkat Nabi Musa yang menjadi ular, merpati mati yang hidup kembali, Qitmir anjing yang cerdik, lembu betina yang suci, pengorbanan ikan Nabi Nun, kisah unta betina, atau jasa burung pipit.
 
Cerita-cerita ini tentunya dikisahkan bukan tanpa makna. Ada pesan tersirat dari cerita-cerita itu. Bagaimana seorang manusia sebagai hamba Allah mampu berkaca dan menarik hikmah dari perilaku hewan-hewan tersebut. Menyimpulnya menjadi nilai-nilai kebijaksanaan dan kebajikan.
 
Bagaikan seorang filsuf, seseorang yang mampu melakukannya, pada hakikatnya ia telah mendidik dirinya sendiri. Mendapatkan wawasan yang luas terhadap kondisi kediriannya sebagai manusia, dan melihat melihat keajaiban dan absurditas kehidupan. Bagaikan kitab yang senantiasa terbuka, hidup ini menanti mereka untuk membuka dan menafakurinya.
 
Inilah yang dimaksud dengan pribadi yang tercerahkan. Individu yang sadar akan nilai kemanusiaannya, lingkungannya, budayanya, dan kondisi sosial masyarakat di sekitarnya. Sehingga ia memiliki tanggung jawab sosial dan berkontribusi dalam mengubah lingkungan yang tidak sehat. Merubah masyarakat yang rusak dan statis menjadi masyarakat yang baik dan dinamis, yang berikutnya dapat melahirkan tokoh-tokoh besar, serta menjadi dasar bagi munculnya peradaban yang lebih baik. Peradaban islami
 
Peka terhadap permasalahan umat, tak hanya berkutat pada masalah-masalahnya sendiri. Cerdas dalam melihat bentuk nyata masalah sebenarnya yang harus dihadapi. Misalnya, sekarang ini umat Islam lebih banyak dibuat berkonsentrasi terhadap masa lalu dari pada isu-isu masa kini dan masa depan. Bagaimana umat dibuat memikirkan masalah jilbab vs kerudung, kapan buka puasa, tarawih berjama’ah, dan masalah masalah lainnya. Sehingga umat tidak bertanya tentang masalah keadilan, pemerintahan yang bersih, pendidikan dan kesejahteraan buat masyarakat yang tidak mampu, peran negara dalam mengentaskan kemiskinan dan membasmi korupsi, dan lain-lain. Akhirnya agama jadi tergerus dan jadi urusan pribadi tiap individu.
 
Pribadi yang tercerahkan bukanlah individu yang dihasilkan dari lulusan universitas terkemuka. Ia juga bukanlah dari kalangan bangsawan, priyayi atau pemegang kekuasaan. Tapi, pribadi tercerahkan adalah mereka yang mengembangkan semua kualitas positif manusia secara seimbang dan proporsioanal. Kualitas itu dapat berupa cinta kasih, intelektual, keberanian, kejujuran atau kreatifitas.
 
Dan yang paling utama, pribadi tercerahkan adalah mereka yang mampu merangkai dengan tepat alasan penciptaannya sebagai abdi dan khalifah. Senantiasa menyadari keberadaan Allah dalam setiap aspek kehidupannya, dan memberikan karya nyata terbaik yang dapat ia lakukan bagi dunia.
 
Jadi, sungguh sangat banyak sekali i’tibar (pelajaran) yang dapat kita petik dari kehidupan binatang. Entah itu dari semut, lebah, burung dara, ayam, kucing, buaya, berang-berang, rayap, pinguin dan masih banyak lagi.
 
Belajar dari mereka agar kita tidak melupakan fitrah sebagai manusia. Makhluk yang diciptakan Allah sebagai makhluk mulia dan tertinggi kedudukannya. Makhluk pengemban amanah dari-Nya. Semoga kita senantiasa menyadari kenyataan penting itu. 

sumber foto : https://www.empireposter.de






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Artikel Islami Lainnya
Sederhana Itu Indah
Sederhana Itu Indah
14
Hidup sederhana adalah hidup tidak berlebihan. Tidak mempertontonkan kemewahan di khalayak ramai. Sederhana adalah bersikap secara proposional.