Artikel Islami
YUSA BIN NUN: Panglima Penakluk Baitul Maqdis

YUSA BIN NUN: Panglima Penakluk Baitul Maqdis
Walau dirundung sedih, Yusa berkenan menerima wasiat itu. Dia ber-azzam untuk mengajarkan isi taurat yang ia terima tanpa ditambah atau dikurangi. Nabi Musa semakin tenang. Lalu memanjatkan doa, beliau siap menemui-Nya.

“Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil): ‘Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi)nya di mana saja kamu kehendaki.’ Dan katakanlah: ‘Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu.’ Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. al-A’raf [7]: 161)
 
Di saat Nabi Musa yakin ajalnya sebentar lagi menjemput, beliau berdoa. Di dalam doanya beliau memohon agar Bani Israil segera dijumpakan dengan negeri yang Allah janjikan.
 
Tentunya tidak ada yang keberatan mengabulkan keinginan kekasihnya. Begitu pun dengan Allah. Dia menerima permintaan nabi-Nya dengan penuh Rahman dan Rahim-Nya. Nabi Musa pun tenang. Lalu beliau memanggil orang kepercayaannya (Yusa bin Nun) sebagai asisten pribadi yang Allah lebihkan dengan kemampuan berstrategi. Maka Nabi Musa pun berwasiat isi Kitab Taurat.
 
Walau dirundung sedih, Yusa berkenan menerima wasiat itu. Ia menyambutnya dengan semangat ber-tarbiyah. Dia ber-azzam untuk mengajarkan isi taurat yang ia terima tanpa ditambah atau dikurangi. Nabi Musa semakin tenang. Lalu ia memanjatkan doa pernyataan bahwa beliau siap menemui-Nya.
 
Nabi Musa akhirnya wafat meninggalkan umatnya (yang sebenarnya masih bingung karena masih dalam masa pengembaraan). Mereka merasa tegang dan sangat terpukul dengan kondisi yang ada (yang belum ideal), sementara Nabinya telah terlebih dahulu meninggalkan. Mampukah mereka menemukan solusi dan melanjutkan cita-cita perjuangan? Atau sebaliknya, menjadi bangsa yang bercera-berai bagai buih di lautan tak bertuan?
 
Kematangan pola pikir dan mental Bani Israil sedang dipertaruhkan. Berlanjutkah estafet kepemimpinan risalah Nabi Musa atau berhenti dalam keadaan yang tak pasti? Di saat demikian, tidak sedikit orang yang berspekulasi. Diantaranya adalah para penjaga Nabi Musa. Oleh karena Nabi Musa meninggal mendadak (tidak didahului oleh sakit sedangkan Yusa bin Nun adalah orang terakhir yang ditemuinya), mereka menduga hal buruk terhadapnya. Masya Allah, Bani Israil berada dalam pusaran dinamika.
 
Yusa bin Nun menangkap hal itu. Ia segera melakukan komunikasi intensif, mencari jalan keluar agar prasangka tidak menjadi acuan kebenaran. Beliau (yang merasa terfitnah) meminta waktu tiga hari mencari bukti bahwa dirinya tidaklah demikian. Dan selama tiga hari tersebut, ia senantiasa bermunajat kepada Allah agar berkenan membuka pintu kebenaran, bahwa Nabi Musa meninggal karena sudah waktunya dan bukanlah karena ada pihak yang sengaja mengambil alih kepemimpinannya.
 
Allah Maha Mengetahui kebutuhan hamba-Nya. Dan Dia Mengetahui waktu serta momen tepat merealisasikan-Nya. Di malam yang gelap gulita, Allah menghadirkan mimpi dalam nyenyak tidur para penjaga Nabi Musa (yang memiliki prasangka buruk kepada Yusa). Ya, mimpi yang berisi informasi bahwa Nabi Musa meninggal karena Allah berkenan memanggilnya (tanpa ada penyebab dari pihak lain).
 
Para penjaga Nabi Musa terperanjat. Mereka menginformasikan satu sama lain. Dan pernyataan mereka saling menguatkan bahwa Yusa bin Nun tidak bersalah. Lantas, apakah isi pertemuan antara Nabi Musa dengan Yusa saat itu?
 
Seiring pemulihan nama baik Yusa dan interaksi di antara mereka, para penjaga semakin terbelalak bahwa Yusa bin Nun adalah orang yang tepat. Tepat untuk apa? Tepat untuk melanjutkan cita-cita yang selama ini diperjuangkan para kakek moyangnya, yaitu menuju negeri yang Allah janjikan.
 
Akhirnya, mereka bersepakat untuk mengangkat Yusa menjadi pemimpinnya melanjutkan Nabi Musa. Dan atas wasilah doa Nabi Musa serta kecerdikan Yusa bin Nun maka Bani Israil sampai di negeri yang dijanjikan, Baitul Maqdis. Di sana, Yusa bin Nun membuat kebijakan sesuai petunjuk-Nya. Wallahu a’lam.

sumber foto: versesofuniverse.blogspot.co.id
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Artikel Islami Lainnya
Agar Istiqamah dalam Keimanan
Agar Istiqamah dalam Keimanan
14
Dengan shaum kita menekan nafsu dan membentengi diri dari maksiat, dan pada saat bersamaan kita memaksa diri untuk berbuat taat. Ketika shaum, jangankan tertinggal yang fardhu, terluput dari yang sunnat saja hati bisa menyesal.