Artikel Islami
Jadilah Muslimah Tangguh

Jadilah Muslimah Tangguh
Ketika Islam hadir, semuanya berubah. Perempuan diangkat derajatnya, dimuliakan, dan tidak ada lagi diskriminasi. Perempuan dihormati, tidak boleh diwariskan, tidak halal ditahan dengan paksa, kaum laki-laki diperintah untuk berbuat baik kepada mereka,

Masih banyak yang beranggapan jika perempuan adalah makhluk lemah. Selalu berurai air mata, merepotkan, dan masih banyak lagi. Anggapan tersebut keliru. Tidak sepantasnya manusia yang satu merendahkan manusia yang lain karena kelebihannya. Ingatlah, bahwa kita semua dilahirkan dari perempuan-perempuan yang kuat, dan kekuatan ini tidak dimiliki oleh laki-laki.
 
Ingatlah ketika sebelum Islam masuk, perempuan begitu direndahkan dan dimanfaatkan sebagai pelampiasan hawa nafsu. Orang-orang Yunani menganggap perempuan sebagai sarana kesenangan semata. Orang-orang Romawi membolehkan seorang ayah untuk menjual istri dan anak perempuannya. Di beberapa negara, perempuan tidak diperbolehkan memiliki harta benda. Bahkan orang-orang Arab jahiliyah pun lazim mengubur anak-anak perempuan mereka hidup-hidup, hanya karena ia seorang perempuan!
 
Ketika Islam hadir, semuanya berubah. Perempuan diangkat derajatnya, dimuliakan, dan tidak ada lagi diskriminasi.  Perempuan dihormati, tidak boleh diwariskan, tidak halal ditahan dengan paksa, kaum laki-laki diperintah untuk berbuat baik kepada mereka, dan para suami dituntut untuk memperlakukan mereka dengan makruf serta sabar dengan akhlak mereka.
 
Sayangnya, saat ini orang-orang Barat menuduh Islam adalah agama yang tidak menghargai perempuan, memasung kebebasan, dan menjadikan perempuan terbelakang. Mengatasnamakan isu kesetaraan gender dan emansipasi perempuan, mereka rela menginjak-injak harga diri perempuan yang selama ini dijaga oleh Islam. Lebih disayangkan lagi ketika tidak sedikit yang mengaku muslim, tapi mendukung dan ikut memperjuangkan pemikiran keliru tersebut.
 
Muslimah Itu Istimewa
Allah SWT menciptakan perempuan dengan kodratnya sebagai perempuan. Ia dikaruniakan berbagai kelebihan yang tidak dimiliki laki-laki. Tujuannya agar dapat menjalankan tugas dan peran dengan baik. Islam juga memuliakan perempuan dengan memberi tugas utama sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Hal ini tentu tidak boleh dianggap sepele, karena tugas tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan.
 
Salah satu keistimewaan perempuan terdapat pada hadis populer berikut ini: Dari Abu Hurairah beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah saw dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi saw menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi saw menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi saw menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari dan Muslim)
 
Imam al-Qurthubi menjelaskan, “Hadis tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi saw menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya.
 
Mandiri dan Memandirikan
Kondisi zaman yang serba maju ini, menuntut pentingnya seorang muslimah untuk terus menggali potensi yang dimiliki. Ia harus bisa mandiri dalam artian mampu mempertahankan dirinya untuk tetap berdaya. Muslimah harus mandiri, tidak jadi beban orang lain. Tidak hanya mandiri secara finansial (ekonomi), namun yang lebih penting adalah mandiri dalam kuatnya keimanan kepada Allah SWT.
 
Muslimah yang mandiri keimanannya akan mampu mengarungi kehidupan dengan kukuh. Keimanannya tidak akan tergadaikan hanya untuk kepuasan sesaat. Dia akan berpegang teguh dengan aturan Allah, di mana pun dan dalam kondisi apa pun. Karena dia senantiasa merasa ditatap dan diawasi oleh Allah SWT.
 
Muslimah yang mandiri dan memiliki kemampuan bersosialisasi dengan baik akan memberikan manfaat ganda dalam kehidupannya. Di rumahnya, ia menjadi seorang istri dan ibu yang baik bagi suami dan anak-anak. Ia akan mengajarkan banyak hal kepada anak-anaknya. Di lingkungan masyarakat, ia mampu berperan serta memberikan manfaat dan memberdayakan orang-orang di sekitarnya yang masih belum berdaya.
 
Beberapa contoh peran muslimah yang turut andil dalam pemberdayaan masyarakat adalah Tutik Sri Susilowati. Ia biasa dipanggil Umi Tutik. Warga Petukangan, Jakarta Selatan ini merupakan satu dari sekian banyak muslimah yang beruntung. Selain sebagai ibu rumah tangga, aktivitasnya saat ini membina masyarakat untuk melakukan proses daur ulang sampah. Alhasil sampah-sampah plastik maupun kain yang selama ini menjadi masalah kebersihan masyarakat, kini menjadi tambang emas bagi warga di Kelurahan Petukangan.
 
Melalui Kelompok Keswadayaan Masyarakat (KSM) Nyiur kelurahan Petukangan, Umi Tuti tidak sekadar mengajari bagaimana warga bisa menyulap sampah menjadi barang berguna. Tetapi sekaligus juga bagaimana hasil akhir dari proses daur ulang sampah tersebut bisa menghasilkan uang.
 
Jadi, yang terpenting bagi seorang muslimah adalah menjadi muslimah yang kuat dan tangguh. Yakni muslimah yang menghadapi berbagai kesulitan hidup dengan selalu bersandar kepada Allah. Keyakinannya kuat dengan pertolongan Allah, sehingga ia selalu optimistis menjalani kehidupan.
 
Namun, muslimah kuat itu bukan berarti tidak membutuhkan teman untuk berbagi. Berbekal keyakinan yang kuat, ia menjadikan teman atau apa pun hanya sebagai syariat datangnya pertolongan Allah. Ia pun senantiasa mengembalikan hakikat kejadian yang dialami atas izin Allah. Wallahu a’lam bishawab.
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Artikel Islami Lainnya
Agar Istiqamah dalam Keimanan
Agar Istiqamah dalam Keimanan
14
Dengan shaum kita menekan nafsu dan membentengi diri dari maksiat, dan pada saat bersamaan kita memaksa diri untuk berbuat taat. Ketika shaum, jangankan tertinggal yang fardhu, terluput dari yang sunnat saja hati bisa menyesal.