Artikel Islami
Agar Istiqamah dalam Keimanan

Agar Istiqamah dalam Keimanan
Dengan shaum kita menekan nafsu dan membentengi diri dari maksiat, dan pada saat bersamaan kita memaksa diri untuk berbuat taat. Ketika shaum, jangankan tertinggal yang fardhu, terluput dari yang sunnat saja hati bisa menyesal.

Teteh, singkat saja pertanyaan saya, bagaimana menjaga hati agar bisa istiqamah dalam kebaikan? Sebab, inilah masalah terbesar saya. Beberapa kali saya terperosok pada perbuatan maksiat. Dan, saya ingin bangkit lagi menjadi hamba Allah yang lurus. Tapi memang tidak mudah. Mohon solusinya. Terima kasih.
+62853 17xx xxxx

Jawab:
Saudaraku yang dirahmati Allah, turun naiknya keimanan adalah hal yang manusiawi. Siapapun pernah mengalami, kecuali mereka yang dijaga oleh Allah Azza wa Jalla, semisal para nabi. Maka, jangan putus asa apabila iman sedang turun atau terjerembab di dalam kemaksiatan. Jika hal ini terjadi, segeralah kembali kepada Allah, bertobatlah, perbanyak istighfar. Sesungguhnya, Dialah at-Tawwab, Zat Penerima Tobat, al-‘Afuww, Zat Yang Maha Pemaaf, dan juga al-Ghaffur, Zat Yang Maha Pengampun.

Setelah bertobat dan memperbanyak istighfar, ada sejumlah hal yang bisa kita lakukan.

Pertama, perbanyak doa kepada-Nya, mohonlah agar kita diberi kekuatan iman dan teguh keyakinan. Ada banyak doa dari al-Quran maupun al-Hadits yang bisa kita amalkan. Misalnya, “Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da `idz hadaitanaa wa hablanaa mil-ladunka rahmah; innaka anntal-wahhaab. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).” (QS Ali ‘Imrân[3]:8)

Atau, kita bisa mendawamkan doa, “Allaahumma a-‘innii ’alaa dzikrika wa syukrika wa husni ’ibaadatik. Ya Allah, tolonglah aku untuk (senantiasa) berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Hakim, dan An-Nasa’i).

Bisa juga mendawamkan doa, “Allaahumma musharrafal quluub, sharraf quluubanaa ‘alaa thaa’atik. Ya Allah, Zat Yang Maha Memalingkan hati, palingkan hati kami untuk taat kepada-Mu.” (HR Muslim). Juga, “Yaa muqalllibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinik. Ya Allah, Zat Yang Maha Menggerakkan hati, tetapkanlah hatiku dalam agama-Mu.” (HR At-Tirmidzi, Ahmad, dan Al-Hakim)

Kedua, perbanyak ibadah, terkhusus salat malam, shaum, dan tilawah Al-Quran. Terkhusus untuk shaum, inilah yang paling cepat menimbulkan efek perbaikan pada diri. Mengapa demikian? Sebab, dengan shaum kita menekan nafsu dan membentengi diri dari maksiat, dan pada saat bersamaan kita memaksa diri untuk berbuat taat. Ketika shaum, jangankan tertinggal yang fardhu, terluput dari yang sunnat saja hati bisa menyesal. Perkuat pula salat malam dan tilawah. Usahakan tidak berlalu hari, kecuali ada shalat malam dan tilawah Al-Quran di dalamnya.

Ketiga, perbanyak mengingat kematian, dawamkan zikrul maut. Ingatan akan kematian akan menahan kita dari maksiat, atau setidaknya dari yang sia-sia. Kita takut saat sedang maksiat, Malaikat Maut mencabut nyawa kita.

Keempat, kalau sudah konsisten, jaga keistiqamahan dengan memilih pergaulan yang baik. Jadikan orang-orang saleh, para pecinta Al-Quran, pecinta salat malam, sebagai teman, bergaul bersama mereka. Dan, jauhi lingkungan yang buruk, teman-teman yang gemar maksiat. Sesungguhnya, lingkungan yang baik akan mengondisikan kita untuk istiqamah beramal saleh.

Kelima, pastikan jangan ada sedikit pun makanan, minuman, atau harta haram yang masuk ke tubuh kita. Sesungguhnya, barang haram (baik dari zatnya maupun cara mendapatkannya) yang mengalir di dalam diri akan menghalangi ijabahnya doa-doa dan menghijab kita dari cahaya hidayah. Sehebat apapun usaha kita dalam memperbaiki diri, itu semua tidak akan berarti apabila di dalam tubuh kita masih mengalir harta haram. ***
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Artikel Islami Lainnya
Fakir Miskin, Prioritas Utama Penerima Zakat
Fakir Miskin, Prioritas Utama Penerima Zakat
10
Di antara yang delapan ini, yang pertama disebutkan adalah fakir dan miskin, sehingga kami berpikiran bahwa yang menjadi prioritas adalah fakir miskin.