Artikel Muslimah
Adakah Empati di Hatimu?

Adakah Empati di Hatimu?
Sikap empati menjadi sesuatu yang sangat penting untuk hidup dalam sanubari kita. Karena berempati menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang’ masih hidup’, yang berperasaan, dan akhirnya menuntun kita menjadi manusia yang bijaksana dan bermanfaat bagai sesama. Wallahu’alam.

Oleh: Betty Y. Sundari*
 
Seorang ibu tergesa-gesa mendatangi supermarket yang baru dibuka pagi itu. Entah disadari atau tidak, semua orang memandangnya dengan penuh keheranan dan iba. Karena dibelakangnya, seorang anak kecil terseret-seret berlari dengan makanan ringan berjatuhan di tangannya.

Rupanya, sang anak berusaha menyamai langkah ibunya yang sibuk mengejar potongan harga. Ibu itu tak mau tahu kalau anaknya belum selesai menghabiskan makanan.
 
Terkadang kita menuntut atau mengejar sesuatu tanpa mempertimbangkan perasaan dan keadaan orang lain yang ada di sekeliling. Bahkan, anggota keluarga sendiri sekali pun. Semua terlewatkan demi mengejar keinginan dan kepuasan sendiri.
 
Tidaklah berlebihan jika kemudian keluar istilah manusia-manusia robot sudah banyak berseliweran diantara kita. Secara fisik dia adalah seorang manusia. Namun, hatinya sedingin dan sekaku robot. Tak mampu berempati. Merasakan bagaimana suasana hati orang lain yang berada di sekelilingnya.
 
Dari Abu Hamzah bin Malik, Rasulullah saw bersabda: “Tidak beriman salah seorang diantara kalian sampai ia mencintai bagian saudaranya seperti apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri. “ (HR. Bukhari & Muslim).
 
Islam mengajarkan agar kaumnya memiliki jiwa empati terhadap sesama dan lingkungan sekitarnya. Karena dengan membangun sikap empati akan menumbuhkan kasih sayang. Menjadi lebih peka terhadap penderitaan orang lain.
 
Empati adalah kemampuan seseorang untuk mengenali dan merasakan perasaan orang lain. Seseorang yang berempati akan mampu mengetahui pikiran dan suasana hati atau perasaan orang lain.
 
Empati dapat pula digambarkan ketika kita becermin pada dua kaca dalam waktu bersamaan.  Kaca yang kita pakai adalah kaca cermin untuk melihat diri sendiri. Satunya lagi adalah kaca jendela dimana kita dapat melihat orang lain yang ada di luar sana.
 
Jadi saat diri kita bercermin, selain mampu melihat gambaran atau keadaan diri, juga mampu melihat kondisi orang lain yang ada di luar sana. Otomatis sikap ini sangat mulia sekali, karena mampu menghindarkan diri dari sikap angkuh dan egois.
 
Barangsiapa yang tidak peduli dengan nasib urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan kaum muslimin.” (HR. Thabrani).
 
Beberapa hal yang dapat menumbuhkan sikap empati, diantaranya:

  1. Kenali perasaan diri sendiri. Bagaimana perasaan sedih, kecewa, bahagia, dan lain-lain.
  2. Sediakan waktu untuk menyendiri, memikirkan apa-apa yang sudah dilakukan atau telah terjadi.
  3. Banyak bersilaturahim/bergaul, agar kita mampu mengenal dan menyelami beragam karakter manusia.
  4. Mau mendengarkan.
  5. Membayangkan seandainya “dia” adalah “aku”.
  6. Berlatih dan berbagi.
 
Sikap empati menjadi sesuatu yang sangat penting untuk hidup dalam sanubari kita. Karena berempati menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang’ masih hidup’, yang berperasaan, dan akhirnya menuntun kita menjadi manusia yang bijaksana dan bermanfaat bagai sesama. Wallahu’alam.[swady]
 
*Aktivis Muslimah Pesantren Daarut Tauhiid Bandung






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Artikel Muslimah Lainnya
Merahasiakan Aib Keluarga
Merahasiakan Aib Keluarga
11
Seorang Muslimah harus menghiasi akhlaknya dengan keahlian untuk menutupi cacat (aib) orang lain. Ketidaksukaannya untuk mengorek-ngorek aib dan kekurangan orang lain, apalagi menyebarkannya, merupakan buah dari keimanannya terhadap Allah SWT.