Artikel Muslimah
Meyda Sefira: Ramadan sebagai Ajang Perubahan

Meyda Sefira: Ramadan sebagai Ajang Perubahan
Meyda Sefira, artis pendatang baru yang melejit lewat film ‘Ketika Cinta Bertasbih’ ini mengungkapkan keriduannya pada bulan Ramadan. Ditemui di kediaman barunya di daerah

Ada beberapa cara yang biasa dilakukan saat menyambut datangnya bulan Ramadan. Mulai dari persiapan ruhiyah, jasadiyah, maliyah, dan fikriyah. Persiapan ruhiyah bisa dilakukan dengan memperbanyak saum sunnah, qiyamullail, dan tilawah. Persiapan jasadiyah dapat dilakukan dengan memperbanyak olahraga, sedangkan persiapan amaliyah dapat dilakukan dengan cara mempersiapkan harta agar dapat beramal lebih banyak dari bulan sebelumnya.
 
Agar ibadah menjadi lebih bermakna, terlebih dahulu kita harus mempersiapkan aspek fikriyah dengan cara memperbanyak ilmu pengetahuan seputar Ramadan dengan membaca, menghadiri majelis taklim, dan lainnya.
 
Alhamdulillah, saat ini kita telah dipertemukan kembali dengan Ramadan. Bulan penuh keberkahan, bulan penuh kasih sayang, bulan berbagi, dan bulan penuh ampunan kini telah hadir menyapa kita. Bulan yang suasananya tak akan bisa ditemukan pada bulan lainnya. Tak salah jika kehadirannya selalu dirindukan setiap tahunnya. Kerinduan yang sama juga dirasakan artis cantik yang satu ini.
 
Meyda Sefira, artis pendatang baru yang melejit lewat film ‘Ketika Cinta Bertasbih’ ini mengungkapkan keriduannya pada bulan Ramadan. Ditemui di kediaman barunya di daerah Antapani, Bandung, Meyda berbagi seputar hikmah di bulan Ramadan dan berbagi kepada sesama.
 
Ramadan tak Sekadar Target
Sebelum Ramadan, tak sedikit dari kita mulai merancang beberapa target. Mulai dari target banyaknya tilawah, jumlah qiyamullail, jumlah sedekah harta per hari, dan lainnya. Tak mau ketinggalan, Meyda juga punya beberapa targetan saat ramadan tahun ini. “Target, ya adalah beberapa target, tapi gak perlu disebutin yang pasti lebih baik dari Ramadan tahun kemarin,” ujar anak ke-3 dari lima bersaudara ini.
 
Menurut Meyda, yang terpenting saat Ramadan itu tidak hanya penentuan target yang sedemikian rupa. Yang terpenting adalah adanya perubahan pada diri kita.  “Intinya, sebenarnya Ramadan itu, selain target-target tersebut ada perubahan yang dilakukan setelah kita melalui Ramadan. Lebih kepada adanya peningkatan kualitas diri,” katanya.
 
“Ramadan itu sebenarnya seperti training 30 hari. Dan menurut penelitian, 30 hari itu waktu yang cukup untuk menjadikan sebuah kegiatan yang dilakukan selama 30 hari tersebut menjadi sebuah kebiasaan. Jadi, mudah-mudahan jika Ramadannya dilakukan semaksimal mungkin baik ibadahnya, kegiatan-kegiatan positifnya, mudah-mudahan menjadi habit, setidaknya ada peningkatan daripada sebelum Ramadan dilakukan,” tambah Meyda.
 
Agar semangat ramadan tetap terjaga, Meyda punya trik khusus supaya ibadah yang biasa dilakukan selama Ramadan dapat dilakukan pula setelah Ramadan. Menurut  Meyda, semangat Ramadan dapat dijaga dengan beberapa aktifitas seperti saum sunnah Senin-Kamis, ayamul bidh, atau saum daud. Karena keimanan seseorang itu naik-turun, agar tidak jomplang dengan Ramadan, tilawah al-Quran juga harus tetap dijaga.
 
Kesibukannya sebagai artis sudah pasti menyita waktunya. Apalagi kini Meyda telah menjadi seorang istri. Meyda tentu tidak ingin kesibukannya sebagai artis mengalahkan kewajibannya sebagai seorang hamba dan istri.
 
“Ramadan biasanyakan syuting, mudah-mudahan syuting kali ini tidak menyita waktu saya untuk beribadah. Kadang-kadangkan untuk beribadah itu hanya sisa waktunya saja. Harapan saya bisa balance antara bekerja dengan beribadah,” tambah Meyda.
 
Berbagi Mengikis Keegoisan
Ramadan selalu identik dengan berbagi. Tak sedikit orang berbondong-bondong untuk membagikan harta yang dimilikinya. Menurut Meyda, berbagi itu mengajarkan manusia untuk tidak egois. Termasuk mengingatkan kita bahwa masih banyak orang yang membutuhkan bantuan sesamanya, bahkan suatu saat kita pun pasti akan membutuhkan bantuan orang lain.
 
“Allah memberikannya (harta) kepada kita, disitu juga ada hak orang lain yang harus kita tunaikan. Misalnya zakat mal 2,5%, infak, pada intinya mengajarkan kita untuk tidak egois karena disana ada hak orang lain juga, “ ujar Meyda.
 
“Tanpa melihat dari kacamata agama, sebenarnya manusia itukan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Bisa jadi kita hari ini tidak membutuhkan orang lain, tapi kalau kita membantu orang lain sekarang, mungkin bukan orang ini yang akan membantu kita, bisa jadi orang lain atau kitanya dipermudah,” tambah Meyda.
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Artikel Muslimah Lainnya
Lisan yang Cantik
Lisan yang Cantik
21
Muslimah yang baik akan meninggalkan perkataan yang tidak bermanfaat, termasuk ghibah. Selalu waspada dari tergelincirnya lidah pada perkara ghibah yang sangat dibenci oleh Allah. Orang yang berghibah ibarat memakan daging bangkai saudaranya sendiri.
Galeri
Dari Kecil Mencintai NKRI

Belajar mengajak anak bergabung dalam event besar, agar

Antri Toilet

Jamaah rapi berbaris antri untuk menggunakan toilet por

Kompetesi Roket Air Regional (KRAR) Jabar 2016

Kompetesi Roket Air Regional (KRAR) Jabar 2016 diadakan