Artikel Muslimah
Pelajaran dari Ibadah Umrah

Pelajaran dari Ibadah Umrah
Hal terpenting sebenarnya bukan berangkat tidaknya kita ke Tanah Suci. Hal terpenting adalah bagaimana agar keinginan untuk berhaji atau umrah, bisa membawa perbaikan bagi keimanan dan amal saleh kita

Siapa pun yang merindukan undangan dari Allah untuk berhaji atau umrah, maka dia termasuk orang beriman. Namun, untuk bisa sampai ke Baitullah, seringkali kita dihadapkan pada banyak ujian yang menuntut kesabaran. Ada yang sudah bekerja keras mengumpulkan biaya untuk haji atau umrah, tetapi uang yang dikumpulkan selalu tidak cukup karena terpakai untuk membiayai pengobatan orangtua, biaya sekolah anak, dan lainnya.

Pada sisi lain, ada orang yang sudah mampu secara fisik, materi, dan kondisinya pun memungkinkannya untuk pergi ke Baitullah, tetapi belum berniat untuk menunaikan rukun Islam kelima itu, sehingga tidak kunjung berangkat. Kelompok ini sungguh telah mengundang kemurkaan Allah SWT. “Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (QS. Ali ‘Imrân [3]: 97).

Hal terpenting sebenarnya bukan berangkat tidaknya kita ke Tanah Suci. Hal terpenting adalah bagaimana agar keinginan untuk berhaji atau umrah, bisa membawa perbaikan bagi keimanan dan amal saleh kita. Ada orang yang merindukan berangkat ke Tanah Suci, dan hal itu sudah membuat perbaikan pada dirinya. Orang semacam ini boleh dikatakan sebagai orang beruntung.

Tentu saja, yang lebih beruntung lagi adalah orang yang dapat berangkat umrah setiap tahun (sesuai dengan doa ketika Thawaf Wada’). Ini karena dari satu umrah ke umrah yang lainnya adalah penggugur dosa. Orang yang mendapat kesempatan seperti itu, berarti dia mendapat sarana penggugur dosa setiap tahunnya.

Maka, bagi siapa pun yang belum bisa berangkat, bersabarlah! Kita persiapkan saja dulu ilmunya sampai benar-benar paham. Mudah-mudahan suatu saat Allah Ta’ala mengundang kita ke sana. Itu lebih baik daripada yang pergi umrah tetapi tidak karena Allah Ta’ala (tidak ikhlas).

Di antara mereka yang berangkat umrah pun, ada berbagai niat dan keinginan yang dipendam. Ada yang benar-benar ikhlas memunaikan ibadah, ada yang ingin berdoa agar mendapat jodoh, naik pangkat, sembuh dari sakit, dilunaskan utang, ada yang ingin refreshing karena sedang broken heart, dan sebagainya. Kebanyakan dari mereka menginginkan sesuatu. Ini tidak salah. Namun, ada satu yang harus dipegang bahwa tujuan utama kita adalah beribadah dan menghapus tumpukan dosa. Kita camkan ada ampunan Allah di antara dua umrah yang kita lakukan. Artinya, melaksanakan umrah jangan semata-mata ingin minta jodoh, atau lainnya. Sebelum minta jodoh, minta ampunlah dulu. Bukankah Allah Ta’ala sudah berjanji jika dosa telah diampuni, permintaan apa pun akan dikabulkan?

Apabila kita datang kepada Allah dengan membawa banyak dosa, rasanya tidak pantas jika kita banyak meminta. Maka, ketika melaksanakan umrah, hal pertama yang sebaiknya kita minta adalah ampuna. Yaitu tobat dengan sebenar-benarnya tobat. Akan tetapi, jika sudah meminta ampun belum dikabul juga, hal itu menjadi bukti akan hadirnya kasih sayang Allah SWT kepada kita. Allah lebih mengetahui apa yang kita butuhkan dan apa yang terbaik bagi kita. Boleh jadi apa yang kita inginkan, menurut Allah itu tidak baik bagi kita.

***

Saudaraku, ada sejumlah pelajaran yang dapat kita ambil dari prosesi ibadah umrah, antara lain:

Pertama, yakinlah undangan berhaji dan umrah itu datangnya dari Allah SWT. Undangan itu pun bukan sekadar undangan. Maka, yakinlah kepada Allah Yang Mahakaya, yang telah memberikan kesempatan kepada siapa pun yang ingin diundang.

Kedua, ketika melihat Baitullah, hati menjadi terbuka untuk melihat tujuan hidup kita. Sejak Nabi Adam hingga umat Nabi Muhammad saw, manusia terbagi menjadi dua golongan, yaitu golongan yang berada dalam gelap gulita dan golongan yang bercahaya. Orang yang berada dalam kegelapan adalah orang yang tidak memiliki iman. Kalau ingin menjadi bagian dari golongan orang yang bercahaya, kita harus istiqamah dengan terus membaca ayat-ayat Allah dan istiqamah ke majelis ilmu.

Ketiga, kepulangan dari haji atau umrah berbeda dengan kepulangan tempat lain. Kalau pulang dari perjalanan biasa (bukan haji atau umrah) oleh-olehnya hanya sekitar gantungan kunci atau cinderamata yang tidak membuat menambah keimanan. Akan tetapi, kalau pulang dari perjalanan haji atau umrah, selain oleh-oleh cinderamata, kita juga mendapatkan hikmah serta ilmu yang dapat menambah keyakinan kita akan kekuasaan Allah.

Keempat, hal pertama kita minta kepada Allah saat berhaji atau umrah janganlah minta jodoh atau minta rezeki. Hal pertama harus kita minta adalah ampunan atas dosa-dosa. Dosa yang pertama harus ditobati adalah dosa kepada Allah. Boleh jadi, kita tanpa sadar melakukan syirik kepada-Nya, baik yang terang-terangan (seperti pergi ke dukun atau paranormal) maupun yang khafi/tersembunyi (seperti riya dan sombong).

Dosa kedua adalah dosa kepada Rasulullah saw. Memohonlah kepada Allah SWT agar iman kita kepada Rasulullah dikuatkan. Kita seringkali mengidolakan yang lain selain beliau. Kita masih lebih kagum kepada orang-orang seperti Aristoteles atau Einstein. Kita jarang kagum kepada Rasulullah saw, padahal itu tuntunan Allah.

Dosa yang ketiga adalah kepada orangtua kita, kepada suami, kepada saudara, teman-teman sampai dosa kita kepada hewan-hewan kecil atau tanaman yang semuanya adalah makhluk ciptaan Allah. 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Artikel Muslimah Lainnya
Muslimah, Anugerah Terindah bagi Dunia
Muslimah, Anugerah Terindah bagi Dunia
22
Tentunya, siapa pun kita, laki-laki atau perempuan, merupakan salah satu bentuk kasih sayang dari Rabb kepada kita sebagai hamba-Nya.