Artikel Muslimah
Merahasiakan Aib Keluarga

Merahasiakan Aib Keluarga
Menyebarnya aib seseorang secara luas di masyarakat, bukanlah hal yang luar biasa. Penyebarannya sangat cepat karena menyebar dari mulut ke mulut, bahkan melalui media cetak

Seluruh umatku mendapat ampunan kecuali bagi orang yang secara terang-terangan melakukan dosa. Dan yang termasuk melakukan dosa dengan terang-terangan itu adalah seseorang yang melakukan amalan pada suatu malam hingga paginya Allah menutupinya (rahasianya), kemudian tiba-tiba dia sendiri membuka (rahasianya) dan berkata, ’Hai Fulan! Tadi malam saya melakukan perbuatan ini dan itu’. Dia sengaja memamerkan sesuatu yang telah Allah tutupi.” (Muttafaq ’Alaih)
 
Sudah merupakan fitrah, manusia memiliki kekurangan, pernah berbuat salah dan dosa. Dan merupakan fitrah pula, bila kita merasa malu kalau kekurangan dan aib itu diketahui orang lain—terlebih bila menyebar luas di masyarakat.

Menyebarnya aib seseorang secara luas di masyarakat, bukanlah hal yang luar biasa. Penyebarannya sangat cepat karena menyebar dari mulut ke mulut, bahkan melalui media cetak dan elektronik. Kita mendengar informasi tentang aib seseorang dengan mudahnya. Saat ini, hampir semua stasiun televisi setiap hari menayangkan  acara yang mengupas kehidupan pribadi para selebritas; yang berperilaku baik atau buruk. Dan yang membuat hati kita miris, sebagian besar penikmat acara-acara seperti itu adalah kaum Muslimah.

Seorang Muslimah harus menghiasi akhlaknya dengan keahlian untuk menutupi cacat (aib) orang lain. Ketidaksukaannya untuk mengorek-ngorek aib dan kekurangan orang lain, apalagi menyebarkannya, merupakan buah dari keimanannya terhadap Allah SWT. Menjaga aib orang lain merupakan akhlak dan etika yang harus senantiasa dijaga. Pelanggaran terhadap etika ini akan menimbulkan kerusakan di masyarakat dan menghadirkan azab Allah di dunia dan akhirat.

Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS an-Nur[24]: 19).

Seorang Muslimah seharusnya berhati-hati terhadap gosip karena orang yang menyebarkan berita keji, gosip, apalagi fitnah dalam masyarakat akan mendapat dosa sebagaimana pelaku kejahatan itu. Sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Yang berbuat keji dan yang menyiarkan kekejian itu berada dalam keadaan sama-sama berdosa.” (HR Bukhari).

Menutupi aib dan merasa malu menyebarkannya dapat mengangkat derajat Muslimah dari sifat rendah, hina, dan akan mengangkat kemulian akhlaknya. Selain itu, jika kita menutupi rahasia orang lain maka Allah akan menutupi rahasia kita di akhirat kelak. Muslimah yang hatinya dipenuhi cahaya Islam akan menjauhi hal-hal yang mencelakakan dirinya. Dia berusaha menjaga lisannya dari ucapan yang berbau maksiat dan menjaga pendengarannya dari informasi yang sia-sia dan menyesatkan.

Sebenarnya, bila kita ingin memperbaiki kekurangan orang lain, tidak perlu dengan cara menyelidiki, mencela, apalagi menceritakan dan menyebarluaskan kekurangannya kepada orang lain. Cara yang paling tepat adalah mengajaknya kepada kebenaran dengan nasihat yang baik, menuntunnya kepada ketaatan, dan mencegahnya dari kemungkaran.

Allah SWT melarang manusia melakukan tajassus (membuat atau menyebarkan isu yang merusak), mencari-cari kesalahan orang lain, menyelidiki dan membeberkan aibnya karena akan menimbulkan kerusakan di mayarakat. Sahabat Muslimah, mari kita jaga kemuliaan akhlak kita dengan cara menutupi aib diri dan orang lain, serta bersikap amanah. (ak)
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Artikel Muslimah Lainnya
Dendam, Selingkuh, dan Ingin Cerai
Dendam, Selingkuh, dan Ingin Cerai
17
Jadi, sambil bertobat karena pernah melakukan dosa besar, mohonkan pula kepada Allah Ta’ala agar istri diberi hidayah, dilunakkan hatinya, dan diberi kesadaran akan kesalahannya.