Artikel Muslimah
Belajar dari Keluarga Nabi Ibrahim

Belajar dari Keluarga Nabi Ibrahim
Bagi muslimah saat ini, tentu bentuk ujiannya akan berbeda. Terlepas dari itu semua, sebagai anak kita memang harus lebih taat kepada Allah dibandingkan dengan kepatuhan kepada orang tua.

Sudah berapa kali ya kita merayakan Hari Raya Idul Kurban? Wah, mungkin sebanyak usia kita sekarang. Namun pernahkan kita mencoba mencari insight atau hikmah dari balik Hari Raya ini? Meski sudah agak lewat, tentu tidak ada salahnya kita mengenangkan kembali kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya.
 
Cerita bermula ketika lahirnya Nabi Ismail AS, putra Nabi Ibrahim AS yang sudah lama dinanti. Nabi Ismail AS adalah seorang anak yang telah disiapkan untuk patuh dan tunduk pada perintah Allah. Bayangkan saja, ketika beliau masih sangat kecil pun tidak menolak untuk disembelih.
 
Barangkali perbandingan kondisi Nabi Ismail pada zaman sekarang sudah berbeda. Seperti halnya Siti Hajar masa kini, konteksnya juga berbeda dengan Siti Hajar masa dulu. Begitu pun kondisi Nabi Ismail pastinya berbeda dengan kondisi anak-anak saat ini, termasuk berbeda pula ujiannya. Dahulu ayah dan ibu Nabi Ismail adalah orang-orang shalih, yang kemudian diuji Allah dengan perintah menyembelih anaknya. Bagi muslimah saat ini, tentu bentuk ujiannya akan berbeda. Terlepas dari itu semua, sebagai anak kita memang harus lebih taat kepada Allah dibandingkan dengan kepatuhan kepada orang tua. Bagi akhwat yang orang tuanya selalu membimbing sedari kecil semenjak dalam kandungan, ya tidak usah diragukan lagi. Tapi, ternyata ada juga sahabat akhwat yang mau masuk pesantren saja mesti melewati ujian-ujian dahulu. Atau, ketika hendak ikut pengajian di DT, mungkin ada akhwat yang harus berbohong dulu agar bisa berangkat.
 
Nabi Ismail ditakdirkan Allah memiliki orang tua yang sangat taat. Bahkan ketaatannya kepada Allah, melampaui kecintaan kepada anaknya sendiri. Nah, sekarang untuk posisi kita saat ini sebagai seorang anak yang orang tuanya belum menjadi orang tua yang patuh kepada Allah, kita harus membuktikan bahwa kita adalah seorang anak yang sungguh-sungguh berusaha lebih faham dan taat kepada Allah.
 
Akhwat, misalnya ketika pulang ke rumah dengan kondisi berjilbab rapi, dan orang tua menyatakan kekhawatirannya mengenai jodoh, karena dianggap kurang trendi, apa yang mesti dilakukan? Di saat kita punya prinsip, kita ingin sami’na waa’thona kepada Allah tapi di sisi lain kita juga mempunyai orang tua yang berbeda prinsip. Artinya, penting sekali memegang prinsip, jika itu adalah sebuah kebenaran. Namun, meski berbeda pemahaman, kita harus tetap bersikap hormat kepada beliau. Seperti halnya Nabi Ibrahim, sekalipun ayahnya menyembah berhala, beliau tetap menghormatinya.
 
Nabi Ibrahim adalah gambaran hamba yang luar biasa kegigihannya. Istrinya, Siti Hajar adalah seorang budak, yang memiliki iman sekuat batu (seperti namanya). Ini sebagai bentuk ilustrasi bahwa seseorang yang latar belakangnya bukan orang berkedudukan, tapi dengan ijin Allah menjadi jalan sesuatu yang hebat. Sementara Ismail, seorang anak dari seorang ibu yang luar biasa.
Jika Idul Fitri itu gunanya membersihkan hati kita, membersihkan dari rasa dendam, rasa benci, dan diganti dengan penuh kasih sayang. Boleh jadi, bila Idul Kurban menjadi ajang tafakur diri. Sejauh mana pengorbanan kita, bukan untuk diri tetapi bagi orang lain. Dan yang terpenting, tentunya pengorbanan itu hanya mencari keridhoan Allah, bukan mencari keridhoan manusia.
 
Subhanallah, ini menjadi pelajaran yang sangat berharga. Jika kita pelajari tentang perjalanan kehidupan keluarga Ibrahim dan kita sesuaikan dengan kondisi sekarang. Maka, mulai saat ini ayo kita belajar pengorbanan dari keluarga Nabi Ibrahim.
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Artikel Muslimah Lainnya
Merahasiakan Aib Keluarga
Merahasiakan Aib Keluarga
11
Seorang Muslimah harus menghiasi akhlaknya dengan keahlian untuk menutupi cacat (aib) orang lain. Ketidaksukaannya untuk mengorek-ngorek aib dan kekurangan orang lain, apalagi menyebarkannya, merupakan buah dari keimanannya terhadap Allah SWT.
Galeri
HAJJ

Ya Allah, Undang kami ke Baitullah-MU

Motret dari yang motret

motret orang yang lagi motret , karena banyak yang paka

Ditengah Kerumunan

Seorang anak dan bapaknya berdiri ditengah ribuan jamaa