Artikel Muslimah
Menjadi Muslimah yang ‘dibeli’ Allah (1)

Menjadi Muslimah yang ‘dibeli’ Allah (1)
Boleh jadi inilah sebabnya mengapa kita seringkali oleng dalam meniti kehidupan ini. Kita masih jauh dari peta hidup yaitu al-Qur’an. Dan belum

“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS at-Taubah [9]: 111)
 
Semoga kita menjadi Muslimah yang dibeli Allah, dengan surga sebagaimana yang tertera pada ayat diatas. Berkacalah pada kisah kaum Anshor dan Muhajirin. Meskipun harta habis, istri ditinggal, dan hidup seadanya, mereka (kaum Muhajirin) sama sekali tidak merasa berat. Begitu juga dengan kaum Anshor yang tulus menerima kedatangan kaum Mauhajirin dan bahu membahu menegakkan Islam. Subhanallah, orang-orang seperti inilah yang menjual diri, jiwa dan raganya hanya untuk dibeli Allah.
 
Atau kisah hidup penulis tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb yang hingga wafatnya senantiasa berinteraksi dengan al-Qur’an. Boleh jadi inilah sebabnya mengapa kita seringkali oleng dalam meniti kehidupan ini. Kita masih jauh dari peta hidup yaitu al-Qur’an. Dan belum total menyerahkan hidup kita kepada Allah SWT. 
 
Ketika para sahabat sedang berkumpul bersama rasul dan menyimak ayat ini, mereka bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kemenangan ini untuk kami juga?”. ”Iya, “ jawab Rasulullah saw.  Para sahabat sangat senang dan lega mendengarnya. Diujung ayat, memang disebutkan itulah kemenangan bagi siapa saja yang berjihad di jalan Allah.
 
Pada masa tersebut, salah satu cara mencari ridha Allah adalah dengan membunuh musuh Islam. Seperti yang diceritakan pada ayat 111 di surat yang dimulai tanpa membaca basmallah itu. Nah, sekarang apa yang bisa kita lakukan agar serupa dengan peristiwa pada masa itu? Adalah dengan ’membunuh kemaksiatan’ atau segala hal yang tidak disukai Allah. Semua ini dapat dilakukan bila kita bergandengan tangan dalam satu jama’ah. Dengan ilmu yang saling menguatkan, mestinya kita memang jangan sampai bercerai-berai.
 
Selaras dengan pesan Allah di surah Ali Imran [3] ayat 103, ”Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercearai berai,...” Boleh jadi kita sulit bersatu karena masih ada niat tersembunyi yang belum lurus lillahi ta’ala. Insya Allah bila senantiasa meluruskan niat, suatu saat Allah akan menyambungkan hati-hati kita. Hanya Dia yang mampu menggerakkan hati siapa yang dikehendaki-Nya.
 
Bila pada zaman Rasulullah, para sahabat berbai’at (bersumpah), siap membela kebenaran Islam lahir dan batin. Sekarang pun, sesungguhnya kita selalu berbai’at kepada Allah dalam setiap shalat kita. ”Inna shalatii wanusukii wamah yaayaa, wa mamati lillahi rabbil a’alamiin,” inilah janji kita setiap hari dalam shalat. (bersambung)
 
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Artikel Muslimah Lainnya
Merahasiakan Aib Keluarga
Merahasiakan Aib Keluarga
11
Seorang Muslimah harus menghiasi akhlaknya dengan keahlian untuk menutupi cacat (aib) orang lain. Ketidaksukaannya untuk mengorek-ngorek aib dan kekurangan orang lain, apalagi menyebarkannya, merupakan buah dari keimanannya terhadap Allah SWT.
Galeri
HAJJ

Ya Allah, Undang kami ke Baitullah-MU

Motret dari yang motret

motret orang yang lagi motret , karena banyak yang paka

Ditengah Kerumunan

Seorang anak dan bapaknya berdiri ditengah ribuan jamaa