Artikel Muslimah
Berpetualang, Berkarya, dan Berdakwah Ala Hanum Salsabiela Rais

Berpetualang, Berkarya, dan Berdakwah Ala Hanum Salsabiela Rais
Selain suami yang begitu setia menemani perjalanan hidupnya selama ini, rupanya ada lelaki lain yang membuatnya bersinar seperti sekarang. Yakni ayahnya, Amien Rais. Di mata Hanum, sosok ayah tak sekadar ayah yang baik tetapi juga sumber inspirasi.

Berpetualang, Berkarya, dan Berdakwah Ala Hanum Salsabiela Rais
Menjadi seorang muslimah bukan berarti segala kesempatan menggali potensi lainnya menjadi terhalang. Tapi justru dengan menjadi muslimah, banyak peluang dan kesempatan untuk lebih “bersinar”, baik dalam pandangan Allah SWT maupun manusia.
 
Menjadi muslimah apalagi seorang ibu harus memiliki wawasan yang luas. Karena seorang ibu merupakan madrasah pertama bagi putra-putrinya. Kali ini, bertempat di kediaman pribadinya, di daerah Condong Catur, Yogyakarta, tim Majalah Swadaya bertukar pikiran secara langsung dengan Hanum Salsabiela Rais. Perempuan kelahiran Kota Gudeg, Yogyakarta. Ia merupakan putri dari Amien Rais, seorang tokoh reformasi di Indonesia dan dikenal luas masyarakat.
 
Sepenggal Pengalaman di Eropa
Pada 2008, Hanum diboyong suaminya ke kota Wina, Austria. Saat itulah Hanum memulai petualangannya di Eropa. Di negara ini, Hanum mendalami pendidikan bahasa Jerman sambil bekerja sebagai video host dan editor untuk program Podcast Executive Academy, Universitas Ekonomi dan Bisnis, Wina.
 
Selama di Eropa, Hanum sempat menjadi salah seorang kontributor dan jurnalis responden salah satu berita portal terbesar di Indonesia. Hanum juga pernah membawa ayahnya untuk berceramah ke beberapa kampus di Eropa.
 
Walau cukup lama berada di Eropa, Hanum masih menyadari dirinya adalah muslimah yang memiliki kewajiban untuk berdakwah sesuai dengan kemampuannya. Menurut Hanum, berdakwah itu tidak mesti berceramah di depan banyak orang dan menyampaikan ayat-ayat al-Quran, karena setiap orang memiliki kemampuan dan kapasitas yang berbeda-beda. 
 
Ada sebuah pengalaman yang membuat Hanum mengubah pandangan teman-temannya di Eropa terhadap muslim, terutama seorang muslimah. Saat itu, Hanum dan Rangga memberikan hadiah kepada temannya yang berulang tahun dengan mempersembahkan lagu. Hanum bermain piano dan Rangga bernyanyi. Dari kejadian itu, beberapa temannya penasaran dan tidak percaya seorang muslimah bisa melakukan hal itu.
 
“Teman saya bertanya dengan bahasa setempat. Intinya, ia mempertanyakan bagaimana bisa seorang muslimah seperti itu (bermain piano). Saya lalu menjawabnya bahwa seorang muslim/muslimah harus maju dan memiliki wawasan yang luas. Islam itu indah, tidak melarang seorang muslim untuk belajar bahkan menyuruh untuk banyak belajar,” tutur Hanum.
 
Lelaki yang Menginspirasi
Kehadiran sang suami rupanya tak hanya menjadi teman hidup bagi Hanum, namun juga sebagai teman perjalanan, teman berpetualang, dan teman menulis. Semua buku yang Hanum tulis memiliki penulis kedua, yakni suaminya, Rangga Almahendra.
 
Selain suami yang begitu setia menemani perjalanan hidupnya selama ini, rupanya ada lelaki lain yang membuatnya bersinar seperti sekarang. Yakni ayahnya, Amien Rais. Di mata Hanum, sosok ayah tak sekadar ayah yang baik tetapi juga sumber inspirasi. Buku yang berjudul “Menapak Jejak Amien Rais: Persembahan Seorang Putri untuk Ayah Tercinta” sepenuhnya terinspirasi dari ayahnya.
 
Bagi Hanum, ayah banyak memberinya pelajaran. Salah satunya adalah pelajaran tentang berbagi. Sebuah pengalaman bersama ayah membuat Hanum semakin sadar untuk lebih peduli terhadap sesama.
 
“Suatu hari saat saya masih remaja, ada yang jual sapu lewat rumah dan saya memanggilnya. Saya membelinya, tapi sebelumnya saya tawar habis-habisan hingga harganya jauh dari yang ditawarkan. Dengan gembira dan bangganya, saya tunjukkan ke ayah saya dan saya bilang tadi harganya segini dan saya tawar jadi segini. Saya kira ayah saya senang dan memuji saya, ternyata tidak. Ayah saya marah karena saya sudah berbuat zalim kepada tukang sapu tersebut, yang keuntungannya tidak seberapa. Ayah saya lebih menganjurkan untuk menambah uang lebih, bukannya menawarnya. Dari sana saya sadar. Setiap hari saya berharap tukang sapu itu lewat rumah lagi, karena saya ingin menebus kesalahan saya,” kenang Hanum. (Astri Rahmayanti)






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Artikel Muslimah Lainnya
Dendam, Selingkuh, dan Ingin Cerai
Dendam, Selingkuh, dan Ingin Cerai
17
Jadi, sambil bertobat karena pernah melakukan dosa besar, mohonkan pula kepada Allah Ta’ala agar istri diberi hidayah, dilunakkan hatinya, dan diberi kesadaran akan kesalahannya.