Artikel Muslimah
Mendidik Anak dalam Ketidaksalehan Orangtuanya

Mendidik Anak dalam Ketidaksalehan Orangtuanya
Mendidik anak harus disertai cinta dan kasih sayang. Anak bukanlah boneka atau robot. Dia adalah sosok yang memiliki hati dan akal pikiran. Semua itu hanya bisa disentuh dengan cinta.

Assalamu’alaikum Teteh, bagaimana cara mendidik anak agar menjadi orang saleh sedangkan salah satu orangtuanya belum baik sehingga tidak bisa menjadi contoh? Terima kasih atas jawabannya.
+62856-4302-xxxx

Wa’alaikumussalam wr wb. Saudariku yang dirahmati Allah, kita tidak dapat memungkiri bahwa kondisi keluarga setiap orang itu berbeda-beda, beraneka ragam. Ada yang kedua orangtuanya sudah saleh, lingkungan bagi tumbuh kembangnya akhlak mulia sangat kondusif, sehingga lahirlah anak-anak yang saleh pula. Namun, ada juga yang kedua orangtuanya belum saleh atau salah satunya (ayah atau ibu) belum saleh, sehingga anak mengalami kesulitan untuk mendapatkan teladan kebaikan.
 
Namun, sebagai orangtua, kita layak untuk tetap berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Dialah yang menggenggam hati anak-anak kita. Dialah Zat Yang Mahakuasa untuk mendatangkan atau mencabut hidayah dari siapa saja yang dikehendaki-Nya. Maka, tidak ada seorang pun yang dapat memberi hidayah keimanan kepada orang lain, termasuk kepada anak sendiri, kecuali Allah semata. Orangtua hanya “sekadar” perantara saja bagi datang dan mekarnya keimanan di dalam diri seorang anak.
 
Peran sebagai perantara datangnya hidayah inilah yang harus kita optimalkan. Kalau kita berposisi sebagai ibu yang lebih paham tentang Islam, kitalah yang bertanggung jawab untuk mendidik atau menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak, termasuk memahamkan kepada anak akan perbuatan-perbuatan buruk yang tidak patut untuk dicontoh.
 
Jadi, dalam mendidik anak, kita dapat menggunakan rumus 3C.
 
C yang pertama adalah CONTOH. Kalau bapaknya belum bisa menjadi contoh, kitalah yang harus menjadi contoh dalam kebaikan. Kita ingin anak rajin membaca al-Quran, awali dengan kita menjadi orang yang gemar membaca al-Quran. Kita ingin anak rajin salat, jadilah kita sosok orangtua yang menjadi ahli salat. Apa pun yang kita ingin dari anak, jadilah kita yang mengawalinya. Anak akan melihat dari apa yang kita lakukan.
 
C yang kedua adalah CINTA. Mendidik anak harus disertai cinta dan kasih sayang. Anak bukanlah boneka atau robot. Dia adalah sosok yang memiliki hati dan akal pikiran. Semua itu hanya bisa disentuh dengan cinta. Bukankan hati itu akan tersentuh dengan bahasa hati lagi? Maka, tugas orangtua bukan sekadar mengenyangkan perut anak dengan makanan bergizi, memberinya pakaian dan uang jajan. Tetapi juga mengisi hatinya dengan kasih sayang.
 
C yang ketiga adalah COMMUNICATION atau komunikasi. Komunikasi ini terkait erat dengan cinta, sebagai hadirnya rasa tanggung jawab dan harapan agar anak kita selamat dunia dan akhirat. Tanggung jawab kepada siapa? Tentu saja, tanggung jawab kepada Allah. Anak adalah amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Apabila hatinya penuh cinta, komunikasi dengan anak pun anak menjadi komunikasi yang dibimbing Allah. Sebagai akibatnya, bahasa yang disampaikan kepada anak pun, baik bahasa verbal (lisan) maupun bahasa non verbal (non lisan), pasti penuh dengan kebaikan. Jauh dari merendahkan, tidak kasar, dan terjaga dari sesuatu yang tidak pantas diucapkan.
 
Saudariku, ketiga hal ini adalah satu paket yang tidak terpisahkan. Tidak ada teladan kebaikan apabila tidak ada cinta. Dan, tidak dikatakan cinta apabila tidak disertai dengan komunikasi yang baik. Semoga Allah menguatkan kita menjadi sosok orangtua yang mampu menjaga amanah terbesar dari-Nya, yaitu anak-anak kita. Amiin.
 
 
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Artikel Muslimah Lainnya
Dendam, Selingkuh, dan Ingin Cerai
Dendam, Selingkuh, dan Ingin Cerai
17
Jadi, sambil bertobat karena pernah melakukan dosa besar, mohonkan pula kepada Allah Ta’ala agar istri diberi hidayah, dilunakkan hatinya, dan diberi kesadaran akan kesalahannya.