Artikel Muslimah
Hijab tak Sekadar Selembar Pakaian

Hijab tak Sekadar Selembar Pakaian
Tidak disangka, gagasannya memperoleh sambutan dunia. Tanggal 1 Februari 2013 menjadi hari bersejarahnya. Ia menginisiasi gerakan Hari Hijab Dunia. Saat itu, ada puluhan ribu orang dari 50 negara berdiri di belakangnya.

Menyoal jilbab atau hijab bukan hanya berkisar selembar kain penutup aurat. Hijab sesungguhnya menunjukkan bukti ketaatan seorang hamba kepada Khaliknya. Hijab mempresentasikan konsep diri dan sekaligus harga diri seseorang yang tidak boleh diusik. Hijab bagi muslimah adalah kewajiban (QS. al-A’raf [7]: 26QS. al-Ahzab [33]: 33 & 59QS. an-Nuur [24]: 31) bukan pilihan atau sekadar gaya hidup.

Berbekal keyakinan inilah, kita dapat mencermati setiap tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok, yang berusaha memalingkan kewajiban ini bagi seorang muslimah, akan menimbulkan reaksi menentang. Semakin kuat upaya membatasi muslimah untuk menjalankan kewajibannya itu, semakin kuat pula upaya menolaknya. Muncul sosok-sosok yang berani membela atau menginspirasi gerakan untuk menentangnya.

Lihat saja ketika muslimah di Perancis diancam dikenai denda jika mengenakan hijab di ruang publik oleh negaranya, muncul sosok Rasyid Nikaz. Pengusaha Perancis keturunan Aljazair ini dengan lantang menentang kebijakan itu. Bahkan ia tidak segan-segan mengatakan akan membayar sendiri setiap dendanya. Suatu pembelaan luar biasa atas nama keimanan yang dimiliknya.

Dalam konteks di negeri kita sendiri, awal 1980-an menjadi tonggak bersejarah. Pemicunya adalah pelarangan jilbab di sekolah oleh pemerintah. Kebijakan tersebut menuai reaksi yang keras dari masyarakat. “Revolusi hijab’ pun dimulai, yang dampaknya terasa hingga saat ini. Hijab menjadi busana familiar untuk dikenakan oleh muslimah. Bahkan, mereka yang sebelumnya anti terhadap hijab, mulai mengubah sikapnya.

Adapun contoh yang lebih luas lagi (skala internasional), kita dapat melihatnya pada sosok Nazma Khan dan Marwa al-Sharbini. Keduanya menjadi icon digagasnya perayaan Hari Hijab Dunia. Hari yang menjadi bukti kepedulian dan solidaritas seluruh warga dunia (muslim dan non-muslim) untuk menyuarakan satu suara. Bahwa hijab adalah hak asasi seorang muslimah. Identitasnya di mata Allah dan sesama manusia.
 
Nazma Khan, Penggagas Hari Hijab Dunia
Nazma Khan tidak pernah mengira, jika pengalaman pahitnya berhijab kini berbuah manis. Jilbab atau hijab yang ia kenakan, yang sebelumnya jadi pemicu berbagai perlakuan diskriminatif kepadanya, malah membuatnya menjadi pencetus gagasan Hari Hijab Dunia (World Hijab Day). Yakni suatu hari pada awal Februari (tanggal 1), saat jutaan orang di seluruh dunia merayakannya.

Dara kelahiran Bangladesh ini, pindah ke Amerika Serikat (AS) saat berusia 11 tahun. Saat itu ia telah berhijab. Namun, lingkungan tempat tinggalnya di Bronx, New York, tergolong anti terhadap simbol-simbol Islam. Apalagi Nazma merupaan satu-satunya yang berhijab saat belajar di sekolah menengah. Jadilah ia di-bully, baik di sekolah maupun dari orang-orang di sekitar kediamannya. Tidak jarang Nazma mengalami teror verbal (umpatan/hinaan) dan fisik.

Perlakuan terhadap Nazma semakin memburuk saat peristiwa nine eleven (11 September 2001) terjadi. Prasangka negatif terhadap perempuan muslim yang berhijab semakin luar biasa. Mereka mencapat stigma negatif (teroris) dan diperlakukan dengan sangat tidak menyenangkan. Termasuk Nazma, yang terus menerus mengalami hal tersebut hingga masa-masa awal kuliahnya.

Hidup dalam lingkungan yang tidak kondusif, bahkan memusuhi perempuan muslim yang berhijab, tidak lantas membuatnya terpuruk. Sebaliknya, Nazma berusaha mendobrak paradigma bahwa hijab tidak identik dengan perbuatan atau sikap barbar (teroris). Nazma berusaha menyuarakan gagasan jika hijab merupakan simbol keyakinan dan identitas seorang muslimah.

Tidak disangka, gagasannya memperoleh sambutan dunia. Tanggal 1 Februari 2013 menjadi hari bersejarahnya. Ia menginisiasi gerakan Hari Hijab Dunia. Saat itu, ada puluhan ribu orang dari 50 negara berdiri di belakangnya. Nazma Khan memanfaatkan media sosial untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

Pada 1 Februari 2014 lalu, peringatan Hari Hijab Dunia yang kedua dirayakan di 116 negara. Sekitar sejuta orang juga menyampaikan dukungannya. Bahkan tidak sedikit perempuan non-muslim yang turut mengenakan hijab.Meraka melakukannya karena didasari rasa solidaritas dan menyetujui gagasan bahwa hijab adalah hak asasi seorang muslimah.
 
Marwa al-Sharbini, Perempuan di Balik Hari Hijab Internasional
Konon, bermula dari Marwa al-Sharbini, 31 tahun. Ia meninggal dunia karena ditusuk oleh seorang pemuda Jerman keturunan Rusia pada Rabu, 1 Juli 2009 di ruang sidang gedung pengadilan kota Dresden, Jerman. Saat itu, Marwa akan memberikan kesaksian dalam kasus penghinaan yang dialaminya hanya karena ia mengenakan hijab.
Belum sempat memberikan kesaksiannya, pemuda Jerman itu menyerang Marwa dan menusuk ibu satu orang anak itu sebanyak 18 kali. Suami Marwa berusaha melindungi istrinya yang sedang hamil tiga bulan itu, tapi ia juga mengalami luka-luka dan harus dirawat di rumah sakit.

Meski pemerintah Jerman berusaha menutup-tutupi kematian Marwa al-Sharbini, cerita tentang Marwa mulai menyebar dan mengguncang kaum muslimin di berbagai negara. Untuk mengenang Marwa, diusulkan untuk menggelar Hari Hijab Internasional yang langsung mendapat dukungan dari muslim di berbagai negara.
Usulan itu dilontarkan oleh Ketua Assembly for the Protection of Hijab, Abeer Pharaon. Abeer menyuarakan pendapat, Marwa al-Sharbini adalah seorang syahidah bagi perjuangan muslimah yang mempertahankan jilbabnya. Seruan Abeer disambut oleh sejumlah pemuka muslim dunia.

Selama ini, masyarakat muslim di negara-negara non-muslim memperingati Hari Solidaritas Jilbab Internasional (Internations Hijab Solidarity Day) setiap pekan pertama bulan September. Hari peringatan itu dipelopori oleh Assembly for the Protection of Hijab sejak 2004, sebagai bentuk protes atas larangan berjilbab yang diberlakukan negara Prancis. Kasus Marwa al-Sharbini menjadi bukti bahwa Islamofobia masih sangat kuat di Barat, dan sudah banyak muslim yang menjadi korban. 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Artikel Muslimah Lainnya
Membentengi Diri dari Sihir
Membentengi Diri dari Sihir
31
Rasulullah saw. pun banyak memberi penjelasan tentang sihir, termasuk sihir yang bisa mencerai beraikan suami istri. Bahkan, kalau kita membaca sirah, Rasulullah saw. pernah disihir oleh orang-orang Yahudi di Madinah.