Artikel Muslimah
Tidak Cocok dengan Suami

Tidak Cocok dengan Suami
Jangan menuntut orang lain sebelum menuntut diri. Kita akan kecewa apabila selalu mengharap perlakuan yang baik dari orang lain.

Saya seorang wanita berusia 27 tahun. Sekitar setengah tahun yang lalu saya menikah dengan seseorang yang sekarang menjadi suami. Masalahnya, selama mengarungi bahtera rumah tangga dengan suami, saya melihat banyak ketidakcocokan antara saya dengan dia. Saya pun kerap merasa kesal, benci, dan sakit hati dengan sikapnya. Suami saya sangat mudah tersinggung, kurang perhatian, dan perkataannya sering menyakitkan. Ingin rasanya saya nangis dan pulang kepada orangtua. Teteh yang baik, bagaimana caranya agar saya mampu mengatasi persoalan ini? Terima kasih atas jawabannya.
Jawab:

Wa’alaikumussalam wr.wb.
Dalam hidup berumah tangga, kelebihan dan kekurangan pasangan seharusnya sudah menjadi milik bersama. Dengan demikian, suami dan istri dituntut untuk saling melengkapi dan saling menguatkan, bukan saling mencela dan menyalahkan. Ketika ada kekurangan dari salah satu pasangan, suami atau istri harus membantu memperbaikinya, tidak menyebarkan aibnya. Andai ada kelebihan, suami atau istri harus menjadi pihak yang menopang, menguatkan, dan membuatnya bertambah baik. Maka, sangat tidak tepat apabila suami istri selalu mempermasalahkan kekurangan pasangannya.
Maka, ada beberapa hal yang selayaknya kita usahakan:

  • Belajarlah untuk memahami sebelum dipahami. Cari dan teliti akar permasalahnnya. Cari tahu mengapa suami berlaku seperti itu, mungkin kita kurang menjalankan kewajiban sebagai seorang istri, mungkin suami sedang banyak masalah, dan lainnya. Dengan memahami akar masalahnya, sikap kita akan lebih positif dan solusi akan mudah dicari.
  • Jangan menuntut orang lain sebelum menuntut diri. Kita akan kecewa apabila selalu mengharap perlakuan yang baik dari orang lain. Sebab apa yang dilakukan orang lain tidak akan selalu sama dengan keinginan. Idealnya, tuntutlah diri kita untuk berbuat baik kepada orang lain, terlebih terhadap suami.
  • Belajarlah memaafkan sebelum suami minta maaf. Mohonlah kepada Allah agar hati kita dilapangkan dengan membaca doa Nabi Musa, sebagaimana terungkap dalam surah Thâhâ, 20:25-28. Kesabaran kita dalam menghadapi suami, pasti akan Allah balas dengan balasan terbaik, di dunia dan terlebih lagi di akhirat. Insya Allah.
  • Ada tipe suami yang mudah dikasih tahu, terbuka bila ada masukan, dan selalu berusaha menjadi lebih baik. Namun, tidak sedikit pula yang sebaliknya. Jika suaminya termasuk tipe yang kedua, banyaklah berdoa kepada Allah agar hati suami dilembutkan, diberi hidayah atau diberi jalan agar dia bisa berubah. Maka, carilah waktu-waktu dan tempat ijabahnya doa, semisal sepertiga malam terakhir setelah Tahajud, khusus untuk mendoakan suami. Berdoalah, perbanyak curhat kepada Allah.
  • Cari dan perdalam ilmu agama. Rumah tangga akan sangat berat kalau pemahaman agama kita tidak pernah bertambah. Semakin berat dan semakin kompleks masalah harus disertai dengan peningkatan kualitas ilmu dan amal kita. Setiap episode kehidupan Allah hadirkan tidak lain agar kita bisa semakin dewasa dan semakin takwa. []






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Artikel Muslimah Lainnya
Membentengi Diri dari Sihir
Membentengi Diri dari Sihir
31
Rasulullah saw. pun banyak memberi penjelasan tentang sihir, termasuk sihir yang bisa mencerai beraikan suami istri. Bahkan, kalau kita membaca sirah, Rasulullah saw. pernah disihir oleh orang-orang Yahudi di Madinah.