Cerita Santri
Membela Palestina

Membela Palestina
Rakyat Palestina sejak awal pendudukan Zionis senantiasa berpegang pada keyakinan ini. Menjaga kesucian dan izzah (kehormatan) al-Quds, meski harus kehilangan harta benda, nyawa, dan tipis kemungkinan untuk menang.

“Tak perlu menjadi muslim untuk membela Palestina, cukup kau menjadi manusia!” Sebaris kalimat menggugah ini terlontar dari mulut Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki sejak 2014. Sebentuk perkataan yang punya makna reflektif, bahwa peristiwa di Palestina merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.     
 
Jadi, teramat wajar pasca Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Palestina kembali bergolak. Masyarakat dunia, terutama umat muslim di berbagai negara—termasuk Indonesia—pun melancarkan aksi serupa. Mengecam keras dan sentimen terhadap Amerika semakin menggurita. Seruan boikot berbagai produk yang berafiliasi terhadap Israel, menemukan momentumnya. 
 
Entahlah, apa yang sebenarnya ada di benak Trump. Presiden AS yang terpilih pada November tahun lalu itu, memang dikenal sebagai sosok sarat kontroversi. Berbeda dengan presiden-presiden pendahulunya, Trump dianggap punya hobi memperbanyak musuh daripada teman. Hal ini dibuktikan dengan berbagai kebijakan Trump yang sering menuai hujatan dan cacian. Pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel adalah salah satunya.
 
Perjanjian Balfour
Menyoal penjajahan Zionis Israel atas tanah Palestina, dimulai dari surat yang dikeluarkan oleh Menteri Luar Negeri Inggris Arthur James Balfour, pada tanggal 2 November 1917. Surat itu ditujukan kepada Federasi Zionis di Inggris, berisi izin mendirikan negara Yahudi di tanah Palestina.
 
Meskipun saat itu tanah Palestina masih dalam kekuasaan Kekhilafahan Turki Usmani, tapi rencana busuk sudah mulai disusun. Tahun 1918, akibat kekalahan Turki Usmani pada Perang Dunia I, Palestina jatuh dan kemudian dikuasai Inggris. Dikuasainya Palestina oleh Inggris, melapangkan jalan bagi Zionis untuk merealisasikan janji Inggris (Perjanjian Balfour) atas tanah Palestina. Tepat tanggal 14 Mei 1948, Negara Israel dideklarasikan. Dimulai dari tanggal itu pula, penjajahan terhadap rakyat dan tanah Palestina berlangsung hingga kini.
 
Bumi Manusia
“Ada banyak bangsa yang berperang bukan hendak keluar sebagai pemenang. Mereka turun ke medan perang dan gugur berkeping-keping karena ada sesuatu yang dibela. Sesuatu yang lebih berharga daripada hanya mati-hidup, kalah-menang.”
 
Ini adalah perkataan yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer (Pram) di Novel Bumi Manusia. Buku pertama dari Tetralogi Buru itu, ditulis Pram saat masih mendekam dalam pengasingan. Mengambil semangat dari kata-kata Pram tersebut, kondisi rakyat di Palestina tidak jauh berbeda.
 
Sebagai muslim, kita tidak perlu bersusah-payah untuk berempati terhadap perjuangan rakyat Palestina. Apalagi ditopang keyakinan bahwa di Negeri Para Nabi (Anbiya) itu, berdiri Yerusalem (al-Quds, sebutan dalam bahasa Arab). Al-Quds atau Yerusalem adalah kota suci dalam Islam, selain Kota Mekkah dan Madinah. Bahkan, al-Quds pernah menjadi kiblat salat sebelum dialihkan ke Mekkah.
 
Rakyat Palestina sejak awal pendudukan Zionis senantiasa berpegang pada keyakinan ini. Menjaga kesucian dan izzah (kehormatan) al-Quds, meski harus kehilangan harta benda, nyawa, dan tipis kemungkinan untuk menang. Keyakinan yang berorientasi pada ukhrawi (surga), dan melibas segala motif-motif keduniawian. 
 
Keyakinan ini ternyata juga memberikan dampak luar biasa bagi Rachel Corrie, seorang aktivis kemanusiaan dari AS. Gadis berusia 23 tahun itu rela meregang nyawa karena membela rakyat Palestina dari kezaliman Zionis Israel. Tubuhnya hancur dihantam buldoser yang hendak menghancurkan pemukiman rakyat Palestina. Meski tubuhnya hancur, tapi kisahnya yang membela Palestina atas nama kemanusiaan, tidak pernah pupus. Rachel Corrie adalah contoh manusia yang telah membumikan nilai-nilai kemanusiaannya.
 
Nah, jika di antara kita masih ada yang mempertanyakan untuk apa membela Palestina? Untuk apa berteriak lantang sambil memboikot produk-produk yang berafiliasi ke Israel? Atau merintih dalam doa saat salat malam untuk kebebasan Palestina, maka ada baiknya ia mengulang kembali apa yang dikatakan Erdogan di awal tulisan ini. “Tak perlu menjadi muslim untuk membela Palestina, cukup kau menjadi manusia!” #  






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Menjaga Amanah
Menjaga Amanah
19
Mengingat pentingnya menjaga amanah, penulis mengajak kepada siapa saja yang telah diberikan kepercayaan oleh masyarakat untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.