Cerita Santri
Sedekah kepada Kucing

Sedekah kepada Kucing
Ayahku adalah salah seorang yang peduli terhadap kucing. Dari ceritanya sejak kecil, ayahku memang sudah memelihara kucing. Tapi setelah beranjak remaja dan harus pindah keluar kota, ayahku tidak memelihara kucing lagi.


Ayahku adalah salah seorang yang peduli terhadap kucing. Dari ceritanya sejak kecil, ayahku memang sudah memelihara kucing. Tapi setelah beranjak remaja dan harus pindah keluar kota, ayahku tidak memelihara kucing lagi.
Kegemaran ayahku memelihara kucing mulai kembali. Berawal dari hobinya memakai sepeda ke mana pun ia pergi. Hal ini membuat ayahku menjadi lebih sering melihat kucing-kucing liar di jalanan.
Pada suatu pagi, saat ayahku sedang bersepeda, ia menemukan kucing kecil di pinggir jalan. Di tempat itu terdapat banyak anjing liar dan jalanan yang cukup berbahaya karena motor dan mobil melaju kencang.
Karena kasihan dan khawatir dengan nasib kucing itu, ayahku membawa ke rumah dan kami pun merawat kucing itu. Beberapa minggu kemudian, ayahku kembali membawa anak kucing dan bertambahlah jumlah kucing kami di rumah. Hal ini membuatku bertanya karena waktu itu di rumah kami sudah ada tiga kucing.
“Pah kenapa bawa kucing lagi ?” ayahku pun menjawab “Kasihan kalau dibiarin di jalan takut kenapa-kenapa”.
Ternyata kucingnya cukup menghawatirkan dengan kondisi buntut yang patah karena terinjak seseorang. Beberapa bulan berlalu, ayahku kembali membawa anak kucing ke rumah. Aku sudah tidak aneh lagi karena sepertinya hal ini sudah menjadi kebiasaan ayahku. Menurutku, itu mulia mengingat dengan berbagai macam alasan tidak banyak orang yang peduli terhadap nasib anak-anak kucing di jalanan.
Ayahku kembali membawa anak kucing ke rumah. Bedanya, kucing yang dibawa ayahku sudah tidak bernyawa. Ukuran tubuhnya masih sangat kecil, dan usianya pun kurang dari satu bulan. Mungkin karena lapar dan tidak ada ibunya, kucing ini terpaksa mencari makan ke jalanan. Akhirnya, anak kucing itu mati karena terlindas oleh ban belakang motor seseorang. Karena tidak tega, ayahku berniat menguburkannya di pekarangan rumah.
Ada rasa penasaran, apa yang membuat ayahku sangat peduli terhadap kucing-kucing liar di jalanan. “Kucing jalanan itu kehidupannya keras. Untuk cari makan aja mereka taruhannya nyawa. Belum lagi orang-orang yang enggak suka. Papah enggak tega kalo liat mereka disiksa sama orang-orang di luar sana. Se-enggaknyakalo kita rawat minimal mereka ga kelaparan,” katanya.
Setelah mendengar jawabannya, hatiku mulai terketuk untuk tidak mengabaikan kucing-kucing di jalanan yang sangat memerlukan bantuan. Sungguh sangat kasihan ketika melihat seekor kucing yang dipukul, ditendang, bahkan hingga disiram air panas oleh orang-orang yang membencinya, atau merasa dirugikan. Tak habis pikir, mengapa manusia yang Allah SWT ciptakan dengan akal serta pikiran, mampu melakukan hal sekejam itu terhadap kucing.
Berbuat baik kepada hewan, termasuk kucing, di mata Allah SWT sama dengan bersedekah. Insya Allah akan diberi ganjaran pahala, karena dalam sebuah hadis telah disebutkan ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah saw.
Apakah berbuat baik kepada binatang bagi kami ada pahalanya?”Rasulullah shalallahu alahi wassalam pun menjawab, “Di dalam setiap apa yang bernyawa ada pahalanya.” (HR Bukhari dan Muslim).






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Menjaga Amanah
Menjaga Amanah
19
Mengingat pentingnya menjaga amanah, penulis mengajak kepada siapa saja yang telah diberikan kepercayaan oleh masyarakat untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.