Cerita Santri
LGBT dan Logika Dangkal Kaum Liberal

LGBT dan Logika Dangkal Kaum Liberal
Putusan MK yang menolak memperluas objek hukum terkait perbuatan asusila pada pasal 284, 385, dan 292 KUHP, tak pelak kembali menambah panjang babak peperangan antara pihak konservatif dan liberal melalui isu seks bebas dan LGBT.

 
Putusan MK yang menolak memperluas objek hukum terkait perbuatan asusila pada pasal 284, 385, dan 292 KUHP, tak pelak kembali menambah panjang babak peperangan antara pihak konservatif dan liberal melalui isu seks bebas dan LGBT.
 
Bukan hal baru, benturan pemahaman keduanya terus terjadi dan dijaga dengan dalih penghormatan atas keragaman dan utuhnya persatuan. Entah hal tersebut beralasan atau tidak, namun jika dicermati, pemegang kebijakan sepertinya memilih menutup mata dan membiarkan keduanya berjalan sendiri-sendiri. Mereka seolah tak berani secara tegas mengambil keputusan yang mengikat untuk menyelesaikannya.
 
Pertanyaannya, sampai kapan kondisi ini akan tetap berjalan? Geliat para aktivis liberal sudah semakin gencar dan terang-terangan dalam mempromosikan keharusan diterimanya LGBT sebagai golongan normal dengan orientasi seksual yang berbeda. Parahnya, hal ini diperkuat oleh dorongan dari dunia global. Semakin hari, semakin banyak negara yang kini melegalkan keberadaan LGBT. Terakhir, Jerman pun menyusul negara-negara lain yang lebih dulu memberikan kepastian hukum kepada golongan ini semisal, Amerika Serikat, Prancis, Spanyol, Canada, Brazil, dan beberapa lainnya, termasuk Belanda yang berdiri sebagai penggagasnya.
 
Bagaimana dengan seks luar nikah? Tak perlu lagi ditanya, perilaku ini sudah seperti bagian dari gaya hidup orang zaman now. Bukan hanya di luar negeri, tapi perlahan di negeri kita sendiri. Atas nama HAM, negara dinilai terlalu jauh untuk mengatur rakyatnya sampai ke kamar tidur, sebagaimana yang diujar Cania Citta, seorang jurnalis yang diduga merupakan satu dari sekian banyak penganut kebebasan individu, dalam acara Indonesia Lawyer Club (18/12) yang tayang di Tv One, lebih jauh dia menyebut campur tangan pemerintah dalam mengatur urusan seks adalah penjajahan.
 
Hal yang menarik di sini bukan hanya gagal pahamnya para aktivis liberal terhadap makna kebebasan yang kebablasan. Berkaca pada persepsi para penggiat liberalisme, seperti Ade Armando, Dede Oetomo, pun Cania Citta tadi, ada pergeseran norma yang dianut oleh sebagian orang di negeri ini. Semua hukum adat dan agama di indonesia yang menolak praktek seks bebas apalagi LGBT, tak lagi dipandang sebagai norma yang harus dipatuhi dan menjadi dasar dalam pembentukan konstitusi yang melahirkan berbagai turunan hukum di negeri ini.
 
Mereka berkata tentang keadilan, berkata tentang hak, dan berkata tentang logika, yang sebenarnya dengan mudah dapat terpatahkan. Tak perlu dijegal oleh agama, semisal islam yang mendekati zina saja sudah terlarang dan mengutuk orang yang menyerupai lawan jenisnya, akal sehat pun sudah cukup andai mereka mau memakainya.
 
Jika memang pelarangan seks bebas dan LGBT bertentangan dengan hak dan keadilan, bagaimana dengan banyaknya orang yang akhirnya terampas haknya dan diperlakukan tak adil oleh akibat dari perbuatan tersebut.Ada orang tua yang mimpi indahnya terkubur karena anaknya hamil duluan, putus kuliah, terpapar penyakit kelamin, bahkan sampai bunuh diri, akibat seks bebas yang katanya hak perorangan.
Ada seorang istri atau mungkin seorang suami ditinggal pasangan mereka yang memilih kabur dengan pacar sejenisnya. Atau berapa banyak orang yang akhirnya kehilangan banyak hak dalam hidupnya setelah mengidap HIV hanya karena termakan provokasi bahwa penyimpangan perilaku seks adalah hak yang harus didapatnya. Sebagai gambaran, berikut saya sertakan dua data yang cukup menghawatirkan terkait sisi negatif seks bebas dan maraknya fenomena LGBT dewasa ini.
 
Dilansir dari aidsinfo.nih.gov (25/12), sebuah lembaga di Amerika Serikat bernama Center for Desease Control and Prevention menyebutkan bahwa anal seks adalah aktivitas paling beresiko dalam penularan HIV Aids. Lanjut lagi, data pada tahun 2014 menunjukan bahwa sebanyak 67 % pengidap HIV Aids di sana berasal dari kalangan gay dan biseksual.
 
Beralih ke tanah air, hasil survey di Kota Depok yang dimuat di jawapos.com (04/06), menyebutkan bahwa dalam rentang 3 tahun, 2013 - 2016, tercatat ada 691 orang terjangkit HIV. Kendati masih didominasi oleh kaum heteroseksual, tren penderita dari kalangan LGBT juga kian meningkat. Diungkapkan Samsu Budiman, Ketua Umum Kumpulan Segala Aksi Kemanusiaan (Kuldesak) saat diwawancara Radar Bogor, data terinfeksi penularan HIV melalui lelaki sesama lelaki (LSL) mencapai 117 orang, adapun untuk lesbian, biseksual, dan transgender (LBT) mencapai 57 orang.
 
Uraian di atas bukanlah mimpi. Datanya ada dan buktinya nyata. Hal lain yang perlu dipahami, data tersebut hanyalah statistik yang memuat angka penderita. Artinya, itu belum menyangkut sisi sosial seperti, berapa biaya yang harus dikeluarkan negara dalam menanggung pengobatan penderita karena jenis penyakit HIV Aids masuk ke daftar tanggungan BPJS, belum juga memuat berapa besar kerugian bangsa terkait hilangnya SDM karena kebanyakan penderita masih ada di rentang usia produktif, dan juga, data penderita belumlah memuat soal banyaknya anggota keluarga yang harus ikut menderita karena kehilangan orang yang mereka cintai bahkan mungkin mereka andalkan.
Jika kita masih mampu menggunakan akal sehat, fakta di atas seharusnya dengan mudah menepis logika para pengusung paham kebebasan. Bagaimana bisa kita mempertaruhkan segala mimpi besar dan kebahagiaan kita hanya untuk menuntut hak kebebasan yang aplikasinya tak lebih dari sebuah bentuk pelampiasan kesenangan semata.
 
Lantas, bagaimana jika ini adalah takdir? Menjadi Gay, Lesbian, Biseksual, atau Transgender, adalah bawaan lahir yang muncul karena adanya gen bawaan? Struktur kromosom memang sering diangkat sebagai alibi dari perilaku menyimpang LGBT. Sayangnya, asumsi tersebut sampai saat ini belum bisa dibuktikan secara pasti. Syukurlah, andai saja hal itu bisa dibuktikan, bisa jadi perilaku seks bebas pun mereka klaim sebagai efek dari gen bawaan.
 
Terakhir, rasanya tak perlu lagi kita ungkap dalil agama untuk menentang seks bebas dan LGBT. Selain bagi kaum liberal agama hanyalah untuk mengurus hubungan mereka dengan Tuhan, itu pun untuk yang masih merasa beragama, logika yang mereka bela ternyata tak lebih dari pembenaran atas syahwat hewani yang hendak mereka lampiaskan. Naudzubillah!
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Sedekah Is Good
Sedekah Is Good
20
Kita tidak tahu akan ada kesulitan seperti apa yang akan menimpa kita. Tapi jika kita senang melakukan kebaikan, itulah yang akan kembali kepada kita.