Cerita Santri
ATM Sedekah

ATM Sedekah
Perilaku bersedekah sering kali berbalas kejadian berupa pelipatgandaan rezeki dari jumlah yang disedekahkan.

Ban motor yang bocor menjadi hal rutin setiap bulannya. Mulai dari Desember 2015 sampai bulan Maret 2016. Kondisinya pun sama, ban dalamnya mengalami banyak kebocoran. Kalau pun mau ditambal, biaya yang dikeluarkan hampir sama dengan harga ban baru. Satu kali tambalan, biayanya sekitar Rp.10.000,-. Jika ada lima yang bolong, maka biaya tambalannya seharga ban baru.
 
Rasa kesal, sedikit marah, bingung, sering dirasakan jika ban motor tetiba bocor lagi. Setiap bulan harus mengeluarkan uang untuk tambal ban. Apalagi uang yang ada pas-pasan, ditambah harus menambal ban setiap bulannya yang tetiba saja bocor.
 
Hingga suatu hari, seorang ustaz berkata, “Ban bocor, ya bersabarlah. Mungkin ada rezeki dari tukang tambal ban yang diberikan lewat dompet kita. Bukankah itu sama artinya kita dipercaya untuk jadi perantara Allah dalam mengantarkan rezeki tukang tambal ban? Dengan uang yang kita bayar, tukang tambal ban itu jadi dapat rezeki. Kalau gak ada yang nambal ban, mau dapat uang dari mana tukang tambal ban itu? Karena sudah membantu penambal ban, sekalian saja diniatkan untuk sedekah.” Ya, perkataan itu telah mengubah pandangan saya tentang tambal ban dan sedekah.
 
Memasuki Maret 2016, sore itu saya mengambil uang sebesar Rp.100.000,- di ATM. Niatnya untuk keperluan sehari-hari. Tetiba, tidak lama setelah mengendarai motor, ban belakang motor langsung kehabisan angin. Motor pun mendadak oleng. Ketika dilihat, feeling saya ban motornya bocor.
 
Hari itu saya memutuskan mengubah cara pandang saya. Dari yang awalnya suka kesal sendiri kalau ban motor bocor, menjadi berpikir bahwa ban motor yang bocor adalah kehendak Allah. Hikmahnya agar penambal ban tempat saya menambal menjadi mendapatkan rezeki. Meski rezeki penambal ban itu dari dompet saya, tapi itulah cara Allah memberikan rezeki kepadanya. Ada pun sayalah yang sore itu Allah percayai mengantarkan rezeki kepada penambal ban.
 
Akhirnya, sebagian uang yang diambil di ATM saya berikan ke penambal ban. Seakan-akan, hari itu saya mengambil uang dari ATM dengan tujuan memberikannya kepada penambal ban. Perubahan cara pandang itu membuat hati terasa lebih tenang ketika ban motor bocor.
 
Perilaku bersedekah sering kali berbalas kejadian berupa pelipatgandaan rezeki dari jumlah yang disedekahkan. Maka pada hari itu, balasan berlipat ganda pun Allah berikan. Ceritanya hari itu saya nginap di salah satu rumah teman karena ada kepentingan. Saat esoknya hendak pulang, tetiba ayahnya teman memberi saya uang sebanyak dua kali lipat dari jumlah uang yang saya berikan pada penambal ban. Saya pun bertanya, untuk apa uang itu? Beliau mengatakan, “Barangkali mau belanja keperluan apa saja.”
 
Pengalaman ini mengingatkan saya pada salah satu ceramah yang isinya, “Sahabat Rasulullah saw banyak yang berdagang dan kaya. Meskipun memiliki banyak harta, tapi mereka tidak pernah ketinggalan bersedekah. Dengan bersedekah, seseorang bisa menjalani hidup dengan tenang, terbebas dari sikap rakus terhadap harta dan lebih dekat pada Allah.”
 
Alhamdulillah, hari ketika ban motor bocor itu terjadi, rasa kesal tidak lagi dirasakan. Meskipun ada proses transaksi, tapi karena sekalian diniatkan untuk sedekah membantu penambal ban yang ada di pinggiran jalan, hati saya bisa terbebas dari rasa kesal.
 
Nyatalah bahwa sedekah itu bisa membuat seseorang kaya. Walapun bukan kaya harta, setidaknya menjadi kaya hati. Nyatalah bahwa sedekah itu mendatangkan balasan yang berlipat ganda. Uang yang digunakan menambal ban, keesokan harinya Allah balas dengan jumlah yang berlipat. Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah.






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Remaja Hebat, Siap Memimpin dan Dipimpin
Remaja Hebat, Siap Memimpin dan Dipimpin
18
Masa anak-anak adalah masa penanaman. Keberhasilan proses penanaman pada anak akan ditandai dengan kondisi mumayyiz, yaitu mampu menangkap hal baik dan siap melaksanakannya.
Galeri
DR. Zakir Naik dan Aa Gym sedang berdialog

Dialog antara Aa Gym dengan Dr. Zakir Naik selepas Shol

Dari Kecil Mencintai NKRI

Belajar mengajak anak bergabung dalam event besar, agar

Antri Toilet

Jamaah rapi berbaris antri untuk menggunakan toilet por