Cerita Santri
TK atau Play Group, Tidak Wajib Kok!

TK atau Play Group, Tidak Wajib Kok!
Sejak usia tiga tahun, Asti dimasukkan ke Play Group. Sekarang ia duduk di kelas nol besar sebuah Taman Kanak-kanak (TK) dekat rumahnya. Sehari-harinya, bocah berwajah manis itu full aktifitas.

Asti, bocah cilik empat tahun lebih tujuh bulan itu biasa dipanggil. Meski masih terbilang balita, tapi Asti sudah bisa membaca dan berhitung.  “Asti juga sudah pintar ngomong Inggris lho, menari dan main piano juga bisa, karena setiap hari sehabis sekolah, di rumah saya datangkan guru les,”  ujar ibunya.
 
Sejak usia tiga tahun, Asti dimasukkan ke Play Group. Sekarang ia duduk di kelas nol besar sebuah Taman Kanak-kanak (TK) dekat rumahnya. Sehari-harinya, bocah berwajah manis itu full aktifitas. Seabrek kegiatan dilakoninya. Tidak hanya TK, tapi les piano, menari, dan bahasa Inggris pun diikutinya. Saking padatnya, Asti nyaris tidak punya waktu bermain. “Biar nantinya lebih siap kalau sudah masuk SD,” kata ibunya memberikan alasan.  
 
Cerita tadi mungkin sering kita temui sehari-hari. Ada orangtua yang begitu semangat untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi buah hatinya. Dari mulai Play Group, TK hingga SD diperkenalkan. Bahkan, anak juga dituntut untuk bisa pandai berhitung dan menulis. Prinsipnya, semakin dini mengusai kemampuan membaca dan menulis, semakin baik.
 
Tabu rasanya, bila si anak ujug-ujug dimasukkan ke SD tanpa dikenalkan dengan TK atau Play Group. Gengsi rasanya, ketika anak masuk SD, tapi belum bisa apa-apa. Sehingga banyak orangtua beranggapan bahwa keberadaan TK atau Play Group adalah mutlak, agar anak siap ketika nanti masuk SD.
 
Benarkah seperti itu? Apakah memang harus si kecil dimasukkan ke Play Group atau TK, agar ia lebih siap nantinya? Agar lebih mampu menangkap pelajaran-pelajaran yang ia terima di SD?
 
Prinsip belajar di TK atau Play Group adalah bermain. Meski hanya bermain, tetapi banyak manfaatnya.  Di TK atau Play Group, anak akan mendapatkan pelajaran-pelajaran baru seperti mengenal warna, bentuk, irama, dan lainnya lewat bermain. Lewat bermain pula, anak bukan hanya bisa mengembangkan otot-ototnya, baik otot kasar maupun otot halus, seperti perkembangan motorik kasar dan halus, tapi juga bisa berfantasi dan mengekspresikan diri. Anak juga belajar bersosialisasi, berbicara satu dengan lainnya lewat bermain. Kesiapan-kesiapan tersebut adalah kesiapan yang hendaknya mereka capai ketika nanti masuk SD.
 
Namun, jenjang TK atau Play Group tidak harus menjadi prasyarat masuk SD. Penting untuk diingat bahwa usia anak-anak adalah dunia bermain. Dunia mereka adalah canda tawa dan keceriaan. Kesiapan fisik, emosional, kognitif, dan sosial, tidak harus dicapai dengan memasukkan mereka ke TK atau Play Group.
 
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Fuad Hasan, sebagaimana dilansir Tempo News Room, menyoroti kesalahan sistem pengajaran yang terjadi di TK atau Play Group yang mengajarkan menulis dan berhitung. Menurutnya, Usia TK atau Play Group seharusnya diperuntukkan untuk bermain. Mengajarkan menulis dan berhitung di TK atau Play Group, menurut Fuad, dapat dianggap melanggar hak anak yang paling asasi, yaitu hak untuk bermain.


Jadi, boleh dibilang bahwa TK atau Play Group, sebetulnya tidak wajib dilalui anak. Karena memang belum waktunya prestasi si kecil dipacu. Sebab itu pula, program utama di TK atau Play Group, lebih mengacu pada pengembangan aspek sosialisasi, kognitif, motorik, bahasa, serta afeksi, bukan prestasi akademisnya. Maka cara pembelajarannya pun dilakukan dengan bermain.
 
Nah, karena sifatnya belajar sambil bermain inilah maka pembelajaran itu sebenarnya dapat dilakukan para orang tua di rumahnya masing-masing. Dengan kata lain, anak tidak wajib masuk TK atau Play Group.






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Mengenal Sosok Guru Kehidupan
Mengenal Sosok Guru Kehidupan
22
Setiap hari, Een membimbing para anak didiknya untuk mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah dan mengajar banyak hal. Terkadang, Een minta dibacakan surat kabar dan televisi oleh anak-anak, hingga kemudian
Galeri
Dari Kecil Mencintai NKRI

Belajar mengajak anak bergabung dalam event besar, agar

Antri Toilet

Jamaah rapi berbaris antri untuk menggunakan toilet por

Kompetesi Roket Air Regional (KRAR) Jabar 2016

Kompetesi Roket Air Regional (KRAR) Jabar 2016 diadakan