Cerita Santri
Sungguhkah Kita Umat Terbaik?

Sungguhkah Kita Umat Terbaik?
Meskipun kalimat pada ayat di atas dikemas dengan fiil madhi (lampau), namun sanjungan tersebut tidak ditujukan untuk umat Islam di masa lalu saja, melainkan umat Islam hingga

Allah Swt. berfirman, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..” (QS. Ali ‘Imran [3]: 110).

Betapa kita, umat Islam, disanjung oleh Allah Swt. dengan ayat ini dengan sanjungan yang sedemikian mulia : “umat yang terbaik”. Apalagi jika ayat ini ditafsirkan dengan hadits Rasulullah Saw. yang diriwayatkan At Tirmidzi, “Kalian adalah penyempurna 70 umat, kalian yang terbaik di antara mereka dan termulia di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.”  

Meskipun kalimat pada ayat di atas dikemas dengan fiil madhi (lampau), namun sanjungan tersebut tidak ditujukan untuk umat Islam di masa lalu saja, melainkan umat Islam hingga akhir zaman. Hal ini dikuatkan dengan hadits Rasulullah Saw., “Umatku bagaikan hujan, tak diketahui yang lebih baik itu yang pertama ataukah yang terakhir.” (HR. Abu Dawud).

Allah menyanjung kita dengan istilah “Khaira ‘Ummah”. Artinya, “umat terbaik”. Khaira berasal dari kata Khaara, yakhiiru, khairan yang berarti ‘menjadi baik’. Sebagai kata benda, Khair berarti sesuatu yang bermanfaat. Sebagai isim tabdil, Khair bermakna lebih baik, terbaik atau paling baik. Sedangkan kata ‘Ummah adalah bentuk jamak dari ‘umam, berasal dari ‘amma ya’ummu yang berarti banyak, kelompok atau golongan. Maka, Khaira ‘Ummah adalah sekelompok manusia terbaik yang memberi manfaat untuk orang lain atau lingkungan sekitarnya.

Mari, sejenak kita mengingat diri kita sebagai umat Islam. Kelompok manusia yang memiliki persentase sangat besar dari jumlah seluruh penduduk bumi. Mari pula kita mengingat diri kita sebagai umat yang memiliki sejarah gilang gemilang. Kemudian, mari kita melihat diri kita sendiri saat ini. Masih pantaskah sanjungan sebagai umat terbaik itu melekat pada diri kita?!

Kitakah umat terbaik itu, yang sebagian besarnya terus terseok-seok dalam petak-petak negara tertinggal dan pengikut? Kitakah umat terbaik itu, yang masih saja lebih sibuk dengan sengketa antar madzhab, antar bendera, antar ormas? Kitakah umat terbaik itu, yang masih saja dililit dengan kemiskinan dan kebodohan? Jika mau jujur, rasa-rasanya umat yang kondisinya seperti demikian masih jauh dari pantas disebut sebagai umat terbaik.

Mengapa pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan? Karena tidak bisa kita pungkiri, kenyataannya umat Islam menghuni negara-negara yang masih saja tertinggal oleh negara-negara yang mayoritasnya non-muslim. Kita pun tak bisa pungkiri bahwa ukhuwah Islamiyyah sampai saat ini masih menjadi jargon yang sulit kita amalkan. Kita sibuk berselisih dengan sesama, bukannya sibuk bekerjasama melawan musuh bersama (common enemy). Keluar, kita dikenal sebagai penebar terror, bukan penabur damai.

Apa yang salah dengan kita? Baiknya, kita kembali menelaah ayat yang kita ulas di bagian awal tulisan ini. Ternyata ada beberapa ketentuan yang harus kita tempuh untuk menjadi umat terbaik. Pertama, menyeru kepada kebaikan. Barangkali inilah yang hilang atau terlupakan. Kalaupun ada, barangkali seruan pada kebaikan lebih dilatarbelakangi karena motivasi duniawi.

Kedua, mencegah kemunkaran. Saat ini tidak jarang orang yang sungkan atau segan melarang kemunkaran. Rasa sungkan itu bisa jadi disebabkan takut kehilangan jabatan, takut dijauhi orang. Atau, memang apatis, tidak peduli pada keadaan, yang penting diri sendiri aman, nyaman, tidak peduli pada keburukan yang terjadi.  

Ketiga, beriman kepada Allah Swt. Inilah hal yang paling fundamental. Jangan-jangan kita memang sudah terjangkit kemunafikan. Iman hanya di bibir, tak meresap di hati apalagi tercermin dalam ucapan dan amal perbuatan, atau dikenal dengan istilah ‘Islam KTP’. Jika sudah demikian, bagaimana mungkin umat ini menjadi umat terbaik dan rahmat bagi seluruh alam.

Perkembangan zaman yang semakin cepat adalah tantangan sekaligus peluang. Justru dalam keadaan inilah semestinya kita umat Islam semakin gencar pula mempertebal iman, mengeratkan ukhuwah, semakin giat ikhlas menyeru kepada kebaikan dan mencegah keburukan. Dengan konsistensi (istiqamah) dan kesungguhan (mujahadah) dalam hal-hal inilah, dengan izin Allah, umat ini tetap menjadi umat terbaik di antara umat-umat yang ada di dunia. Wallahua’lam bishawab.[]    
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Pengalaman Meliput Aksi Super Damai
Pengalaman Meliput Aksi Super Damai
05
Semua mempunyai pengalaman yang menarik tentang aksi super damai 212 kemarin, kejadian yang serasa tidak mungkin terjadi menjadi suatu keajaiban seperti mujizat....