Cerita Santri
Membudayakan Rasa Malu Sejak Dini

Membudayakan Rasa Malu Sejak Dini
Orang-orang Barat memiliki pandangan bahwa pendidikan seks bertujuan untuk menekankan pentingnya kesetiaan terhadap pasangan, baik sudah menikah maupun belum menikah. Tujuan lainnya yakni menghindari kehamilan di usia remaja dan terhindar dari pelecehan seksual.

Islam mengatur setiap sendi kehidupan manusia, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Aturan tersebut tiada lain merupakan wujud kasih sayang yang Allah berikan kepada umat-Nya. Bukan untuk mempersulit, melainkan untuk menyelamatkan manusia agar tidak tersesat dan berujung pada kesengsaraan.
 
Segala sesuatunya Allah atur, termasuk cara bergaul dan menjaga kehormatan, baik laki-laki maupun perempuan. Dalam Islam, hal ini sangat penting mengingat manusia adalah makhluk yang memiliki hawa nafsu. Jika disalurkan dengan baik dan pada tempatnya, maka Allah akan anugerahkan pahala. Begitu juga sebaliknya. 
 
Pendidikan Seks Ala Barat
Pentingnya pendidikan seks sejak dini ternyata telah disadari sejak lama. Walau demikian, setiap negara memiliki perbedaan teknik dan tujuan dari pendidikan itu sendiri. Di dunia Barat, orang yang paham pentingnya pendidikan seks sejak dini merasa bangga dan menilai dirinya sebagai masyarakat modern. Padahal, Rasulullah saw telah terlebih dahulu mengajarkan dan mencontohkan kepada kita, namun dengan metode dan tujuan yang berbeda dari dunia Barat.
 
Orang-orang Barat memiliki pandangan bahwa pendidikan seks bertujuan untuk menekankan pentingnya kesetiaan terhadap pasangan, baik sudah menikah maupun belum menikah. Tujuan lainnya yakni menghindari kehamilan di usia remaja dan terhindar dari pelecehan seksual.
 
Tujuan keliru lainnya adalah masyarakat mampu menghindari hubungan seks jika tidak diinginkan atau seks yang tidak aman. Jadi, kalau tidak ingin berhubungan seks dengan orang itu, jangan segan-segan menolak. Tapi kalau suka sama suka, tidak apa-apa. Tapi jangan lupa, seks yang aman. Aman berarti jangan sampai hamil, dan jangan sampai terinfeksi penyakit yang ditularkan akibat hubungan seks yang tidak aman.
 
Tujuan terakhir dari pendidikan seks ala Barat adalah mengetahui keuntungan menunda hubungan seks. Maksudnya menunda di sini bukan menunda hingga menikah, melainkan menunda hingga siap dan benar-benar menyukai pasangannya. Itulah beberapa tujuan pendidikan seks ala Barat yang secara kasat mata terlihat ‘melindungi’, padahal itu sangat buruk dan menjerumuskan.
 
Ironisnya, seks bebas saat ini sudah bukan kejadian langka. Fenomena mengerikan tersebut bahkan sudah merambah ke dunia anak-anak, terutama pelajar. Yang lebih mengerikan lagi adalah kejahatan seks terhadap anak-anak di bawah umur, laki-laki maupun perempuan.
 
Islam yang Terbaik
Pendidikan seks usia dini dalam Islam bertujuan menjaga keselamatan dan kehormatan serta kesucian anak-anak kita di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, baik anak laki-laki maupun perempuan akan terjaga akhlak dan agamanya.
 
Pola pendidikan seksual dalam Islam yang praktis diberikan orangtua kepada anaknya, tidaklah melalui metode pembahasan lisan secara vulgar dan menimbulkan rasa malu. Metode pendidikan kenabian sejalan dengan fitrah manusia yang malu membicarakan hal-hal seronok. Hal ini sangat berbeda dengan metode Barat yang sarat dengan muatan seronok dalam pendidikan seksual.
 
Islam melakukan pencegahan sedini mungkin agar rangsangan yang bersifat naluriah tidak mengakibatkan bahaya bagi anak-anak. Cara-cara pengajaran pendidikan seksual Islam yang diajarkan Rasulullah saw antara lain adalah pemisahan tempat tidur.
 
Rasulullah saw bersabda, “Suruhlah anak-anakmu salat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (tanpa menyakitkan jika tidak mau salat) ketika mereka berumur sepuluh tahun; dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud)
 
Perintah Rasulullah untuk melakukan pemisahan tempat tidur ini akan membangkitkan kesadaran pada anak-anak tentang status perbedaan kelamin. Cara semacam ini selain memelihara nilai ahlak, sekaligus juga mendidik anak mengetahui batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan.
 
Keuntungan membiarkan anak laki-laki dan perempuan sekamar tidur tidak ada. Tetapi kerugiannya jelas besar. Yaitu kemungkinannya terjadi pelanggaran keasusilaan secara Islam. Dengan demikian hukum memisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan adalah wajib.
 
Membudayakan Rasa Malu
Rasa malu merupakan salah satu sifat terpuji dalam Islam dan merupakan bagian dari iman. Dengan malu, seseorang akan terhindar dari berbagai perbuatan tercela. Dalam hadis Ibnu Umar disebutkan, “Rasulullah melewati seorang lelaki Anshar yang sedang menasihati saudaranya agar saudaranya tersebut punya sifat malu. Maka Rasulullah bersabda, ‘Biarkan ia, karena sesungguhnya malu itu bagian dari iman.’”(HR. al-Bukhari no.24, Muslim no.36)
 
Rasa malu ialah rasa terhina atau direndahkan kehormatannya oleh orang lain karena berbuat sesuatu yang kurang baik. Karena itu, bagian tertentu yang menimbulkan perasaan terhina kalau diketahui orang lain ini oleh agama dinamakan aurat.
 
Manusia adalah makhluk yang dikaruniai rasa malu. Untuk melindungi dan memuliakannya, Allah memerintahkan manusia untuk menutupi auratnya sebagai pembeda antara manusia dengan hewan. Batas aurat hanya ada pada manusia dan tidak berlaku pada hewan. Hewan tidak memiliki rasa malu, karena bagian tubuh tertentunya terbuka sehingga terlihat oleh siapa saja. Karena itu, manusia yang tidak mempedulikan auratnya sama saja dengan hewan.
 
Membudayakan rasa malu sejak dini sangat penting. Anak dapat belajar membedakan mana yang boleh dan tidak boleh ditunjukkan dan batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Membudayakan rasa malu kepada anak dapat dilakukan oleh orang tua semenjak anak berusia balita.
 
Beberapa aktivitas ringan dapat dilakukan dalam kegiatan sehari-hari, misalnya: Pertama, mengajari anak perempuan untuk memakai jilbab sejak dini. Saat akan ke luar rumah, walau masih balita sebisa mungkin anak diajari memakai pakaian yang menutup auratnya. Sebagian anak mungkin pada awalnya merasa tidak nyaman, namun jika sudah menjadi kebiasaan, anak akan terbiasa dan merasa tidak nyaman ketika ke luar rumah tanpa menutup auratnya.
 
Jika anak sudah diajari memakai jilbab sejak dini, maka sebagai orangtua harus bisa menjaga dan memberikan contoh yang baik. Anak akan mencontoh perilaku orangtuanya. Jika orangtuanya istiqamah menutup aurat, maka anaknya juga demikian. Anak merasa malu jika auratnya terlihat oleh orang lain, dan kebiasaan tersebut akan tertanam hingga ia dewasa.
 
“Katakanlah pada perempuan-perempuan beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan memelihara kemaluan-kemaluan mereka. Janganlah mereka memperlihatkan perhiasan-perhiasan mereka, kecuali yang tampak. Dan hendaklah mereka menutupkan kerudung mereka pada dada-dada mereka. Dan janganlah memperlihatkan perhiasan mereka, kecuali pada suami-suami mereka…” (QS. an-Nur ayat 31)
 
Kedua, walau masih balita, seorang anak harus dilatih untuk tidak membuka baju atau mengganti baju di sembarangan tempat. Orangtua juga harus paham agar tidak membuka atau mengganti baju anaknya di depan umum. Jika anak sudah bisa mengganti baju sendiri, arahkan dia untuk melakukannya di tempat-tempat yang tertutup, misalnya di kamar tidur atau kamar mandi. Dengan demikian anak belajar rasa malu dan paham bahwa auratnya tidak boleh ditunjukkan ke orang lain.
 
Ketiga, mengawasinya saat bermain. Anak usia balita belum paham pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Mereka akan menganggap sama dan tidak ada batasan di antara mereka. Yang mereka tahu hanya bermain dan gembira. Walau demikian, bukan berarti anak laki-laki dan perempuan tidak boleh kenal dan bergaul, melainkan harus tetap diawasi.
 
Anak yang sudah terbiasa bercampur-baur dengan lawan jenisnya tanpa ada batasan dan pengawasan, akan menjadi kebiasaan hingga ia dewasa. Walau masih kecil, anak harus diberitahu batasan dan fitrahnya. Misalnya, anak perempuan bermain dengan anak perempuan. Bermain boneka, bermain masak-makan, dan lain-lain. Boleh saja bermain dengan anak laki-laki, tapi harus tetap diawasi. (Astri Rahmayanti)
 
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Ayat-ayat Cinta Kang Abik, Cara Dakwah melalui Kisah
Ayat-ayat Cinta Kang Abik, Cara Dakwah melalui Kisah
29
Menurutnya, apa yang dikatakan Nabi Yaqub konteksnya tepat untuk berdakwah. “Jadi, dakwah bisa dilakukan melalui lini apa saja. Selama itu baik, dan tidak bertentangan dengan ajaran Rasulullah saw, kita masuk. Ada yang
Galeri
DR. Zakir Naik dan Aa Gym sedang berdialog

Dialog antara Aa Gym dengan Dr. Zakir Naik selepas Shol

Dari Kecil Mencintai NKRI

Belajar mengajak anak bergabung dalam event besar, agar

Antri Toilet

Jamaah rapi berbaris antri untuk menggunakan toilet por