Cerita Santri
Hidup Bijak Bersama Istri

Hidup Bijak Bersama Istri
, “Janganlah seorang mukmin itu membenci seorang mukminah. Jika ia benci kepada satu perilaku, maka ia akan puas dengan perilaku yang lainnya.” (Riwayat Muslim)

“Suamiku sering menyebut-nyebut kelebihan perempuan lain di depanku. Seolah-olah dia menyesal menikah denganku,” ujar seorang ibu rumah tangga. Tampak kesedihan terpancar dari wajahnya. Dan, kedua matanya pun berkaca-kaca.
 
Memang, ada kalanya seorang suami tidak puas dengan keadaan istrinya. Ia selalu mengingat kekurangan istri dan membandingkannya dengan perempuan lain. Boleh jadi kekurangan istri dirasa cukup berat bagi suami. Namun, dalam waktu yang sama, sang istri sesungguhnya juga memiliki banyak kelebihan serta sekian banyak sifat yang terpuji.
 
Semua ini menuntut suami untuk perlahan-lahan dan berhati-hati dalam mengambil sikap. Jangan sampai ia menilai dan meghukum istrinya hanya melalui aib-aibnya saja. Ia harus mampu melihat kebaikan dan keburukannya, serta kelebihan dan kekurangannya secara bersamaan. Jangan memberikan keputusan berdasarkan satu sudut pandang saja. Allah berfirman, ”Dan bergaullah dengan mereka secara patut, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (an-Nisa [4]: 9)
 
Oleh karena itu, janganlah seorang suami membenci istrinya karena perilaku tertentu. Sekali-kali jangan! Nabi bersabda, “Janganlah seorang mukmin itu membenci seorang mukminah. Jika ia benci kepada satu perilaku, maka ia akan puas dengan perilaku yang lainnya.” (Riwayat Muslim)
 
Ketahuilah, bahwa dalam kehidupan rumah tangga tidak memungkinkan untuk mendapatkan seorang istri yang seratus persen sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Sudah tentu terdapat perbedaan karakter, dan sudah tentu pula bahwa suami akan melihat sesuatu yang menyenangkan dan tidak menyenangkan.
 
Oleh karena itu, terimalah kenyataan ini. Jangan melawan kehidupan dan hendak mengalahkan tabiat yang sudah mengakar, karena tidak mudah mengubahnya. Sekalipun hal itu mungkin, memerlukan waktu yang cukup panjang, kesabaran mendalam, latihan terus-menerus, dan jiwa yang tabah.
 
Ada persoalan yang seringkali dipahami keliru oleh kaum laki-laki (suami). Yaitu bahwa mereka menganggap akal perempuan itu lemah dan kurang cerdas, serta cara berpikirnya bengkok, kurang lurus.
 
Pendapat dan anggapan seperti ini sama sekali tidak ada dasarnya, dan jelas tidak benar. Sumbernya adalah pemahaman yang keliru mengenai beberapa hadits yang berbicara mengenai masalah ini. Misalnya, hadits yang menyebutkan bahwa mereka adalah “Orang-orang yang kurang akal dan agamanya.”
 
Redaksi hadits seperti ini dipahami secara keliru oleh sebagian orang. Mereka memahami bahwa kurangnya akal di sini adalah kurangnya kecerdasan atau kebengkokan dalam berpikir. Ini jelas keliru. Yang dimaksudkan di sini adalah sifat lupanya kaum perempuan lebih banyak daripada lelaki. Hal itu disebabkan karena ada banyak hal yang dialami oleh kaum perempuan yang membuatnya mudah lupa, terlebih dalam kehidupan umum, dimana ia tidak bisa seleluasa kaum lelaki.
 
Demikian juga dengan kekurangan agamanya. Ini tidak berarti kekurangan mengenai hakikat agamanya. Tetapi kekurangan itu terdapat pada sebagian dari hal-hal peribadahan. Sedangkan dalam hal ini, perempuan tidaklah dihukum karena meninggalkannya. Bahkan ia justru diharamkan untuk mengerjakannya.
 
Adapun jika dasar keyakinan pada diri laki-laki berkenaan dengan akal wanita bukanlah sebagaimana dijelaskan di atas, dan memang ia telah menikahi yang kurang cerdas atau bengkok pikirannya, maka tidak ada alasan baginya untuk menyebutkan hal itu di hadapannya. Atau selalu membodoh-bodohkan pendapatnya. Ia pun harus menerima segala kekurangannya, sepanjang perempuan itu menjadi istrinya.
 
Adalah tidak adil jika ia menimbangnya dengan sesuatu yang memang tidak dimiliki olehnya. Yang tak kalah penting lagi adalah pernyertaan istri terkait dengan urusan rumah tangga. Yaitu dalam hal berpikir dan merencanakan suatu hal bersama sang suami. Rasulullah pun tidak segan untuk meminta pendapat istrinya. Jadi, jangan segan untuk mencontoh Rasulullah dalam masalah ini.
 
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
ATM Sedekah
ATM Sedekah
26
Perilaku bersedekah sering kali berbalas kejadian berupa pelipatgandaan rezeki dari jumlah yang disedekahkan. Maka pada hari itu, balasan berlipat ganda pun Allah berikan
Galeri
DR. Zakir Naik dan Aa Gym sedang berdialog

Dialog antara Aa Gym dengan Dr. Zakir Naik selepas Shol

Dari Kecil Mencintai NKRI

Belajar mengajak anak bergabung dalam event besar, agar

Antri Toilet

Jamaah rapi berbaris antri untuk menggunakan toilet por