Cerita Santri
Peduli Difabel dan Memberdayakan

Peduli Difabel dan Memberdayakan
Dengan Kemahaadilan-Nya, Allah menghadirkan mereka agar menjadi hikmah, memberikan banyak pembelajaran dan inspirasi kepada yang lainnya, seperti pada kisah hidup Een Sukaesih dan Syaikh Jihad al-Maliki.

Masih ingatkah pada sosok ‘guru qalbu’, Een Sukaesih? Perempuan asal Sumedang ini selalu menjadi inspirasi karena dengan segala keterbatasannya, dia mempu memberikan manfaat kepada sekitarnya. Kelumpuhannya selama 26 tahun, tidak membuatnya berhenti memberikan ilmu kepada puluhan muridnya.
Een yang meninggal pada 12 Desember 2014 lalu ini mengalami perjuangan luar biasa semasa hidupnya. Walaupun terkena Rhematoid Artitis dan membuatnya sakit-sakitan sampai harus bolak-balik ke dokter, perempuan yang bercita-cita menjadi guru ini mampu menamatkan kuliah D3 pada Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan di IKIP Bandung (UPI).

Puncaknya, Een lumpuh total tidak lama setelah lulus dan diterima mengajar di SMA Sindang Laut Cirebon. Dia hanya bisa berbaring, sempat membuat punggungnya lecet. Namun, Een tidak menyerah untuk memberikan manfaat kepada orang sekitarnya. Dimulai dari keluarga terdekat, dia membantu anak-anak untuk mengerjakan tugas sekolah. Lama kelamaan, anak-anak di sekitar rumahnya pun datang kepadanya untuk minta diajari. Hingga akhirnya, puluhan anak mendatangi kamarnya untuk minta diajari berbagai hal.

Een dengan tulus mengajari anak-anak tersebut bukan hanya ilmu pengetahuan, namun juga pendidikan karakter dan nilai-nilai Islam. Dia menginginkan ‘muridnya’ tidak hanya pintar secara akademik dan ilmu pengetahuan, tapi juga cerdas dalam bersikap.

Een, sang ‘guru qalbu’ bisa kuat dan menginspirasi tidak terlepas dari peranan keluarga, terutama kakek dan neneknya yang tulus merawatnya. Ketika kuliah pun, ada sosok sahabat yang setia menemani dan menguatkannya. Tidak ketinggalan juga motivasi dan usaha salah seorang guru Een untuk melanjutkan sekolahnya ke IKIP Bandung.

Satu lagi, sosok yang menginspirasi dengan keterbatasannya. Dialah Syaikh Jihad al-Miliki, Hafiz Cilik asal Madinah yang Allah takdirkan tidak bisa melihat. Namun, Kebutaannya tidak membuatnya berkecil hati dan berputus asa. Atas bimbingan kedua orang tua dan guru-gurunya, beliau mampu menyimpan 30 juz di dadanya pada usia 7 tahun dan memperoleh sanad pada usia 11 tahun.

Uniknya, di usianya yang masih muda, ketika ditanya apakah pernah meminta dihilangkan kebutaannya, sang hafiz cilik tersebut menjawab, tidak pernah meminta untuk diberi penglihatan. Dia mengutip hadist, “Sesungguhnya Allah berfirman, “Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan dua kekasihnya (kedua matanya), kemudian ia bersabar, niscaya Aku menggantikan keduanya (kedua matanya) dengan surga.” (HR. Bukhari No. 5653). Masya Allah.
 
Islam Memuliakan para Difabel
Difabel berasal dari dua kata Differently Ability, artinya memiliki kemampuan berbeda dengan orang kebanyakan. Istilah ini ditujukan bagi mereka yang memiliki kekhususan berupa keterbatasan fisik, keterbatasan mental, atau keterbatasan fisik dan mental.

Ada sembilan kategori difabel, yakni A; tunanetra (buta atau kurang melihat), B; tunarungu (tuli atau kurang mendengar), C; tunawicara (bisu atau keterbatasan bicara), D; tunadaksa (keterbatasan anggota tubuh), E1; tunalaras (keterbatasan suara dan nada), E2, tunalaras (sukar mengendalikan emosi dan sosial), F; tunagrahita (cacat pikiran, lemah daya tangkap), dan G; tunaganda (menyandang dua atau lebih jenis difabel).

Dengan Kemahaadilan-Nya, Allah menghadirkan mereka agar menjadi hikmah, memberikan banyak pembelajaran dan inspirasi kepada yang lainnya, seperti pada kisah hidup Een Sukaesih dan Syaikh Jihad al-Maliki. Allah berfirman, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”(at-Tin[95]:4)

Allah pun tidak melihat seseorang dari fisiknya, melainkan ketakwaan dan amalnya. Rasulullah bersabda,“Sesungguhnya Allah tidak melihat wajah dan bentuk tubuh kalian, akan tetapi Allah melihat qalbu (akal dan hati) dan perbuatan kalian.”(HR. Muslim, Ahmad, dan Ibnu Majah)

Dalam catatan sejarah dan termaktub dalam al-Quran, Islam pun sangat memuliakan penyandang difabel, misalnya Abdullah bin Umi Maktum r.a, sahabat Rasulullah saw penyandang tunanetra. Rasulullah saw memuliakannya dengan menjadikannya muazin bergantian dengan Bilal bin Rabah r.a.
Rasulullah saw mengungkapkan ketika Ramadan, azan Abdullah bin Ummi Maktum menjadi penanda waktu subuh, dalam sabda Rasulullah saw, “sesungguhnya Bilal adzan pada waktu (sepertiga) malam. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum adzan. Karena ia tidak akan adzan kecuali setelah terbitnya fajar shadiq (masuk waktu subuh).” (Diriwayatkan dari Aisyah r.a)

Beberapa kali, Abdullah bin Ummi Maktum r.a pun diminta oleh Rasulullah saw untuk menjadi wakilnya di Madinah, ketika Rasulullah pergi berperang. Uniknya, walaupun seorang tunanetra, Abdullan bin Ummi Maktum memiliki hasrat yang besar untuk ikut berjihad. Walaupun Rasulullah sudah memintanya untuk menjadi wakil Rasulullah saw.

Allah pun memuliakannya dengan turunya Surat Abasa 1-10. Sebab turunnya ayat-ayat tersebut adalah ketika Abdullah bin Ummi Maktum menanyakan sesuatu kepada Rasulullah saw, Namun Rasulullah saw lebih memprioritaskan para pembesar Quraisy untuk didakwahi.

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya." (QS Abasa: 1-10).

Peduli Difabel dan Memberdayakan
Menyandang difabel bukan berarti menjadi beban dan peduli kepada para difabel menjadi kewajiban setiap muslim, bahkan setiap orang. Seorang muslim sepatutnya tidak membeda-bedakan teman dari kondisinya, melainkan dari ketakwaannya, seperti ungkapan Rasulullah saw bahwa Allah tidak membedakan manusia, melainkan dari amalnya.

Setiap muslim pun selayaknya berusaha membantu para difabel untuk bisa mengoptimalkan potensinya di balik keterbatasannya, seperti Rasulullah saw yang mampu menempatkan Abdullah bin Ummi Maktum menjadi seorang muazin dan wakilnya di kota Madinah.

Memberikan akses untuk setiap layanan umum kepada para difabel menjadi kunci untuk menjadikan mereka mandiri. Menyediakan lingkungan inklusi membuat mereka lebih percaya diri dan mudah dalam melakukan berbagai hal, Inklusi berarti  membangun dan mengembangkan sebuah lingkungan yang semakin terbuka; mengajak masuk dan mengikutsertakan semua orang dengan berbagai perbedaan latar belakang, karakteristik, kemampuan, status, kondisi, etnik, budaya dan lainnya, termasuk kepada para difabel. Dalam lingkungan inklusi orang yang tinggal, berada dan beraktivitas dalam lingkungan keluarga, sekolah ataupun masyarakat merasa aman dan nyaman mendapatkan hak dan melaksanakan kewajibannya.

Contoh usaha untuk menciptakan lingkungan inklusi kepada para difabel adalah hadirnya masjid inklusi, artinya masjid tersebut ramah kepada para difabel. Di dalamnya disediakan toilet khusus difabel yang mudah diakses oleh mereka yang tunadaksa, disediakan lift dan jalur tangga khusus kursi roda, dan menyediakan penerjemah bahasa isyarat untuk menerjemahkan kajian untuk para tunarungu.

Membuat para difabel mandiri secara ekonomi juga menjadi tugas semua pihak dan sangat penting. Memberikan kesempatan kepada mereka untuk memperoleh life skill sehingga mereka bisa bermanfaat dan memberikan kontribusi kepada orang sekelilingnya terutama keluarga, menjadi tanggung jawab bersama. Hal tersebut bisa dilakukan dengan memberikan pelatihan keterampilan seperti manjahit dan terapi pijat, kemudian memberikan akses pekerjaan setelahnya atau modal untuk membuka usaha.

Kemandirian para difabel secara ekonomi setelah diberikan pelatihan dan akses ini terbukti, melaui program yang digulirkan oleh DPU Daarut Tauhiid. Lembaga amil zakat ini bekerja sama dengan HWDI, memberikan pelatihan bagi para tunadaksa dan tunarungu sampai mereka diberikan akses untuk mendiri secara ekonomi. Semoga kita semua bisa lebih peduli kepada mereka yang dibuat spesial oleh Allah  tersebut. Amiin. Wallahu ‘alam bishawab.(*)






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Mencegah dan Mengobati Penyakit dengan Sayuran dan Buah
Mencegah dan Mengobati Penyakit dengan Sayuran dan Buah
20
Sayuran tertentu seperti wortel, tomat, atau lobak dapat memberikan efek menenangkan pikiran karena mengandung asam amino. Zat ini dapat merangsang proses pembuatan hormon serotonin di sistem saraf manusia.
Galeri
DR. Zakir Naik dan Aa Gym sedang berdialog

Dialog antara Aa Gym dengan Dr. Zakir Naik selepas Shol

Dari Kecil Mencintai NKRI

Belajar mengajak anak bergabung dalam event besar, agar

Antri Toilet

Jamaah rapi berbaris antri untuk menggunakan toilet por