Cerita Santri
Mengenal Sosok Guru Kehidupan

Mengenal Sosok Guru Kehidupan
Setiap hari, Een membimbing para anak didiknya untuk mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah dan mengajar banyak hal. Terkadang, Een minta dibacakan surat kabar dan televisi oleh anak-anak, hingga kemudian

Menjadi guru tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Beban berat di balik nama guru, menjadi tantangan besar bagi setiap orang yang memiliki titel “guru”. Secara sederhana, guru diartikan sebagai orang yang memiliki keahlian tertentu, dan kemudian mengajarkannya kembali kepada muridnya.
 
Tugas guru tidak hanya bermakna memindahkan ilmu pengetahuan kepada para murid. Lebih dari itu, tugas guru adalah menyentuh kehidupan para muridnya. Guru harus membantu, menolong, dan membimbing para muridnya agar mereka menjadi orang berilmu, mandiri, dan  berakhlak baik.
 
Guru adalah kehidupan, bukan penghidupan. Artinya, menjadi guru itu tak sebatas profesi. Apalagi menjadikan profesi guru untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kehidupannya adalah menjadi guru, bukan menjadi guru untuk menemukan kehidupan.
 
Masih ingat dengan Een Sukaesih, pejuang pendidikan asal Sumedang? Dengan segala keterbatasannya, Een tetap mengabdikan dirinya di dunia pendidikan dengan menjadi guru bagi puluhan anak di sekitarnya. Setiap hari, Een membimbing para anak didiknya untuk mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah dan mengajar banyak hal. Terkadang, Een minta dibacakan surat kabar dan televisi oleh anak-anak, hingga kemudian Een membahasnya dan menggali hikmah atau pelajarannya.
 
Di usianya yang tidak muda lagi, dan kelumpuhan yang menderanya hingga puluhan tahun, tidak membuat Een menyerah begitu saja. Cita-cita menjadi seorang guru, ia wujudkan dengan mengajar anak-anak yang ada di sekitarnya. Dengan membantu mengerjakan pekerjaan rumah dan membimbing para muridnya, Een merasa sangat bahagia. Bahkan, menurut Een, murid-muridnya itulah yang memberikan kekuatan dan semangat hidup kepada Een. Sesekali Een juga mengajarkan pelajaran agama, dengan harapan anak-anak didiknya memiliki akhlak dan karakter yang baik.
 
Tanpa memungut bayaran sepeser pun, Een menjadikan “profesi”-nya ini sebagai wujud baktinya kepada dunia pendidikan. Selain mengisi waktu luang, mengajar adalah “profesi” yang sangat ia cintai hingga akhir hayatnya. Untuk dedikasinya di dunia pendidikan, Een memperoleh sejumlah penghargaan. Een kini telah tiada. Namun semangat hidup dan pelajaran yang diberikan, tetap hidup di hati para anak didiknya.
 
Alam Semesta, Guru yang Bijak
Untuk menemukan sesosok guru, kita tidak harus pergi ke sekolah. Ini karena setiap saat kita akan menemukannya, kapan pun dan di mana pun. Alam semesta yang Allah SWT ciptakan adalah guru untuk kita. Orang yang membenci atau menghina kita, bayi yang baru lahir, bahkan semut yang kecil pun adalah guru buat kita.
 
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih berganti malam dan siang bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (keringnya)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat)tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. al-Baqarah [20]: 164)
 
Sebagai gambaran, mari kita simak kisah berikut ini. Tidak jelas siapa Hasan di dalam cerita ini, jika dia adalah Hasan dari Basrah, maka dia adalah Hasan al-Bashri, seorang guru sufi besar yang sangat dikenal para sufi. Terlepas dari siapa tokoh dalam cerita ini, mari kita berusaha mendalami esensi dan mencari hikmah apa yang tersembunyi di dalam cerita tersebut.
 
Tatkala seorang guru sufi besar Hasan, mendekati akhir masa hidupnya, seseorang bertanya kepadanya, “Hasan, siapakah gurumu?”
 
Dia menjawab, “Aku memiliki ribuan guru. Menyebut nama mereka satu-persatu akan memakan waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun dan sudah tidak ada waktu lagi untuk menjelaskannya. Tetapi ada tiga orang guru yang akan aku ceritakan kepadamu.”
 
Pertama adalah seorang pencuri. Suatu saat aku tersesat di gurun pasir, dan ketika aku tiba di suatu desa, karena larut malam maka semua tempat telah tutup. Tetapi akhirnya aku menemukan seorang pemuda yang sedang melubangi dinding pada sebuah rumah. Aku bertanya kepadanya di mana aku bisa menginap dan dia berkata, “Adalah sulit untuk mencarinya pada larut malam seperti ini, tetapi engkau bisa menginap bersamaku, jika engkau bisa menginap bersama seorang pencuri.”
 
Sungguh menakjubkan pemuda ini. Aku menetap bersamanya selama satu bulan! Dan setiap malam ia akan berkata kepadaku, “Sekarang aku akan pergi bekerja. Engkau beristirahatlah dan berdoa.” Ketika dia telah kembali aku bertanya, “Apakah engkau mendapatkan sesuatu?” Dia menjawab, “Tidak malam ini. Tetapi besok aku akan mencobanya kembali, jika Tuhan berkehendak.” Dia tidak pernah patah semangat, dia selalu bahagia.
 
Ketika aku berkhalwat (mengasingkan diri) selama bertahun-tahun dan di akhir waktu tidak terjadi apa pun, begitu banyak masa di mana aku begitu putus asa, begitu patah semangat, hingga akhirnya aku berniat untuk menghentikan semua omong kosong ini. Dan tiba-tiba aku teringat akan si pencuri yang selalu berkata pada malam hari. “Jika Tuhan berkehendak, besok akan terjadi.”
 
Guruku yang kedua adalah seekor anjing. Tatkala aku pergi ke sungai karena haus, seekor anjing mendekatiku dan ia juga kehausan. Pada saat ia melihat ke airnya dan ia melihat ada anjing lainnya di sana “bayangannya sendiri”, dan ia pun ketakutan. Anjing itu kemudian menggonggong dan berlari menjauh. Tetapi karena begitu haus ia kembali lagi. Akhirnya, terlepas dari rasa takutnya, ia langsung melompat ke airnya, dan hilanglah bayangannya. Dan pada saat itulah aku menyadari sebuah pesan datang dari Tuhan: ketakutanmu hanyalah bayangan, ceburkan dirimu ke dalamnya dan bayangan rasa takutmu akan hilang.
 
Guruku yang ketiga adalah seorang anak kecil. Tatkala aku memasuki sebuah kota dan aku melihat seorang anak kecil membawa sebatang lilin yang menyala. Dia sedang menuju masjid untuk meletakkan lilinnya di sana.
 
“Sekadar bercanda,” kataku kepadanya. “Apakah engkau sendiri yang menyalakan lilinnya?” Dia menjawab, “Ya tuan.” Kemudian aku bertanya kembali, “Ada suatu waktu dimana lilinnya belum menyala, lalu ada suatu waktu dimana lilinnya menyala. Bisakah engkau tunjukkan kepadaku darimana datangnya sumber cahaya pada lilinnya?
 
Anak kecil itu tertawa, lalu menghembuskan lilinnya, dan berkata, “Sekarang tuan telah melihat cahayanya pergi. Kemana ia perginya? Jelaskan kepadaku!”
 
Egoku remuk, seluruh pengetahuanku remuk. Pada saat itu aku menyadari kebodohanku sendiri. Sejak saat itu aku letakkan seluruh ilmu pengetahuanku.
 
Adalah benar bahwa aku tidak memiliki guru. Tetapi bukan berarti aku bukanlah seorang murid. Aku menerima semua kehidupan sebagai guruku. Pembelajaranku sebagai seorang murid jauh lebih besar dibandingkan dengan dirimu. Aku mempercayai awan-awan, pohon-pohon. Seperti itulah aku belajar dari kehidupan. Aku tidak memiliki seorang guru karena aku memiliki jutaan guru yang aku pelajari dari berbagai sumber. Menjadi seorang murid adalah sebuah keharusan di jalan sufi. Apa maksud dari menjadi seorang murid? Maksud dari menjadi seorang murid adalah untuk belajar. Bersedia belajar atas apa yang diajarkan oleh kehidupan. Melalui seorang guru engkau akan memulai pembelajaranmu.
 
Sang guru adalah sebuah kolam di mana engkau bisa belajar bagaimana untuk berenang. Dan tatkala engkau telah mahir berenang, seluruh samudera adalah milikmu.
 
Rendah Hati, Kuncinya!
Sifat rendah hati merupakan lawan dari sombong. Orang yang memiliki sifat rendah hati akan mudah menerima masukan dari siapa pun, termasuk orang yang kedudukannya di mata manusia lebih rendah darinya. Orang yang rendah hati selalu siap menerima kritikan atau masukan dari anaknya, bawahannya, asisten rumah tangganya, dan hal-hal yang berada di lingkungan sekitarnya.
 
Allah SWT berfirman, “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. al-Furqon [25]: 63)
 
Dalam sebuah tausiah singkatnya, KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) mengungkapkan, orang yang rendah hati itu jarang memiliki musuh, karena ia tidak memandang orang lain secara rendah. Ia pun tidak pernah memandang orang lain sebagai saingannya. Justru ia senantiasa memandang orang lain sebagai sahabatnya, dan berupaya bisa belajar darinya. Ia pun berbaik sangka kepada orang lain, siapa tahu orang yang tampak biasa-biasa saja dalam pandangannya, padahal orang itu luar biasa dalam pandangan Allah SWT.
 
Sungguh beruntung sekali orang yang rendah hati. Karena pada banyak kesempatan, ia bisa banyak belajar dan memperkaya ilmu. Sedangkan orang sombong sebaliknya. Ia sulit belajar, malah semakin jauh tersesat pada kegelapan. Ini karena ia memandang hebat dirinya, padahal banyak tidak tahunya.






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
ATM Sedekah
ATM Sedekah
26
Perilaku bersedekah sering kali berbalas kejadian berupa pelipatgandaan rezeki dari jumlah yang disedekahkan. Maka pada hari itu, balasan berlipat ganda pun Allah berikan
Galeri
DR. Zakir Naik dan Aa Gym sedang berdialog

Dialog antara Aa Gym dengan Dr. Zakir Naik selepas Shol

Dari Kecil Mencintai NKRI

Belajar mengajak anak bergabung dalam event besar, agar

Antri Toilet

Jamaah rapi berbaris antri untuk menggunakan toilet por