Cerita Santri
Berkata yang Baik atau Diam

Berkata yang Baik atau Diam
Jangan biarkan lidah kita tergelincir. Jadikan diam sebagai kebaikan daripada berbicara tapi mendatangkan kemudaratan.

Lisan adalah karunia Allah SWT yang begitu besar. Ia harus senantiasa disyukuri. Cara mensyukuri lisan dengan menggunakannya untuk berbicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan sekehendak sendiri.

 

Kata-kata yang keluar dari mulut terkadang lebih menyakitkan dari apa pun. Menurut peribahasa Arab, al-kalaamu yanfudzu maa laa tan fudzuhul ibaru, artinya perkataan itu bisa menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum.

 

Jangan biarkan lidah kita tergelincir. Jadikan diam sebagai kebaikan daripada berbicara tapi mendatangkan kemudaratan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam.” (HR. Bukhari, Muslim).

 

Jadi, berbicara itu baik, tapi diam lebih bermutu. Dan ada yang lebih hebat dari diam, yaitu berkata yang benar.

 

Bahaya Lisan

Bicara memang mudah, hanya seringkali kita tidak memikirkan efek dari lisan. Apalagi lisan seseorang adalah cerminan dari baik dan buruk kualitas imannya. Maka, berhati-hatilah dalam menggunakan lisan. Ada pun bahaya-bahaya lisan yang harus kita hindari, yaitu:

 

  1. Dusta

Orang yang suka berdusta itu sesungguhnya mendapatkan dua kali kerugian. Pertama, jika kebohongannya tidak diketahui, dia akan mendapatkan dosa. Kedua, jika kebohongannya diketahui orang lain, maka ia akan kehilangan kepercayaan. Bahkan, kepadanya disematkan predikat pendusta atau pembohong.

 

  1. Berburuk sangka (su’uzhan)

Lisan yang terbiasa melontarkan perkataan-perkataan penuh prasangka (su’uzhan) dapat membuat hati busuk. Karena apa pun yang kita sangka akan mempengaruhi pola pikir, sikap, dan cara mengambil keputusan. Berbahagialah orang-orang yang pandai berbaik sangka. Karena berburuk sangka merupakan perkataan yang paling dusta.

 

  1. Menggunjing (ghibah)

Secara sederhana, ghibah merupakan perbuatan menggunjingkan aib dan keburukan orang lain dibelakangnya. Pengertian ghibah ini disebutkan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadis, “Ghibah adalah engkau membicarakan saudaramu dengan apa yang dia tidak suka (untuk dibicarakan).” Lalu ada sahabat bertanya “Bagaimana jika itu memang seperti apa yang aku bicarakan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jika saudaramu memang seperti apa yang engkau bicarakan, sungguh engkau telah mengghibahnya. Dan jika saudaramu tidak seperti apa yang engkau katakan, sungguh engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim, Tirmidzi).

 

  1. Mengadu domba (namimah)

Jangan sampai ketidaksukaan kepada seseorang menjadikan kita berlaku jahat dan tidak adil kepadanya, termasuk berbuat namimah (mengadu domba). Sebab, betapa banyak perbuatan mengadu domba itu terjadi karena timbulnya dengki di hati. Apalagi kepada saudara sesama muslim, hendaknya kita tidak memendam kedengkian.

 

Dengki dan adu domba adalah akhlak tercela yang dibenci Allah karena menimbulkan permusuhan. Ada pun Islam memerintahkan umatnya untuk bersaudara dan merapatkan barisan layaknya bangunan yang kokoh.

 

Berusahalah untuk tidak mendengki apalagi sampai mengadu domba, karena hal itu bisa menutup pintu surga. Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang mengadu domba.” (HR. Bukhari).

 

  1. Banyak bicara

Tidak setiap ingin bicara harus langsung dikatakan. Periksa hati dulu, apa niat kita berbicara? Semakin kita banyak bertanya, niscaya akan mendapat jawaban perlu atau tidaknya berbicara. Bicaralah sesudah yakin benar dan membawa manfaat.

 

Begitu pun dengan update status di sosial media, juga harus selektif. Penting atau tidak, manfaat atau tidak. Kalau sekiranya malah menambah dosa, lebih baik tidak perlu.






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Remaja Hebat, Siap Memimpin dan Dipimpin
Remaja Hebat, Siap Memimpin dan Dipimpin
18
Masa anak-anak adalah masa penanaman. Keberhasilan proses penanaman pada anak akan ditandai dengan kondisi mumayyiz, yaitu mampu menangkap hal baik dan siap melaksanakannya.
Galeri
DR. Zakir Naik dan Aa Gym sedang berdialog

Dialog antara Aa Gym dengan Dr. Zakir Naik selepas Shol

Dari Kecil Mencintai NKRI

Belajar mengajak anak bergabung dalam event besar, agar

Antri Toilet

Jamaah rapi berbaris antri untuk menggunakan toilet por