Cerita Santri
Jangan Berat untuk Berzakat

Jangan Berat untuk Berzakat
Merupakan hal yang aneh bila masih ada yang merasa berat untuk berzakat. Harta yang ada pada kita bukanlah milik kita, tetapi milik Allah SWT.

Sehubungan Hemri sibuk mengisi training manajemen keuangan keluarga islami yang diselenggarakan di berbagai kota, untuk beberapa kali pertemuan Hemri absen mengisi pengajian rutin di masjid komplek perumahannya. Alhamdulillah, kini Hemri bisa kembali memulai mengisi pengajian. Kali ini, ceramahnya berjudul “ZIS (Zakat, Infak, Sedekah) dan Pengelolaan Keuangan Keluarga”.

Setelah mengucap salam, kalimat pembuka, serta mengutip beberapa ayat suci al-Quran, Hemri memulai ceramahnya.

“Hadirin yang dimuliakan Allah SWT, menjadikan zakat sebagai pengeluaran yang wajib dan adanya alokasi untuk berinfak menjadi salah satu pembeda antara manajemen keuangan keluarga islami dan yang lainnya. Namun sayangnya, di antara kita masih ada yang merasa berat untuk menunaikannya.

”Berat, ringan, susah, senang, atau mudah, hanya merupakan persepsi, padahal yang sebenarnya tidak demikian. Sebagai contoh, seorang anak yang disuruh oleh ibunya untuk belanja keperluan dapur ke warung akan merasa berat dan letak warung itu seolah-olah jauh baginya.  Namun, tatkala ada sesuatu yang menarik hati, misalnya ada gelaran topeng monyet di dekat warung itu, ia merasa ringan untuk melangkahkan kakinya dan merasa dekat. Demikianlah perasaan kita yang berat untuk berzakat, sering di antaranya karena persepsi kita bahwa menunaikan zakat akan mengurangi harta. Padahal, pada hakikatnya semua yang ada di dunia adalah milik Allah SWT dan zakat tidak akan mengurangi harta.”

“Sebagaimana firman-Nya dalam surat an-Najm [53] ayat 31, “Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).”

“Berdasar ayat di atas maka apapun yang kita miliki sebenarnya merupakan titipan belaka, sedangkan pemilik sesungguhnya adalah Allah SWT. Dengan pemahaman seperti itu, seharusnya kita tidak merasa berat untuk berzakat ataupun berinfak. Sebagai contoh, Pak Suhendri menitipkan 32 buah mobilnya kepada Pak Asep.”

“Ustadz, contohnya salah. Seharusnya saya yang menitipkan mobilnya ke Pak Suhendri,” celetuk Pak Asep yang diikuti oleh senyum para peserta pengajian.

“Ya, bolehlah…contohnya saya ubah. Pak Asep menitipkan 32 mobil ke Pak Suhendri,” ujar Hemri sambil tersenyum.” Saat menitipkan, Pak Asep berpesan ke Pak Suhendri bahwa bulan depan salah satu mobilnya harus diberikan kepada Bu Nurhayati. Nah, setelah satu bulan menggunakan mobil tersebut, apakah Pak Suhendri merasa keberatan atau tidak untuk memberikan mobilnya kepada Bu Nurhayati?”

“Tidak !!!…,” hampir semua jamaah pengajian menjawab.

“Iya. Tentu saja Pak Suhendri tidak merasa keberatan karena mobil itu bukan miliknya. Apalagi, meskipun satu mobil telah diberikan kepada Bu Nurhayati, masih ada 31 lagi yang bisa dipakai. Nah, begitu pula dengan berzakat.”

Hemri melanjutkan ceramahnya, ”Merupakan hal yang aneh bila masih ada yang merasa berat untuk berzakat. Harta yang ada pada kita bukanlah milik kita, tetapi milik Allah SWT. Oleh sebab itu,  bila Allah SWT memerintahkan kita untuk menyerahkan harta itu dengan ketentuan-Nya, maka itu merupakan hak Allah SWT dan kita wajib melaksanakannya. Apalagi yang kita zakatkan merupakan bagian kecil dari harta kita. Semoga dengan penjelasan ini ada perubahan persepsi bahwa harta yang kita kuasai saat ini pada hakikatnya milik Allah SWT sehingga ketika berzakat tidak merasa kehilangan,” ujar Hemri. 
 

 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Tujuh Tips Membuat Rumah Bersih dan Rapi
Tujuh Tips Membuat Rumah Bersih dan Rapi
16
Berikut adalah beberapa tips yang dapat dilakukan agar rumah tetap bersih dan rapi. Semoga tips dar A Deda ini bermanfaat dan semoga dapat bernilai ibadah.