Cerita Santri
Kiprah Seorang Dai di Parlemen

Kiprah Seorang Dai di Parlemen
Pendidikan di Indonesia belum memiliki visi yang jelas. Pendidikan di Indonesia tidak memberikan keterampilan kerja sehingga banyak alumnus Perguruan Tinggi (PT) yang tidak tertampung oleh lapangan kerja.

Dilahirkan di Garut, 29 Juni 1969 dengan nama lengkap Hilman Rosyad Syihab. Kecintaannya akan Islam membuatnya menghabiskan sebagian hidupnya untuk mempelajari Islam. Selepas Sekolah Dasar, Hilman menempuh pendidikan menengahnya di Tsanawiyah Pesantren PERSIS kemudian Muallimin PERSIS di Tarogong. Dengan prestasinya di sekolah, beliau kemudian melanjutkan pendidikan di sebuah lembaga yang disubsidi penuh oleh pemerintah Saudi Arabia, yaitu LIPIA. Dengan keseriusannya, Allah pun kembali memberinya kesempatan untuk belajar di sebuah universitas paling bergengsi untuk ilmu-ilmu keIslaman, yaitu Islamic University of Madinah dengan jurusan Ilmu Hadits.

Untuk membaktikan ilmunya kepada masyarakat, Hilman pernah menduduki beberapa profesi sekaligus. Dia menjadi anggota Dewan Syariah Dompet Peduli Ummat Darut Tauhid (DPU DT), Dompet Dhuafa Bandung, dosen Ma’had al-Awal Bandung, pengisi acara di Radio Ardan dan MQ FM Bandung, disamping menjadi khotib dan pembicara dalam berbagai seminar, diskusi dan talkshow. Bakatnya dalam bidang seni juga disalurkannya sebagai anggota tim Nasyid Shoutul Harokah yang telah mengeluarkan beberapa album.

Pemahaman Islamnya yang komprehensif membuatnya memutuskan untuk ikut aktif mendukung Partai Keadilan (sekarang menjadi Partai Keadilan Sejahtera) semenjak dideklarasikannya. Latihan dan tempaan yang diterimanya selama di PKS, membuatnya terpilih menjadi salah satu anggota legislatif DPR RI dari daerah pilihan Jawa Barat, khususnya Garut dan Tasikmalaya. Posisinya sebagai anggota legislatif ini kemudian memberinya kesempatan unik yang jarang didapat oleh para dai, untuk mengetahui secara langsung hakikat sistem-sistem lain di luar Islam. Ini kemudian banyak membantunya dalam memberi analisa dan solusi yang lebih realistis kepada umat.

Politik sendiri sebetulnya bukan barang baru bagi Hilman. Ibunya pernah menjadi anggota DPRD Garut tahun 1968-1969. Kedua orangtuanya adalah aktivis Masyumi. Sedangkan saudara-saudaranya sebagian besar aktivis HMI dan PII.

Sebelum menjadi dai di parlemen, Hilman memang dikenal sebagai tabligher alias public speaker. Ayah 5 orang anak ini sangat bangga dengan profesinya itu. Sebab, baginya kehidupan itu adalah untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi orang banyak. Ini sangat sesuai dengan motonya, “Hidup untuk memberikan manfaat bagi orang lain.”

Menurut Hilman, suatu bangsa akan maju kalau individunya maju. Sedangkan individu yang maju hanya akan terwujud kalau ada pembelajaran yang memadai. Menurutnya, pendidikan di Indonesia belum memiliki visi yang jelas. Pendidikan di Indonesia tidak memberikan keterampilan kerja sehingga banyak alumnus Perguruan Tinggi (PT) yang tidak tertampung oleh lapangan kerja. Realita ini bukan didapat dari pengamatan saja. Sebelum berada di gedung parlemen, Hilman sempat menjadi guru di Pesantren Tarogong Garut dan Sekolah Tinggi Teknik Tekstil Bandung.

Hilman pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi 8 DPR RI (2004 – 2009) yang berhubungan dengan Agama, sosial, anak-anak,dan perempuan. Dia sangat bersyukur dengan posisinya tersebut karena yang dihadapinya adalah permasalahan-permasalahan umat secara langsung.

Sepak terjangnya di DPR tidak perlu diragukan lagi. Hilman cukup dikenal sebagai orang yang gigih memperjuangkan UU Pornografi. Dia juga termasuk anggota yang menggagas diselenggarakannya The International Forum for Islamist Parliamentarian (IFIP) atau Forum Parlemen Islam sedunia di Jakarta pada tahun 2007. IFIP begitu spektakuler karena baru pertama kalinya sekitar 200 anggota parlemen dari 20 negara lebih berkumpul dan menjalin hubungan kerjasama yang lebih erat.  

Hilman yang sering mengisi training samara (sakinah, mawaddah, wa rahmah), sebuah training untuk pasangan suami istri, sangat mengerti pentingnya keluarga dalam mendukung aktifitasnya. Keberhasilannya sebagai seorang dai dan politisi tak lepas dari peran istri tercinta, Imas Masfarwati dan segenap keluarga besarnya. Karenanya, di sela-sela waktunya yang padat, dia tetap memberikan perhatian yang cukup bagi keluarga. Bersama sang istri, Hilman bertekad untuk mewujudkan keluarga samara dan menjadikan kelima anak mereka sebagai orang-orang yang memiliki keunggulan dalam memberikan manfaat bagi umat, bangsa dan negara. 

sumber foto :  https://www.bukafakta.com






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Kasih Sayang Ibu
Kasih Sayang Ibu
12
Namun mari kita kembali memaknai ulang inti dari “membesarkan” anak. Anak-anak tidak hanya sekadar membutuhkan fasilitas saja, namun yang jauh lebih penting adalah perhatian kita, kasih sayang ibunya!
Galeri
HAJJ

Ya Allah, Undang kami ke Baitullah-MU

Motret dari yang motret

motret orang yang lagi motret , karena banyak yang paka

Ditengah Kerumunan

Seorang anak dan bapaknya berdiri ditengah ribuan jamaa