Cerita Santri
Kasih Sayang Ibu

Kasih Sayang Ibu
Namun mari kita kembali memaknai ulang inti dari “membesarkan” anak. Anak-anak tidak hanya sekadar membutuhkan fasilitas saja, namun yang jauh lebih penting adalah perhatian kita, kasih sayang ibunya!

Salah satu konsekuensi perempuan berkeluarga adalah ia harus siap dengan proses kehamilan, mempunyai anak yang harus diasuh dan dididiknya. Perjalanan pengasuhan anak ini sepertinya tanpa batas. Mulai dari masa kehamilan hingga anak dewasa pun, orangtua khususnya seorang ibu tak lepas begitu saja dengan pengasuhannya.
 
Namun, sejauhmanakah seorang ibu dapat mengoptimalkan dirinya terhadap tugas yang maha mulia itu? Mengasuh dan mendidik anak-anaknya dengan sepenuh hati, tanpa keterpaksaan. 
 
Sering kaum ibu merasa sudah maksimal berkorban untuk anak-anaknya. Dari mulai bangun tidur, telah disiapkan segala keperluan anak, sarapan sampai uang jajannya. Dipilihkan sekolah yang bermutu, pakaian dan makanan yang sehat. Belum lagi berbagai kursus tambahan untuk menambah kemampuan dan kreatifitasnya.
 
Bila semua hal yang disebutkan tadi memang sudah mencukupi lalu mengapa sekarang sering kita jumpai anak-anak yang depresi bahkan merasa tak diharapkan keberadaannya? Hal ini sudah sepantasnya menjadi bahan analisa bagi setiap orangtua, khususnya kaum ibu. Mengapa? Karena ibulah yang menjadi titik utama bagi berlangsungnya pengasuhan dan pendidikan anak. 
 
Mundur beberapa tahun ke belakang, masa-masa kecil yang penuh canda. Kita dapat tertawa lepas, bermain sepanjang hari dan leluasa bercengkrama dengan ibu kita. Pulang sekolah menjadi saat-saat yang ditunggu. Bergegas ingin segera tiba, karena kita tahu di rumah ibu sudah menunggu dengan hidangan makan siangnya yang lezat. Ibu yang siap mendengarkan cerita-cerita kita di sekolah yang kadang konyol dan kurang berarti untuknya. Namun kita tahu ibu dengan setia dan sabar mau mendengarkan semua itu.
 
Sejalan dengan semakin bertambahnya kebutuhan hidup dan persaingan ketat di segala bidang, tak dipungkiri kiprah seorang perempuan pun turut di dalamnya. Semakin banyak kaum ibu yang dituntut melebarkan perannya tak sekadar di rumah tapi di luar rumah. Tak ada yang salah. Namun mari kita kembali memaknai ulang inti dari “membesarkan” anak. Anak-anak tidak hanya sekadar membutuhkan fasilitas saja, namun yang jauh lebih penting adalah perhatian kita, kasih sayang ibunya!
 
Seberapa besarkah kita, para ibu memberikan perhatian emosional pada anak-anaknya. Bukan sekadar dekat secara fisik, tapi menghadirkan diri dan melarutkan diri dengan anak. Karena sering juga ada ibu yang sehari-harinya ada di rumah tapi dengan anaknya sendiri kurang dekat. Ini akibat ia hanya menghadirkan fisik tanpa emosi. Dengan kata lain para ibu harus dapat memaksimalkan kualitas pertemuan dengan anak-anaknya, bila memang belum memungkinkan menambah waktunya.
 
Perhatian dan kasih sayang yang tulus lebih mereka butuhkan, sejalan dengan perkembangan usia mereka. Jadi, luangkanlah waktu untuk mendengarkan mereka, sehingga kita paham apa yang diinginkannya.
 
Berikut ini sebuah cerita dari Harold Stoddard: “Suatu hari seorang alim yang sedang berkeliling mengunjungi umatnya, mampir di rumah  keluarga petani. Ia terkesan oleh kepandaian dan sikap seorang bocah yang baru berusia empat tahun. Akhirnya ia menemukan alasan mengapa bocah tersebut begitu bersikap manis dan baik. Saat itu ibunya sedang sibuk di dapur membersihkan bagian-bagian sulit lemari es, putranya itu datang kepadanya dengan membawa sebuah majalah. 
 
“Mami, apa yang sedang dilakukan orang dalam foto ini?” tanyanya. Sang ibu segera mengeringkan tangan, duduk di kursi dan memangku anaknya kemudian menghabiskan waktu selama sepuluh menit menjawab pertanyaan-pertanyaan putranya. Setelah anak itu puas dan keluar untuk bermain, sang alim mengomentari perlakuan dan sikapnya yang istimewa terhadap putranya itu. “Kebanyakan kaum ibu tidak mau diganggu seperti itu,” kata sang alim. “Bapak, saya masih dapat membersihkan lemari es selama sisa hidup saya, tetapi tidak pernah lagi putra saya akan menanyakan pertanyaan itu kepada saya,” ujar ibu tersebut.
 
Sanggupkah kita bersikap seperti ibu dalam cerita tadi? Meluangkan waktu sejenak untuk menjawab sebuah pertanyaan yang mungkin kita anggap teramat sederhana dari anak-anak kita?
 
Semoga sosok ibu dalam cerita tadi dapat memberi inspirasi untuk kita semua, khususnya kaum ibu. Boleh jadi pertanyaan itu bagi kita adalah hal sepele, tapi bagi anak itu adalah hal yang sangat penting dan mendesak dipecahkan. 

sumber foto : https://www.ruangmuslimah.co






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Kisah Hikmah Dari Masjid Nabawi
Kisah Hikmah Dari Masjid Nabawi
28
''Aku teringat ada beberapa keping emas di tangan kami. Aku tak suka terus memikirkannya, sehingga kusuruh segera dibagikan saja kepada yang berhak.'' (HR Bukhari).