Cerita Santri
Memaknai Hidup sebagai Perjuangan

Memaknai Hidup sebagai Perjuangan
Seperti kupu-kupu, tak sedikit perjuangannya untuk menjadi makhluk yang mempesona, dipuji orang, dan begitu dikagumi karena keindahannya.

Hidup memang tak lekang dari sebuah perjuangan. Dibutuhkan banyak waktu dan kesabaran luar biasa untuk menjalaninya. Perjuangan itu tak selamanya berawal dari sebuah kepahitan, kesukaran, bahkan penderitaan. Terkadang, sesuatu yang menyenangkan, menyilaukan, dan membahagiakan juga sebuah perjuangan. Perjuangan untuk tidak terlena dalam kemudahan, terpenjara, dan akhirnya lupa akan makna sebuah ujian dan perjuangan itu sendiri. Ada yang mereguk manisnya hasil perjuangan, tapi tak sedikit pula yang jatuh bahkan terinjak-injak sebelum sampai ke tujuan.
 
Dia yang bertahan ketika badai menghempas, maka dialah yang akan sampai ke puncak. Menjadi indah pada saatnya. Seperti kupu-kupu, tak sedikit perjuangannya untuk menjadi makhluk yang mempesona, dipuji orang, dan begitu dikagumi karena keindahannya. Atau seperti patung dan lantai berbahan pualam. Seluruh dunia datang untuk melihat patung pualam. Terpesona dengan keindahannya. Namun apa yang terjadi pada lantai pualam. Seluruh dunia datang hanya untuk menginjaknya. Padahal, patung dan lantai pualam merupakan batuan yang sama dan dari gunung yang sama.
 
Belajar dari hakikat patung dan lantai pualam, membuat sosok inspirasi yang satu ini terus berjuang serta yakin akan pertolongan-Nya.
 
Bermula dari Jalanan
Adalah Achmad Taufiq, laki-laki yang terlahir dari keluarga yang serba kekurangan ini memaknai kehidupannya sebagai sebuah perjuangan, berliku, dan penuh tantangan. Predikat “miskin” telah melekat dalam dirinya sejak kecil. Namun, laki-laki yang akrab dipanggil Taufik ini tetap merasa “kaya”. Bersama 6 saudaranya, anak ke-7 dari 7 bersaudara ini hidup bahagia di dalam naungan kasih sayang orangtua dan kasih sayang-Nya.
 
Taufiq kecil punya cita-cita tinggi. Mengalahkan kemampuannya dari sisi finansial. Keadaan ekonomi keluarga yang pas-pasan membuat Taufiq selalu telat mebayar SPP dan memulai perjuangannya di jalanan. Di lampu merah dan di trotoar sebagai seorang musisi dan seniman jalanan. Dalam benaknya, inilah kesempatan untuk membantu orang yang begitu dicintainya, kedua orangtuanya. Walaupun masih duduk di kelas 2 SMP, Taufiq sudah punya pikiran untuk membantu mereka. Orang tua yang telah all out berjuang membahagiakan anak-anaknya.
 
Jalanan telah mempertemukannya dengan orang-orang berlebih harta. Membuat Taufiq kecil berpikir, “Kok bisa mereka seperti itu?”, “Bisa gak aku seperti mereka?” Pertanyaan-pertanyaan ini kian singgah dibenaknya. Taufiq pun tidak mau menyerah pada keadaan. Sambil mengamen, Taufiq menjemput rezekinya dengan menjual kartu. Kartu lebaran, kartu pertemanan, dan kartu-kartu lainnya ia jual dengan penuh gembira di trotoar jalan Asia Afrika, Bandung. Dalam melakukannya, Taufiq merasa gembira karena ia sendiri yang membuat kartu-kartu tersebut, berbekal kemampuannya dalam seni grafis.
 
Belajar Tanpa Henti
Berada di jalanan tak membuatnya patah semangat untuk terus belajar di mana pun, dari siapa pun, dan kapan pun. Setidaknya, Taufiq memiliki keberanian dan semangat untuk melangkah lebih jauh. Menjadi anak yang bermanfaat bagi orangtua dan lingkungannya.
 
Perjuangan Taufiq di jalanan dari tahun 1987-1990 berbuah manis. Cita-citanya semakin tinggi. Harapannya semakin melambung. Sehingga ia memberanikan diri mengajukan proposal kuliah kepada ibunya. Ibunya menolak. Alasannya sederhana, tidak ada biaya. Kecintaan Taufiq pada ilmu mengalahkan penolakan keinginannya untuk kuliah. “ Saya gak boleh miskin ilmu, karena gerbang sukses itu bukan duit, tapi ilmu,” ujar Taufiq.
 
Taufiq pun diterima di Jurusan Pendidikan Elektro, salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Bandung. Di sanalah Taufiq semakin melebarkan sayapnya. Tak hanya pendidikan formal yang ia kejar, pendidikan non formal pun tak ketinggalan. Selama kuliah, Taufiq aktif di Salman, meneruskan hobinya di klub pecinta alam, dan mengikuti pengajian di Pesantren Daarut Tauhiid. Taufiq aktif mencari ilmu di mana pun. Di kelas, di masjid, dan di alam. Menadaburi segala kebesaran-Nya dan menerjemahkan apa yang alam katakan.
 
Menginjak semester tiga, Taufiq resmi menjadi yatim-piatu. Bundanya pergi menyusul sang ayah ketika ia sedang mengikuti salah satu kegiatan klub pencinta alam, jauh dari tempat sang bunda tinggal. Taufiq tetap tegar, baginya perjuangan hidup harus terus berlanjut. Tidak terpuruk dalam penyesalan apalagi duka yang mendalam.
 
Selama duduk di bangku kuliah, Taufiq tak sekadar kuliah. Saat kuliah, Taufiq aktif sebagai wedding fotographer, instruktur, dan guide outdoor activity. Dari sanalah Taufiq membiayai kuliah dan biaya hidupnya hingga lulus.
 
Membiasakan untuk Berpikir Positif
Setelah lulus, Taufiq memberanikan diri meminang Qori Qodarya, perempuan yang saat ini mendampingi Taufiq dan kedua anaknya. Awal berumah tangga, Taufiq kembali ke jalanan. Kali ini bukan sebagai pengamen jalanan atau berjualan kartu di trotoar. Taufik “banting stir” menjadi sopir angkot jurusan Cimahi-Cililin. Selama delapan bulan, Taufiq bekerja sebagai sopir angkot dan selama itu pula melamar kesana-kemari hingga akhirnya Taufiq diajak menjadi kepala cabang di Primagama.
 
Selama di Primagama, Taufiq merasa tidak bekerja, tapi bersekolah. Setelah dua tahun mengabdi di Primagama, Taufiq memutuskan untuk mandiri. Saat ditawari antara bonus dan kuliah lagi, Taufiq lebih memilih kuliah. Baginya, ilmu itu tetap nomor satu.
 
“Membiasakan diri berhati positif, akan melahirkan pikiran psitif, akan melahirkan kata-kata positif. Dari kata-kata positif melahirkan tingkah laku positif , dan dari tingkah laku positif melahirkan nasib positif,” ujar Taufiq. Inilah efek estafet yang Taufiq percaya. Tak sekadar  moto hidup sejak kecil, tapi juga aplikasi. Itulah yang Taufiq yakini, tetap berhusnudzan (berbaik sangka) kepada Allah, pantang menyerah, dan yakin akan pertolongan-Nya, serta belajar untuk semakin mengenal-Nya.
 
“Sumber daya dari sisi finansial saya benar-benar terbatas. Tetapi Allah memberi saya semangat untuk berjuang. Semangat yang sama dimiliki setiap orang. Hanya pengelolaan semangat itu yang berbeda,” ujar Taufiq mengakhiri ceritanya.

sumber foto : https://inilahisihatiku.wordpress.com






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Kisah Hikmah Dari Masjid Nabawi
Kisah Hikmah Dari Masjid Nabawi
28
''Aku teringat ada beberapa keping emas di tangan kami. Aku tak suka terus memikirkannya, sehingga kusuruh segera dibagikan saja kepada yang berhak.'' (HR Bukhari).