Cerita Santri
Sederhana Itu Mulia

Sederhana Itu Mulia
Harta yang dititipkan padanya akan dirasa kurang , dan timbul sifat tak mau berbagi karena merasa kurang terus dan khawatir tidak cukup untuk keperluan diri.

Nafsu manusia kadang seperti air mengalir. Selama ada celah yang bisa dilewati, disitulah air mengalir. Perbedaannya, bila air mengalir ke arah yang lebih rendah, sementara nafsu manusia sebaliknya. 
 
Tabiat manusia yang diperbudak hawa nafsunya, senantiasa tidak pernah merasa puas. Terus-menerus meningkat dan menemui satu titik kata “kurang”. Akibatnya, ia menjadi orang-orang yang kehilangan kepekaan social. Tak mampu menyelami apa yang terjadi di sekelilingnya.  Naudzubillah...
 
Sungguh menderita jika seorang muslimah diperbudak hawa nafsunya. Fitrah seorang perempuan  yang  menyenangi keindahan dan memiliki sifat “kepemilikan” yang lebih, membuatnya semakin menderita bila tak mampu mengendalikan nafsu diri sendiri.
 
Sederet pakaian indah di lemari, tak akan mampu meredam keinginan untuk memiliki yang lainnya, yang dirasa ”lebih”, dan setelah itu terulang lagi. Harta yang dititipkan padanya akan dirasa kurang , dan timbul sifat tak mau berbagi karena merasa kurang terus dan khawatir tidak cukup untuk keperluan diri.
 
Sementara Islam sangat menjunjung tinggi nilai kesederhanaan. Seperti disabdakan oleh Rasulullah saw, “Beruntunglah orang yang diberi petunjuk kepada Islam, penghidupannya sederhana dan merasa cukup (qanaah) dengan apa yang ada.” (HR. Muslim).
 
Lalu apa yang dimaksud dengan sederhana?
Berikut beberapa hal yang memaparkan makna dari kesederhanaan:

  • Hidup sederhana adalah hidup tidak berlebihan. Tidak bersikap mempertontonkan kemewahan di kalangan khalayak.
  • Memiliki sifat qanaah dan senantiasa berlaku adil serta bersyukur akan nikmat-Nya.
  • Bersikap secara  proporsional, menempatkan sesuatu pada tempatnya dan menggunakan harta yang dimiliki selain untuk diri juga untuk kepentingan dan kemaslahatan umat.
 
Islam mengajarkan agar hidup ini bukan untuk menumpuk harta benda sehingga tidak produktif, tetapi justru harus mengalirkannya untuk kemaslahatan umat. “Kekayaan itu bukan karena banyaknya harta benda yang dimiliki, tetapi kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari).
 
Sungguh mulia bila seorang muslimah telah mampu mengalahkan hawa nafsunya dalam hal kepemilikan materi. Kecantikannya akan semakin terpancar dengan ‘make up’ kesederhanaan yang selalu dia kenakan. Keanggunannya semakin membumi dengan kemurahan hati dan sifat ringan tangannya dalam berbagi. 
 
Kesederhanaan dalam Islam, bukan berarti kita tidak memaksimalkan ikhtiar agar menjadi orang kaya atau berkecukupan. Bukan pula berati kita tidak boleh kaya. Justru, seorang muslimah harus maksimal saat berikhtiar agar mencapai kekayaan yang berkah. Seorang muslimah harus kaya tetapi memiliki sifat qanaah. Untuk dirinya dia mengambil secukupnya sesuai kebutuhan, tetapi untuk menolong orang lain atau untuk kepentingan umat, sebanyak mungkin dari apa yang bisa diusahakannya. Wallahu’alam.

sumber foto : https://www.wanitamakassar.com






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Mengapa Memusuhi Imam ketika Salat?
Mengapa Memusuhi Imam ketika Salat?
12
Ibarat kita merantau tanpa modal maupun kenalan ke sebuah daerah. Lalu ada penduduk yang menyapa. Mungkin sekilas kita menebak apa yang dikatakannya.