Cerita Santri
Konsisten Mencatat Keuangan Keluarga

Konsisten Mencatat Keuangan Keluarga
Sistem amplop memang tidak sepenuhnya sama dengan pencatatan. Namun fungsi perencanaan dan pengendaliannya sebagian besar sudah ada pada sistem amplop secara sederhana.

Dalam perjalanan pulang mudik (pascalebaran) dari Tasik ke Bandung, saat dzuhur tiba, Hemri dan keluarganya singgah di Masjid al-Mahdiyin. Selepas salat dan saat makan siang, ia bertemu dengan sahabat lamanya, Dimyati dan Sahidin. Terjadi dialog diantara mereka tentang masalah perencanaan keuangan keluarga. (Edisi ini adalah lanjutan dari edisi bulan lalu)
 
*******
 

Sahidin : Punten, saya mau ikut nimbrung juga nich… Sebelumnya Kang Hemri menyebutkan bahwa sistem amplop bisa menggantikan sistem pencatatan. Punten, saya masih tidak mengerti, minta tolong dijelaskan.”
 
Hemri : “Sistem amplop memang tidak sepenuhnya sama dengan pencatatan. Namun fungsi perencanaan dan pengendaliannya sebagian besar sudah ada pada sistem amplop secara sederhana. Dengan sistem amplop kita sudah merencanakan maksimal pengeluaran untuk setiap kelompok anggaran senilai uang yang ada di masing-masing amplop.”
 
“Sistem amplop pun bisa menjadi alat pengendali karena selama dalam kurun waktu yang ada, misalnya dalam satu bulan, kita bisa melihat sisa uang yang ada untuk masing-masing kelompok anggaran. Dampaknya kita bisa menahan atau mengendalikan pengeluaran kita sesuai dengan sisa uang yang ada dalam amplop.”
 
“Di awal bulan kita harus mencatat uang yang ada dalam amplop tersebut sesuai alokasinya beserta peruntukkannya. Nah, di akhir bulan, kita catat sisa uang yang ada dalam amplop itu, sehingga kita bisa mengetahui berapa pengeluaran untuk anggaran tersebut. “
 
“Dengan demikian, tetap harus ada pencatatan. Hanya saja tidak banyak, jadi lebih meringankan.”
 
Sahidin : Alhamdulillah, lebih jelas kalau begitu. Kemudian bila ada pengalihan alokasi anggaran bagaimana? Misalnya karena anggaran untuk rekening listrik berlebih, ingin kita alihkan ke amplop untuk anggaran makan. Itu bagaimana kang?”
 
Dimyati : “Wah, itu sich sudah terlalu detil kang Sahidin.”
 
Hemri : Gak apa-apa. Agar evaluasi anggaran kita lebih akurat, untuk hal-hal seperti itu tetap harus dicatat. Catat saja di amplop pengeluaran rekening listrik, dialihkan ke anggaran makan, dan di amplop anggaran makan dicatat sebagai pemasukan yakni pengalihan anggaran dari anggaran rekening listrik, begitu kang.”
 
Sahidin : “Oh begitu. Hatur nuhun kang.” 

sumber foto : http://mommiesdaily.com






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Kisah Hikmah Dari Masjid Nabawi
Kisah Hikmah Dari Masjid Nabawi
28
''Aku teringat ada beberapa keping emas di tangan kami. Aku tak suka terus memikirkannya, sehingga kusuruh segera dibagikan saja kepada yang berhak.'' (HR Bukhari).