Cerita Santri
Rengkuh Perubahan dengan Kecemerlangan

Rengkuh Perubahan dengan Kecemerlangan
Di sisi lain, sikap dan pikiran negatif menyelimuti kita saat melihat kesuksesan orang lain. Ini adalah racun kehidupan. Racun yang dengan sadar kita minum sendiri.

Berubah adalah kemestian. Perubahan merupakan prosesnya. Pertanda kehidupan yang harus dilalui setiap insan demi kelangsungan hidup dan kehidupan. Menyikapi perubahan berarti menyikapi sesuatu yang tak bisa dihindari.
 
Pada awal tahun ini (Hijriyah atau Masehi), mengutak-atik perubahan pun sering dilakoni. Tak hanya individu, organisasi, lembaga hingga negara juga ikut rembuk tengggelam dalam euforia perubahan. Menjadi lebih baik, jadi jargon yang diusung oleh siapa pun.    
 
Hanya saja, ternyata tak banyak yang berani untuk berubah. Bahkan antipati dengan perubahan. Kenapa? Karena pada dasarnya ia telah merasa nyaman pada kemapanan. Takut mengambil resiko yang akan terjadi. Hal ini yang membuat sebagian besar diantara kita sulit merubah diri dan menyikapi perubahan yang terjadi dengan sikap paranoid (kecemasan berlebihan).   
 
Kita menjadi stagnan, terkukung oleh situasi “nyaman” yang diciptakan sendiri. Padahal Allah telah berfiman, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. ar Rad [13]: 11). Ini menandakan bahwa perubahan berawal dari diri sendiri. Ia adalah fitrah yang Allah berikan pada setiap insan.
 
Keharusan untuk Berubah
Kalau boleh jujur, seringkali kita tidak mengizinkan diri sendiri untuk berubah. Bayang-bayang kegagalan yang belum tentu terjadi, menjadi alasannya. Sehingga kita seringkali menjauhkan diri dari fitrah Allah untuk selalu memuliakan dan menyejahterakan kita. Lantas, kita pun jadi sering menyesali diri. Menganggap semuanya serba salah dan merasa tidak punya masa depan. Di sisi lain, sikap dan pikiran negatif menyelimuti kita saat melihat kesuksesan orang lain. Ini adalah racun kehidupan. Racun yang dengan sadar kita minum sendiri.
 
Padahal, sikap dan pola pikir itu akan mematikan kemampuan kita dalam menghadapi perubahan. Tidak lagi mampu menyesuaikan diri dengan berbagai kondisi yang dihadapi secara cepat dan up to date. Perubahan adalah blessing in disguised (berkah tersembunyi). Berkah tersembunyi buat kita agar mampu terus menerus belajar tentang kehidupan. Menumbuh- suburkan pikiran-pikiran kreatif dan inovatif
 
Memang, perubahan selalu disertai kesulitan-kesulitan. Tak ada yang mudah dalam menjalani perubahan. Banyak yang akhirnya menjadi pecundang. Bukan karena gagal dalam menjalani perubahan, tapi gagal dalam keberanian untuk memulai perubahan. Padahal, Allah telah memberikan kesulitan pada manusia bukan agar kita menjadi pribadi cengeng. Hanya mampu menangis kepada-Nya tanpa kuasa berikhtiar menyongsong kesulitan dari suatu perubahan. Atau menghadapi perubahan dengan pola pikir lama. Pola pikir konservatif.
 
Akibatnya, kita pun jadi tertinggal dengan perubahan itu sendiri. Kita akan berada sangat jauh dari orang-orang yang berada lebih dulu dari kita karena mereka telah berhasil melewati rintangan hidup saat itu dengan pola pikir yang baru. Senada dengan apa yang dikatakan Peter Drucker, pakar Ekonomi dan Manajemen, bahwa bahaya terbesar dalam perubahan adalah bukan perubahan itu sendiri tetapi cara berpikir kemarin yang masih dipakai untuk memecahkan masalah sekarang.
 
Berubah juga merupakan salah satu bentuk syukur kita kepada Allah SWT. Sangatlah naif dan keliru jika ada sebagian di antara kita yang beranggapan bahwa bersyukur adalah menerima apa adanya tanpa ada upaya untuk membuat nikmat itu menjadi lebih bermanfaat bagi semua pihak.
 
Jika hari ini kita mampu bersedekah dengan uang senilai satu juta, maka bulan depan harus ditingkatkan menjadi dua juta. Untuk itu kita harus berubah. Berubah dalam mengoptimalkan segala potensi yang telah Allah berikan sebagai modal dari perubahan itu. Menjadi lebih produktif dari waktu ke waktu. Bukan sebaliknya, tenggelam dalam impian-impian besar tapi bernyali kecil untuk berani memulainya.    
 
Karakteristik Perubahan
Setidaknya ada beberapa karekteristik perubahan yang perlu kita pahami:
 
Pertama, perubahan itu sangat misterius. Tidak ada seorang pun yang dapat menduga kapan, di mana, dan bagaimana perubahan itu datang dan pergi. Yang jelas kita harus selalu siap menghadapinya.
 
Kedua, perubahan itu ibarat gelombang, bahkan seperti sebuah kurva yang naik dan turun. Ada kalanya hidup kita berada di titik puncak kurva kesuksesan hidup. Namun, tidak sedikit dari kita yaag saat ini terpuruk dibawah titik kurva tersebut. Satu hal yang perlu diwaspadai adalah jika dalam hidup kita merasakan kenyamanan, ketenangan, kemapanan, dan stabil dalam hidup, hati-hatilah. Mungkin sebenarnya kita sedang menuruni kurva kehidupan.
 
Tapi jika kita merasakan keletihan, kesusahan dalam setiap upaya yang dilakukan sehingga hampir saja membuat kita putus asa, maka jangan bersedih. Karena sebenarnya, kita sedang menanjak menuju titik puncak kurva kehidupan.
 
Ketiga, perubahan butuh “change maker”. Orang yang menjadi pemimpin dalam perubahan itu. Yang mampu menyakini setiap orang dan memberikan harapan hidup kepada setiap insane. Yang memiliki visi ke depan dan berani menghadapi segala resiko dari melakukan perubahan tersebut. Contoh, Abraham Lincoln dengan perjuangan menghapus perbudakan. Mahatma Gandhi yang menentang penjajahan. Nabi Muhammad saw yang memutuskan hijrah ke Madinah untuk kepentingan dakwah. Dengan segala kesulitannya, mereka telah berhasil menorehkan perubaban kepada umat manusia.
 
Keempat, tidak semua orang dapat diajak melihat perubahan. Sebagian besar orang malah hanya melihat realitas (kondisi saat ini), tanpa mampu memiliki kemampuan dan kemauan melihat masa depan. Sehingga dibutuhkan orang-orang yang visioner untuk itu.
 
Kelima, perubahan terjadi setiap waktu. Seringkali perubahan tidak memberikan harapan yang baik. Perubahan dapat memberikan pembaruan atau bahkan kehancuran. Sehingga dengan begitu, perubahan selalu tidak mengenakkan bagi setiap insan (pada umumnya), menakutkan, dan menimbulkan kepanikan.
 
 
Orang-orang yang survive dalam gelombang perubahan adalah mereka yang tidak pernah puas terbadap “comfort zone”. Mereka selalu mencari kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih baik dan rela meninggalkan area nyaman mereka demi posisi baru tersebut. Berbeda dengan orang-orang yang berstatus quo. Mereka lebih puas dengan apa yang mereka peroleh kemarin dan hari ini.
 
Hidup adalah perubahan, perubahan adalah kehidupan. Seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Bahkan kematian sendiri pun bukanlah akhir dari kehidupan dan bukan akhir dari perubahan. Melainkan kelanjutan dari kehidupan sebelumnya.
 
Artinya, hanya orang-orang yang mau dan mampu berubahlah yang memiliki segalanya. Yang berhasil dalam hidup mereka. Lantas bagaimana kita sekarang? Apakah kita sebagai orang mau berubah atau yang dirubah oleh perubahan? Menjadi pemenang atau menjadi pecundang? 

sumber foto : https://myimranoe.blogspot.co.id






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Mengapa Memusuhi Imam ketika Salat?
Mengapa Memusuhi Imam ketika Salat?
12
Ibarat kita merantau tanpa modal maupun kenalan ke sebuah daerah. Lalu ada penduduk yang menyapa. Mungkin sekilas kita menebak apa yang dikatakannya.