Cerita Santri
Menafakuri Beragam Bencana

Menafakuri Beragam Bencana
Hakikat kerusakan bencana adalah ketika hak Allah terhadap hamba mulai memudar. Manusia menyimpang dari fitrah dan tauhid.

Bentuk kerusakan di muka bumi khususnya di negeri ini tidak hanya berhenti sampai dengan bencana gempa tsunami, lumpur lapindo, banjir, gunung meletus, wedus gembel dan sebagainya. Tetapi, terus-menerus lebih dalam dari itu. Apakah ini merupakan teguran untuk bangsa kita ataukah adzab?
 
Perlu digarisbawahi dan menjadi bahan tafakur (perenungan) untuk kita bersama bahwa sebenarnya yang merupakan teguran hanya dilakukan beberapa kali dalam waktu tertentu. Yakinlah bahwa di balik suatu peristiwa pasti ada hikmahnya, begitu pula yang melanda negeri ini.
 
Hakikat kerusakan bencana adalah ketika hak Allah terhadap hamba mulai memudar. Manusia menyimpang dari fitrah dan tauhid. Hukum Allah sekadar lembaran yang disimpan rapi di dalam lemari. Itulah hakikat kerusakan dan bencana. Jika sebaliknya yang terjadi, maka yang ada adalah rasa aman dan damai dengan kehidupan Islami.
 
Allah SWT berfirman, “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS. Muhammad [47]: 22-23).
 
Memang secara global terdapat tiga penyebab utama bencana:
1. Siklus alam
Bencana sepeti gempa, aktifnya gunung-gunung merapi, angin topan, angin puting beliung adalah contoh bencana alam yang memang sudah seharusnya terjadi karena siklus alamnya demikian.
 
2. Ulah tangan manusia
Bencana alam seperti banjir, longsor, kebakaran adalah bencana karena ulah tangan manusia yang kebanyakan lalai menjaga keseimbangan alam. Bencana-bencana seperti ini memang seharusnya bisa dicegah.
 
3. Perbuatan manusia
Sebab yang terakhir inilah yang sering kita abaikan keberadaannya. Sebagaimanam firman-Nya
dalam Al-Quranul Karim surat Al-Qashash [28]: 58, “Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang telah Kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya; maka itulah tempat kediaman mereka yang tiada di diami (lagi) sesudah mereka, kecuali sebagian kecil. Dan Kami adalah Pewaris(nya).”
 
Sebab-sebab Lain
Dari Ibnu Umar meriwayatkan dari Nabi Muhammad saw, beliau bersabda, “Bagaimana keadaan kalian apabila terjadi lima perkara pada diri kalian, aku berlindung kepada Allah hal itu akan terjadi pada kalian, atau kalian mendapatinya:
 
1. Tidaklah fahisyah (kekejian) muncul pada suatu kaum, yang mereka melakukannya secara terang-terangan, kecuali akan muncul berbagai wabah dan berbagai penyakit yang belum pernah terjadi pada orang-orang sebelum mereka.
 
2. Tidaklah suatu kaum mencegah (enggan membayar) zakat, melainkan mereka akan dicegah dari turunnya hujan dari langit, dan jika bukan karena binatang ternak niscaya hujan itu tidak akan diturunkan.
 
3. Tidaklah suatu kaum berbuat curang pada timbangan dan takaran (jual beli), melainkan mereka akan diadzab dengan paceklik, kesusahan hidup dan kezhaliman penguasa.
 
4. Tidaklah para pemimpin mereka berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah, melainkan Allah akan menjadikan musuh menguasai mereka, lalu merampas sebagian yang ada dari apa yang ada di tangan mereka.
 
5. Dan tidaklah mereka meninggalkan kitabullah dan sunnah nabinya melainkan Allah jadikan perselisihan di antara mereka.” (Shahih dengan penguatnya, Ash-Shahihah I/106 oleh Al-Albani).
 
Dari hadis ini dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu:
1. Kemaksiatan yang terselubung hanya akan ditimpakan adzab kepada pelakunya, akan tetapi manakala kemaksiatan telah marak dan dipertontonkan maka Allah akan turunkan adzab secara merata. Allah berfirman dalam surat Al-Anfaal [8]: 25, “Dan peliharah dirimu daripada siksa yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.”
 
2. Mengingkari kewajiban zakat bisa mengeluarkan seseorang dari Islam menjadi kufur.
 
3. Allah SWT berfirman di surat Al-Muthaffif [83]: 1-3, “Kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang curang. Yaitu orang-orang yang apabila mereka menakar atau menimbang dari orang lain, mereka minta dipenuhi dan apabila mereka memakan atau menimbang setiap orang mereka menguranginya.”
 
4. Lalu bagaimana keadaan orang-orang yang berkata, “Suara rakyat adalah suara Tuhan”? Kemudian mereka berhukum dengan suara rakyat sekali pun itu bertentangan dengan undang-undang Allah dalam Al-Quran? Sungguh jika kita menghayati sabda Nabi tersebut, kita tidak perlu heran jika adzab Allah berupa kerusakan dan bencana datang secara berantai tak mengenal henti. Dikarenakan manusia telah meninggalkan apa kata Allah dan apa kata Rasul-Nya.
 
5. Perselisihan diantara sesama muslim merupakan salah satu bentuk bencana atau adzab dari Allah. Dan obatnya adalah bersatu bersama dibawah panji Al-Quran dan As-Sunnah. Akan tetapi perlu dicatat, bahwa ketika Rasulullah mengucapkan sabdanya diatas, yang mendengar langsung dan memahami tafsirannya dengan pemahaman yang lurus adalah para sahabat. Sehingga untuk umat Muhammad saw setelah beliau dan para sahabat membutuhkan satu lagi elemen penting agar dapat mempersatukan barisan kaum muslimin. Yaitu kembali kepada pemahaman umat shaleh terdahulu dalam memahami dan mempraktikkan Al-Quran dan As-sunnah. Maka terkumpullah tiga syarat utama menuju persatuan Islam yang hakiki, yang dapat meredam setiap perselisihan: 1) Al-Quran, 2) As-Sunnah, dan 3) Faham sahabat terhadap keduanya.
 
Dari Tsauban, beliau berkata, Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Sudah dekat umat-umat selain Islam untuk berkumpul menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang makan menghadapi bejana makanannya.” Lalu seorang bertanya, “Apakah kami pada saat itu sedikit?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan kalian pada saat itu berjumlah banyak tetapi kalian seperti buih banjir, dan Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan kepada hati-hati kalian wahn.” Lalu seorang bertanya lagi, “Wahai Rasulullah apa wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (Sunnah Abu Dawud No.4297 dan Albani berkata shahih).
 
Setelah dilakukan telaah terhadap penyakit-penyakit yang menyerang umat ini maka dengan kebijaksanaan dan ilmu-Nya Allah telah memberikan jawaban sebelum kita bertanya. Tentu saja obat dari semua ini adalah meninggalkan sejauh mungkin apa yang menjadi sebab timbulnya bencana serta kerusakan. Dan berharap semoga Allah selalu menunjukkan kita jalan yang lurus. Jalan mereka yang telah Allah beri nikmat, bukan sebaliknya. Jalan  mereka yang dimurkai dan sesat. 

sumber foto : http://www.cbc.ca






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Kisah Hikmah Dari Masjid Nabawi
Kisah Hikmah Dari Masjid Nabawi
28
''Aku teringat ada beberapa keping emas di tangan kami. Aku tak suka terus memikirkannya, sehingga kusuruh segera dibagikan saja kepada yang berhak.'' (HR Bukhari).