Cerita Santri
Ayat-ayat Cinta Kang Abik, Cara Dakwah melalui Kisah

Ayat-ayat Cinta Kang Abik, Cara Dakwah melalui Kisah
Kang Abik mengungkapkan bahwa kisah Fahri dalam novel Ayat-ayat Cinta, yang menerjemah sendirian di kamarnya sampai muntah-muntah itu adalah dirinya. “Itu pengalaman saya sendiri ketika di Kairo. Alhamdulillah hikmahnya ketika menulis novel, seperti novel Api Tauhid, tidak terasa sudah panjang juga, sudah beratus-ratus halaman,” katanya.

Siapa yang tidak kenal Habiburrahman El Shirazy? Akrab dipanggil Kang Abik, ia pernah dinobatkan sebagai novelis no.1 di Indonesia oleh Insani Universitas Diponogoro tahun 2008. Novel karya kang Abik tidak hanya laris di Indonesia, tapi juga ke berbagai benua. Penulis novel Ayat-ayat Cinta ini berbagi kisahnya berdakwah melalui tulisan di kediamannya, kota kecil Salatiga.
 
Kang Abik terinspirasi dari kata-katanya Nabi Yaqub. Ketika itu, Nabi Yaqub meminta anak-anaknya mencari makanan ke Mesir. Daerah yang dihuni Nabi Yaqub beserta anak-anaknya mengalami kekeringan, sehingga tidak ada makanan sama sekali. Satu-satunya lumbung makanan terdapat di Mesir. Sebuah negeri yang ternyata dijaga Nabi Yusuf, anaknya yang dikiranya sudah meninggal dimakan binatang buas.
 
“Nabi Yaqub berkata pada anak-anaknya, masuklah dari pintu yang bermacam-macam. Jangan masuk dari satu pintu saja. Sebab jika hanya mengandalkan satu pintu, ketika pintu itu tidak dapat terbuka, kita tidak bisa masuk. Tapi, kalau dari pintu yang bermacam-macam, ketika satu pintu tidak dapat dibuka, pintu yang lain mungkin masih bisa,” tutur Kang Abik.
 
Menurutnya, apa yang dikatakan Nabi Yaqub konteksnya tepat untuk berdakwah. “Jadi, dakwah bisa dilakukan melalui lini apa saja. Selama itu baik, dan tidak bertentangan dengan ajaran Rasulullah saw, kita masuk. Ada yang melalui pemberdayaan sosial seperti Lembaga Amil Zakat Nasional Dompet Peduli Ummat (DPU) Daarut Tauhiid, media cetak dan online, televisi, mimbar, termasuk berdakwah lewat tulisan. Tulisan juga bermacam-macam. Nah, saya memilih menulis lewat genre sastra. Karena saya melihat di Indonesia belum banyak yang serius berdakwah lewat jalur sastra,” ungkapnya.
 
Ada Hikmah Dibalik Ujian
“Waktu saya kuliah di Kairo, saya pernah kepepet membutuhkan uang untuk biaya apartemen, kuliah, dan segala macam. Satu-satunya pekerjaan yang bisa saya lakukan adalah menulis,” ujar Kang Abik.
 
Menurutnya, begitulah cara Allah mendidik dirinya menjadi penulis. “Awalnya memang senang menulis, terus dibenturkan dengan kepepet itu tadi, kemudian harus profesional karena ada kontrak dengan penerbit, deadline dan sebagainya,” katanya.
 
Kang Abik juga mengungkapkan bahwa kisah Fahri dalam novel Ayat-ayat Cinta, yang menerjemah sendirian di kamarnya sampai muntah-muntah itu adalah dirinya. “Itu pengalaman saya sendiri ketika di Kairo. Alhamdulillah hikmahnya ketika menulis novel, seperti novel Api Tauhid, tidak terasa sudah panjang juga, sudah beratus-ratus halaman,” katanya.
 
Dari Tulisan ke Film
Novel karya-karyanya sangat digemari masyarakat muslim di Indonesia maupun di berbagai negara. Hal ini menarik minat para produser dan sutradara untuk mengilustrasikannya ke film. Novel pertama yang di filmkan yaitu Ayat-Ayat Cinta.
 
Namun, film Ayat-Ayat Cinta mendapat berbagai kritikan dari masyarakat karena beberapa bagian dalam isi film tidak sesuai dengan novelnya. Hal itu membuat Kang Abik terpacu untuk terjun langsung, mengawal film selanjutnya yang berjudul ‘Ketika Cinta Bertasbih’ dari awal hingga akhir.
 
“Waktu novel Ayat-Ayat Cinta di filmkan, saya masih belajar. Belum tahu betul seperti apa dan waktu itu kurang dilibatkan secara total. Tapi dari situ ada hikmahnya. Saya jadi belajar, dan menyutradarainya bersama almarhum Chairul Umam. Mengawal film dari awal hingga akhir,” tutur Kang Abik.
 
Berbagi dengan Berzakat
“Zakat merupakan bagian dari rukun Islam. Zakat itu adalah berbagi. Jadi, kita berbagi kepada orang lain yang sifatnya itu adalah zakat atau sedekah. Esensinya bukan sekadar orang lain yang untung, tapi sesungguhnya yang memberi itulah yang sangat diuntungkan,” tutur Kang Abik.
 
“Karena baik itu zakat maupun infak akan membersihkan. Banyak orang yang ngomong, enak banget itu yang dikasih. Padahal salah, yang ngasih justru yang untungnya lebih besar,” tambahnya.
 
“Menurut saya lembaga amil zakat nasional seperti DPU Daarut Tauhiid itu bagus. Tinggal dipaskan saja sama amilnya, disalurkan dalam bentuk program apa. Supaya para mustahik itu dientaskan dari garis kemiskinan,” ujarnya mengakhiri perbincangan. 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Tujuh Tips Membuat Rumah Bersih dan Rapi
Tujuh Tips Membuat Rumah Bersih dan Rapi
16
Berikut adalah beberapa tips yang dapat dilakukan agar rumah tetap bersih dan rapi. Semoga tips dar A Deda ini bermanfaat dan semoga dapat bernilai ibadah.