Cerita Santri
Umrah dan Haji, Siapa pun Bisa

Umrah dan Haji, Siapa pun Bisa
Beberapa tahun lalu, publik diramaikan dengan pemberitaan Mak Yati, seorang pemulung yang rela menabung selama bertahun-tahun untuk membeli hewan kurban. Apa yang dilakukan Mak Yati rupanya menyentuh banyak pihak. Ketulusan dan perjuangan Mak Yati menarik simpati para donatur.

Pergi ke Baitullah untuk beribadah haji atau umrah merupakan impian besar setiap muslim. Kaya, miskin, tua, muda, mulai dari presiden hingga rakyat jelata, mereka semua berlomba-lomba ingin ke sana. Demi menggapai impian tersebut, tidak sedikit yang rela mengumpulkan kepingan rupiah selama bertahun-tahun.
 
Setiap tahunnya, masyarakat muslim di dunia—termasuk di Indonesia—turut ambil bagian dalam pertemuan terbesar di bumi ini. Bermacam-maacam negara, suku, warna kulit, semua bergabung melaksanakan rukun Islam kelima tersebut.
 
Mengenai dasar hukum haji, para ulama fikih sepakat ibadah haji dan umrah adalah wajib hukumnya bagi setiap muslim yang mempunyai kemampuan biaya, fisik dan waktu, sesuai dengan nash al-Quran, “Dan Allah mewajibkan atas manusia haji ke Baitullah bagi orang yang mampu mengerjakannya.” (QS. Ali Imran [3]: 97)
 
Nabi saw bersabda, “Islam dibangun atas lima hal: bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadan dan menunaikan haji ke Baitullah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
 
Meski demikian, tidak semua muslim mampu melaksanakan ibadah ini. Terkadang, keinginan yang begitu besar tidak sebanding dengan kemampuan, baik dari segi biaya maupun keadaan fisik. Ada juga yang memiliki kelebihan harta dan sehat, namun hatinya belum terpanggil melaksanakan. Jika seorang muslim sudah mampu pergi haji atau umrah, hendaknya ia bersegera dan jangan menunda.
 
Hikmah Haji dan Umrah
Semua ibadah dalam Islam pasti memiliki hikmah yang sangat tinggi. Demikian pula halnya dengan ibadah haji dan umrah. Hikmahnya antara lain:
 

  • Meningkatkan disiplin.
Melaksanakan ibadah haji dan umrah di Mekah dan Madinah harus terbiasa untuk disiplin. Pola disiplin ini harus bisa berkelanjutan, meskipun waktu pelaksanaan ibadah telah selesai.
 
  • Meningkatkan kualitas diri.
Dosa yang kita punya akan dihapuskan Allah ketika melaksanakan ibadah secara tulus dan ikhlas. Kita pun terdorong lebih taat menjalankan ibadah yang lain, selain haji dan umrah.
 
  • Memunculkan sifat sabar.
Banyak ujian yang muncul ketika melaksanakan ibadah haji dan umrah. Berbagai orang dari segala penjuru dunia berkumpul dalam satu tempat. Ini berpeluang menimbulkan masalah berkaitan fasilitas yang harus digunakan bersama karena jumlahnya terbatas.
 
  • Melahirkan rasa solidaritas.
Banyaknya jumlah umat yang berkumpul dalam satu tempat, yaitu Mekah akan menimbulkan rasa persatuan umat yang tinggi, tanpa membedakan golongan, ras, dan lain-lain. Perbedaan tersebut tidak perlu menimbulkan perpecahan, namun justru membuat ikatan persaudaraan  sesama muslim di seluruh dunia.
 
  • Meningkatkan dakwah.
Umat Islam dari segala penjuru dunia berkumpul, dapat menjadi media yang tepat meningkatkan dakwah islamiyah. Kita bisa belajar bertukar pengalaman terhadap pelaksanaan ibadah atau pengaplikasian nilai-nilai Islam dalam kehidupan masing-masing negara atau wilayah.
 
Tentunya masih banyak hikmah lain yang dapat kita ambil dari pelaksanan ibadah haji/umrah. Namun yang terpenting setelah pulang dari melaksanakan haji dan umrah, kita harus memiliki pencerahan jiwa baru berwujud amal saleh. Khususnya bagi diri sendiri dan umumnya untuk masyarakat atau lingkungan sekitar.
 
Siapa pun Bisa
Melaksanakan ibadah haji dan umrah adalah kewajiban seorang muslim yang mampu. Tanpa melihat mampu atau tidaknya, melaksanakan ibadah haji dan umrah juga hak setiap muslim. Keuangan yang baik, kondisi tubuh prima, dan pengetahuan keagamaan yang cukup, tidak menjamin seseorang memiliki niat dan keinginan melaksanakannya. Saat ini, begitu banyak orang yang secara materi belum mampu menunaikan ibadah tersebut, tapi keinginannya begitu besar dan kuat.
 
Ketika Allah SWT menghendaki seseorang untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah, maka tidak ada satu pun yang dapat menghalangi. Miskin, kaya, rakyat jelata, pemulung, bahkan apa pun profesinya, ketika Allah berkehendak mengundang seseorang berkunjung ke rumah-Nya, maka hal itu pasti akan terjadi.
 
Beberapa tahun lalu, publik diramaikan dengan pemberitaan Mak Yati, seorang pemulung yang rela menabung selama bertahun-tahun untuk membeli hewan kurban. Apa yang dilakukan Mak Yati rupanya menyentuh banyak pihak. Ketulusan dan perjuangan Mak Yati menarik simpati para donatur. Mereka mengumpulkan dana dan memberangkatkan Mak Yati beserta suaminya pergi menunaikan ibadah haji dengan Ongkos Naik Haji (ONH) Plus.
 
Mak Yati adalah contoh dari sosok yang kondisi perekonomiannya sangat terbatas. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia harus memulung barang-barang bekas. Secara logika dan perhitungan manusia, sangat susah bagi orang seperti Mak Yati untuk pergi haji atau umrah. Apalagi untuk bekurban pun, Mak Yati harus menabung selama bertahun-tahun.
 
Namun perlu diingat, perhitungan dan logika manusia tidak sama dengan perhitungan Allah. Ketika Allah berkehendak dan memanggil Mak Yati dan suaminya menunaikan ibadah haji, maka terjadilah!
 
“Dan tiadalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah! maka jadilah ia.’ Maha Suci Allah yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan." (QS. Yassin [36]: 81-83)
 
Kejadian serupa juga terjadi kepada dua orang koordinator donatur Dompet Peduli Ummat (DPU) Daarut Tauhiid. Keinginan sejak lama untuk melaksanakan umrah, akhirnya tercapai di usianya yang kini tidak lagi muda. Ketekunan, keikhlasan, dan kesungguhan mereka selama ini berbuah manis.
 
Mereka adalah Ai Aisha dan Muslihudin. Selama bertahun-tahun, bahkan lebih dari 10 tahun mereka mendedikasikan diri mengajak orang-orang di sekitarnya untuk berzakat, infak, dan sedekah. Hingga kini, telah ada puluhan, bahkan ratusan donatur yang diajak bergabung bersama DPU Daarut Tauhiid. Mengapresiasi kegigihan keduanya, DPU Daarut Tauhiid memberikan hadiah berupa umrah gratis.
 
Air mata haru mengalir dari mata keduanya. Ai Aisha dan Muslihudin tidak menyangka sama sekali hadiah istimewa tersebut diberikan untuk mereka. Selama ini mereka hanya memendam keinginginan berkunjung ke Baitullah sambil berdoa kepada Allah SWT. Inilah bukti kekuasaan Allah bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Jika Allah berkehendak, maka hal itu pasti terjadi. Allahu akbar!
 Foto: okezone
 
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Tujuh Tips Membuat Rumah Bersih dan Rapi
Tujuh Tips Membuat Rumah Bersih dan Rapi
16
Berikut adalah beberapa tips yang dapat dilakukan agar rumah tetap bersih dan rapi. Semoga tips dar A Deda ini bermanfaat dan semoga dapat bernilai ibadah.