Cerita Santri
Miskin Bukanlah Kegagalan

Miskin Bukanlah Kegagalan
Betapa tawadhu, bahkan seolah-olah hampir terkesan fakir. Tetapi tidak fakir, karena setiap rezeki yang beliau peroleh segera beliau bagi-bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Saudaraku, dulu saya pernah mengikuti dan melatih semacam pelatihan menuju kaya. Namun, sekarang saya sudah berubah pandangan. Bagi saya, hidup tidak harus kaya dan tidak penting menjadi orang kaya. Yang penting adalah cukup dan berkah.
 
Dalam hidup ini, kita suka dan mudah terkesima pada dunia. Kita menganggap kekayaan sebagai tanda kesuksesan, sehingga orang yang miskin dianggap sebagai orang yang gagal. Padahal, kaya dan miskin itu sama saja. Allah SWT menciptakan kekayaan berbeda-beda bagi setiap orang itu sebagai ujian. Jika Allah menghendaki semuanya kaya, maka amatlah mudah. Karena dunia ini sungguh tidak ada apa-apanya bagi Allah.
 
Kita lahir dan mati sama-sama tidak membawa apa-apa. Rasulullah saw berdoa, “Ya Allah, hidupkan aku dalam keadaan miskin, matikan dalam keadaan miskin, dan kumpulkan saya bersama orang miskin.” Namun harus diingat bahwa miskin di sini artinya tawadhu. Yaitu tidak silau pada gemerlap duniawi. Dan bukan fakir, karena Rasulullah pun berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran.”
 
Dengan izin Allah SWT, saya pernah melihat maket rumah Rasulullah saw di Madinah. Dan masya Allah, rumah beliau di sebelah masjid itu tidak terlalu tinggi. Kalau beliau berdiri tahajud, maka akan terlihat. Atapnya terbuat dari pelepah kurma. Tidak ada sofa, apalagi singgasana. Di lantainya tidak ada marmer, di pintu tidak ada bel. Tidak ada perabotan mewah, kecuali kendi. Rasulullah tidur di atas anyaman daun kurma yang kasar dan membekas di badan. erkadang Siti Aisyah tidak memasak, dan yang ada hanya kurma dan air.
 
Betapa tawadhu, bahkan seolah-olah hampir terkesan fakir. Tetapi tidak fakir, karena setiap rezeki yang beliau peroleh segera beliau bagi-bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Beliau tidak pernah bisa merasa tenang selama melihat orang lain kelaparan atau kehidupan sehari-harinya tak tercukupi.
 
Sederhananya rumah Rasulullah pernah membuat Umar bin Khaththab amat sedih, ketika melihat kandang hewan piaraan tetangganya yang dibangun megah di zamannya. Rasulullah itu manusia paling mulia dan dijamin surga. Pemimpin yang tiada bandingannya, hasil perjuangan beliau monumental dan menjadi sumber peradaban. Rumah sederhana beliau itu tempat turunnya wahyu.
 
Nah, saudaraku, kita ini siapa? Kemuliaan kita tidak jelas, dan yang jelas cuma dosa. Mengapa kita harus malu kalau hidup miskin atau tawadhu? Mengapa orang yang miskin kita anggap gagal? Seharusnya kita yang banyak bergaya dengan barang-barang pinjaman dan cicilan ini yang malu dan merasa gagal. Kita yang tidak bahagia.
 
Jadi, jangan malu atau minder oleh kekurangan, karena itu merupakan ciri pecinta dunia. Hidup ini seharusnya tenang saja. Kita tidak perlu malu, misalkan hanya punya rumah sederhana atau “RS pangkat tiga”. Karena gubuk maupun istana sama-sama milik Allah, dan kita sama-sama menumpang. Bahkan rumah sederhana itu lebih aman. Lebih aman dari kesombongan, sebab tidak ada yang bisa disombongkan. Dan lebih aman dari maling, karena maling pun prihatin.
 
Yang penting hidup kita cukup. Misalkan saat pergi ke pengajian, kita punya cukup untuk ongkos angkot. Kalau angkot sering sepi karena protes kenaikan BBM, maka kita punya cukup untuk membeli motor. Dan kalau naik motor jadi sering sakit dikarenakan musim hujan, maka kita pun cukup untuk membeli jas hujan. Beli mobil nanti, setelah cicilan motor lunas.
 
Maksudnya, kita punya cukup untuk memenuhi keperluan. Bukan cukup untuk memuaskan nafsu atau keinginan. Dan cukupnya keperluan itu tidak ada hubungannya dengan kaya atau miskin. Tapi, “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. ath-Thalâq [65]: 3).
 
Jadi, saya tidak mengajak saudara hidup bermalas-masalan dan fakir. Namun, supaya kita tidak silau terhadap gemerlap dan gemerincing duniawi yang lebih mudah membuat kita lalai, sehingga mendatangkan petaka. Dan mengajak kepada saudara, yang apabila “jatah hidup” saudara memang miskin, maka jangan takut maupun malu. Orang yang miskin bukanlah orang yang gagal. Karena dunia ini cuma sebentar. Hanya seperti sebatang pohon tempat berteduh bagi seorang pejalan, yang sekejap berlalu pohon itu pun segera ditinggalkan. Dan pejalan itu adalah kita.
 
Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thâhâ [20]: 131).
 
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Budaya Bersahaja
Budaya Bersahaja
14
Memilih hidup dengan budaya bersahaja bukan berarti tidak boleh membeli barang yang bagus, mahal, dan bermerek. Silahkan saja! Tapi kalau kita berlaku boros, sama sekali tidak akan menjadi amal kebaikan.