Cerita Santri
Tenteramnya Hati karena Berbagi

Tenteramnya Hati karena Berbagi
Sebelum bersedekah, aku tinggal bersama ibu selama beberapa tahun. Kebutuhan hedon (berfoya-foya) lebih menarik bagiku. Keinginan berbagi masih jauh dalam hati,

Hidayah datang kepada hamba yang Allah kehendaki. Berbagai cara dan peristiwa dapat menjadi jalan pembuka pintu hidayah bagi hamba-Nya. Begitu pula dengan diriku, hidayah tersebut terjadi sekitar setahun yang lalu. Bermula dari melihat salah satu tayangan televisi yang diisi oleh salah satu ustaz terkenal dengan kisah sedekahnya, hatiku mulai terketuk untuk berbagi.
 
Awalnya, niat berbagi ini aku lakukan sendiri tanpa sepengetahuan suami. Namun, setelah beberapa waktu, ada keraguan yang singgah dalam hati. Rezeki yang kuberikan syariatnya dari suami, namun ia tidak mengetahui kemana dan untuk apa aku melakukan hal tersebut. Ada kecemasan yang menghampiri, apakah suami akan setuju dengan perbuatanku? Akhirnya aku mulai memberanikan diri untuk mengutarakan niat baik yang akan dilakukan.
 
Tanpa dinyana, ternyata suami sangat mendukung dan bersemangat menyikapi niat sedekah yang aku utarakan.Mulai saat itu, aku mulai memperbaiki pengeluaran bulanan yang ada. Sedekah bukan uang sisa yang aku berikan, namun hal pertama dari kebutuhan primer dan sekunder yang kami lakukan.Sejak saat itu, keajaiban Allah mulai tampak satu persatu.
 
Sebelum bersedekah, aku tinggal bersama ibu selama beberapa tahun. Kebutuhan hedon (berfoya-foya) lebih menarik bagiku. Keinginan berbagi masih jauh dalam hati, bahkan belum terbersit. Tinggal bersama keluarga tentu membuat pengeluaran untuk tempat tinggal tidak teralokasi karena tercukupi. Namun, uang dari penghasilan suami selalu saja habis entah kemana. Pengeluaran selalu saja ada untuk hal-hal yang tidak terencana.
 
Hingga suatu hari, ada keluarga yang menetap di rumah sehingga kami harus mengalah dan tidak serumah lagi bersama orangtua.Tinggal di rumah kontrakan adalah hal baru bagi kami. Perencanaan rumah mulai ada, bahkan lumayan untuk hitungan daerah perkotaan tiap bulannya. Namun, hal tersebut membuat kami lebih dewasa dalam bertindak dan merencakan pengeluaran, ditambah dengan kehadiran dua buah hati yang sudah mulai masuk ke jenjang Sekolah Dasar dan usia 2 tahun.
 
Hingga akhirnya, nikmat hidayah dan karunia sedekah terasa sungguh luar biasa. Limpahan rezeki yang Allah berikan kepada Hamba-Nya sangat tidak terhitung. Nikmat sehat, iman dan Islam adalah karunia besar yang Allah limpahkan pada diriku dan keluarga. Kebutuhan kontrakan rumah tercukupi, kendaraan pribadi dengan mudah terpenuhi, dan uang selalu ada lebihnya sehingga masih bisa mengalokasikan untuk investasi akhirat dengan sedekah dan berbagi.
 
Namun yang terpenting adalah ketenangan hati dan jiwa, sehingga menimbulkan nikmat ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Keharmonisan keluarga terjaga dan tingkah laku pun terkontrol. Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah memberikan nikmat ini kepadaku dan keluarga. Maka amatlah benar ayat al-Quran yang berbunyi, “Fabiayi ala irobikuma tuqaziban, maka nikmatTuhanmu yang mana yang engkau dustakan?” []






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Budaya Bersahaja
Budaya Bersahaja
14
Memilih hidup dengan budaya bersahaja bukan berarti tidak boleh membeli barang yang bagus, mahal, dan bermerek. Silahkan saja! Tapi kalau kita berlaku boros, sama sekali tidak akan menjadi amal kebaikan.