Cerita Santri
Budaya Bersahaja

Budaya Bersahaja
Memilih hidup dengan budaya bersahaja bukan berarti tidak boleh membeli barang yang bagus, mahal, dan bermerek. Silahkan saja! Tapi kalau kita berlaku boros, sama sekali tidak akan menjadi amal kebaikan.

Budaya Bersahaja
Kecenderungan manusia berperilaku boros terhadap harta memang sudah ada dalam dirinya. Ditambah lagi perilaku boros adalah salah satu tipu daya setan terkutuk yang membuat harta tidak efektif mengangkat derajat. Harta justru efektif menjerumuskan, membelenggu, dan menjebak kita dalam kubangan tipu daya harta karena salah menyikapinya.
 
Hal ini dapat diperhatikan dalam hidup keseharian. Orang yang punya harta, kecenderungan untuk menjadi pecinta harta cenderung lebih besar. Makin bagus, makin mahal, makin senang, maka makin cintalah ia kepada harta yang dimilikinya. Lebih dari itu, maka ingin pulalah ia untuk memamerkannya. Terkadang apa saja ingin dipamer-pamerkan. Ada yang pamer kendaraan, rumah, mebel, pakaian, dan lain-lain. Sifat ini muncul karena salah satunya kita ingin tampil lebih wah, lebih bermerek, atau lebih keren dari orang lain. Padahal, makin bermerek barang yang dimiliki justru akan menyiksa diri.
 
Dalam hal ini Allah SWT berfirman, "Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu saudaranya setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhan-Nya." (QS. al-Israa [17]: 26-27). Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, "Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula mereka kikir. Dan adalah pembelanjaan itu ditengah-tengah yang demikian itu." (QS. al-Furqan [25]: 67).
 
Memilih hidup dengan budaya bersahaja bukan berarti tidak boleh membeli barang yang bagus, mahal, dan bermerek. Silahkan saja! Tapi kalau kita berlaku boros, sama sekali tidak akan menjadi amal kebaikan. Tidak setiap keinginan harus dipenuhi. Karena jika kita ingin membeli sesuatu karena ingin dan senang, ketahuilah bahwa keinginan itu cepat berubah. Kalau kita membeli sesuatu karena suka, maka ketika melihat yang lebih bagus, akan hilanglah selera kita pada barang yang awalnya lebih bagus tadi. Belilah sesuatu hanya karena perlu dan mampu saja. Sekali lagi, hanya karena perlu!
 
Misalnya, ketika tersirat ingin membeli motor baru, tanyakan apakah perlu membeli motor baru? Sudah wajibkah kita membelinya? Nah, ketika alasan pertanyaan tadi sudah logis dan dapat diterima akal sehat, maka kalau pun jadi membeli pilihlah yang skalanya paling irit, paling hemat, dan paling mudah perawatannya.
 
Jangan berpikir dulu tentang keren atau mereknya. Cobalah renungkan, memilih keren tapi menderita atau irit tapi lancar? Tahanlah keinginan berlaku boros dengan sekuat tenaga. Yakinlah makin kita bisa mengendalikan keinginan, Insya Allah akan makin terpelihara dari sikap boros. Sebaliknya, jika tidak dapat dikendalikan, maka pastilah kita akan disiksa oleh barang-barang tersebut.
 
Rugi, sangat rugi orang yang memperturutkan hidupnya karena sesuatu yang dianggap keren atau bermerek. Apalagi, keren menurut kita belum tentu keren menurut orang lain, bahkan sebaliknya bisa jadi malah dicurigai. Karena ada pula orang yang ketika memakai sesuatu yang bermerek, justru disangka barang temuan.
 
Karenanya, biasakanlah senantiasa bersahaja dalam setiap yang kita lakukan. Dan mudah-mudahan Allah mengkaruniakan kepada kita kemampuan untuk menjadi orang yang terpelihara dari perbuatan sia-sia dan pemborosan.






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Menjaga Amanah
Menjaga Amanah
19
Mengingat pentingnya menjaga amanah, penulis mengajak kepada siapa saja yang telah diberikan kepercayaan oleh masyarakat untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.