Cerita Santri
Milikilah Lingkungan yang Kondusif

Milikilah Lingkungan yang Kondusif
Kita menemukan anak-anak yang unggul di sekolahnya, ternyata tumbuh dan berkembang di lingkungan yang pola hidupnya kondusif, teratur, dan sistematis.

Milikilah Lingkungan yang Kondusif
Saudaraku, manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Sejak seseorang bayi dilahirkan ke dunia, ia akan cepat belajar tentang kebiasaan lingkungannya. Ia akan mengikuti bahasa ibunya. Seiring pertumbuhan dan perkembangannya, sang bayi semakin banyak belajar dari lingkungan yang lebih luas lagi. Jika sebelumnya hanya lingkungan dalam rumah, maka bertambah ke lingkungan luar rumah, dan seterusnya.
 
Tidak heran jika ada seorang anak yang usianya sudah memasuki masa bermain dengan teman-temannya, saat pulang ke rumah membawa kosakata baru yang tidak pernah diajarkan ibu dan ayahnya. Tidak hanya kata-kata, namun juga sikap perbuatan. Begitu kuatnya pengaruh lingkungan pada diri kita.
 
Mari kita perhatikan anak-anak yang berprestasi di sekolahnya. Bagi para guru atau para orangtua yang anaknya memiliki teman yang lebih berprestasi di kelas, maka cobalah untuk mencari tahu apa penyebab ia lebih berprestasi. Jawaban yang sangat banyak terungkap adalah karena anak tersebut memiliki keluarga yang kondusif untuk belajar. Bisa jadi orangtuanya yang membantunya, yakni dengan cara mengajarinya langsung atau mendatangkan guru privat, serta menyediakan buku-buku bacaan yang menarik untuk anaknya.
 
Demikian juga saat kita melihat seorang anak yang saleh, sopan santun, tutur katanya terjaga dan sikapnya terpelihara, apalagi ditambah dengan hafalan Quran yang relatif lebih banyak dibandingkan teman-temannya. Perhatikanlah mengapa anak tersebut bisa demikian. Jawaban yang banyak sekali terungkap, ternyata di dalam rumahnya ada suasana kondusif bagi ia untuk menjadi pribadi berakhlak mulia.  
 
Kita menemukan anak-anak yang unggul di sekolahnya, ternyata tumbuh dan berkembang di lingkungan yang pola hidupnya kondusif, teratur, dan sistematis. Meski mungkin tidak tertulis, tetapi ada jadwal jam istirahat, jam belajar, jam bermain yang jelas, dan diterapkan secara disiplin. Sehingga terbentuklah kebiasaan yang baik dalam diri anak tersebut.
 
Mengapa banyak orangtua berbondong-bondong mencari sekolah unggul? Ada orangtua yang berusaha keras supaya anaknya bisa masuk sekolah dengan standar internasional, meski konsekuensinya harus mengeluarkan biaya yang cukup besar. Ada juga orangtua yang rela waktu kebersamaan dengan anaknya secara fisik berkurang, karena anaknya belajar di pondok pesantren dengan sistem asrama dan terletak di luar kota.
 
Mengapa para orangtua rela berkorban sedemikian rupa? Tiada lain adalah demi anaknya bisa belajar di tempat yang kondusif, sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Ada orangtua yang bercita-cita anaknya bisa menjadi diplomat yang menguasai bahasa asing sejak belia, maka disekolahkanlah anaknya ke sekolah internasional. Ada orangtua yang bercita-cita anaknya menjadi seorang hafiz al-Quran 30 juz lengkap dengan pemahamannya, maka dititipkanlah anaknya di pesantren tahfiz.
 
Saudaraku, mari kita ingat-ingat kembali petikan sejarah Islam pada masa-masa awal. Khususnya pada peristiwa hijrah Rasulullah saw bersama para sahabat dari Mekkah ke Madinah. Mengapa ada peristiwa hijrah? Salah satu alasannya adalah karena Madinah memiliki lingkungan yang jauh lebih kondusif untuk keselamatan kaum muslimin dibandingkan Mekkah. Meskipun hijrah ini sangat berat dilakukan karena Mekkah merupakan tanah kelahiran dan kampung halaman, namun karena ini adalah perintah Allah, maka tidak ada alasan bagi kaum muslimin untuk tidak menuruti seruan Rasulullah saw.
 
Selama 13 tahun Rasululloh menunaikan tugas dakwah di Kota Mekkah, kaum kafir di kota ini tidak sedikit pun mengurangi intimidasi terhadap beliau dan para sahabat. Bahkan serangan dan siksaan yang diarahkan kepada Rasul dan para sahabat malah semakin menjadi-jadi.
 
Sedangkan banyak orang berdatangan dari Madinah ke Mekkah untuk menemui Rasulullah dan menyatakan keislamannya, yang dikenal dengan Baiat Aqobah. Orang-orang dari Madinah ini mengajak Rasul untuk pindah ke Madinah bersama kaum muslimin dan dijamin keselamatannya di sana.
 
Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah bersabda, “Aku pernah bermimpi hijrah dari Mekkah menuju suatu tempat yang ada pohon kurmanya. Lalu aku mengira tempat itu adalah Yamamah atau Hajr. Namun ternyata tempat itu adalah Yatsrib (Madinah).” (HR. Bukhari dan Muslim)
 
Allah SWT berfirman, Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Anfal [8]: 72)
 
Setiap perintah Allah pasti mengandung kebaikan. Dan terbukti saat di Madinah, Rasulullah bersama para sahabat mendapat tempat yang kondusif untuk melakukan dakwah. Kaum Anshor di Madinah benar-benar menyambut, menjamin dan membantu Rasul bersama kaum Mujahirin.
 
Sejak periode Madinah ini, jumlah kaum muslimin meningkat pesat dan menjadi umat yang unggul. Dakwah Islam pun menyebar ke tempat-tempat terjauh dalam waktu yang relatif singkat. Kota Mekkah pun bisa kembali ke pelukan kaum muslimin dengan damai. Masya Alloh.
 
Jadi, untuk menjadi pribadi unggul, milikilah lingkungan yang kondusif yang bisa mendukung keinginan kita untuk meningkatkan kualitas diri menjadi pribadi yang semakin hari semakin baik. Jika lingkungan yang saat ini kita tinggali sangat tidak mendukung hal tersebut, maka janganlah ragu untuk berpindah ke lingkungan yang lebih baik.
 
Jika tempat kita berada sekarang, beserta orang-orang yang berada di sana, mendukung untuk membuat diri kita semakin baik, maka bertahanlah. Sedangkan jika sebaliknya, maka tinggalkanlah. Karena sekali pun kita bersikeras untuk bertahan dalam lingkungan yang tidak kondusif, sedikit banyak kita akan terkena pengaruhnya juga.
 
Rasulullah pernah bersabda, “Perumpamaan teman yang saleh dengan teman yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Berteman dengan penjual wangi akan membuatmu harum karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium bau wanginya. Sedangkan berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya mendapatkan bau tidak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)
 
Saat bekerja di tempat yang tidak kondusif untuk beribadah, tidak kondusif untuk meningkatkan kualitas diri dan kemampuan, maka jangan ragu meninggalkannya. Terlebih jika mengingat ibadah yang sulit misalnya, tidak diizinkan salat di awal waktu secara berjamaah, maka ini urusan yang berat. Padahal beres tidaknya diri kita dan pekerjaan kita bisa diukur dari kualitas pelaksanaan salat. Jika beres salatnya, beres pula urusan lainnya. Percayalah, rezeki Allah bertebaran di setiap jengkal dunia ini. Jika kita meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah selalu bersama kita. Insya Allah!
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Menjaga Amanah
Menjaga Amanah
19
Mengingat pentingnya menjaga amanah, penulis mengajak kepada siapa saja yang telah diberikan kepercayaan oleh masyarakat untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.