Inspirasi
[MENJADI] MU’MIN SEJATI: Kunci Menjalani Hidup Sarat Prestasi

[MENJADI] MU’MIN SEJATI: Kunci Menjalani Hidup Sarat Prestasi
latar belakang apapun, baik lapang maupun sempit, akan dinetralisir oleh seorang mu’min sehingga menjadi amal sholeh yang bernilai kebaikan. Inilah keajaibannya.

“Sangat ajaib keadaan seseorang mu’min, sesungguhnya segala urusannya adalah baik, dan itu tidak terjadi kepada seseorang kecuali pada mu’min. Jika dia mendapat kesenangan dia bersyukur, maka demikian itu kebaikan buatnya. Dan jika dia mendapat kesusahan, dia bersabar, maka demikian itu adalah kebaikan buatnya.” (HR Muslim dari Abu Yahya Suhaib bin Sinan).

Wow, sebuah sabda yang sangat motivatif dan konstruktif bagi umat Islam. Sabda yang berisi janji Allah melalui Rasul-Nya, bahwa seorang mu’min (siapapun itu) akan senantiasa mendapatkan kebaikan dalam ragam kondisi apapun. Subhanallah. Umpama seseorang yang akan bertanding, ia pasti akan berjalan melenggang dengan penuh ketenangan dan rasa optimis manakala dirinya telah mampu menutup seluruh celah kelemahan. Sebaliknya, seorang ahli sekalipun akan diliputi berbagai kecemasan manakala ia sadar belum bisa menutup seluruh celah kekurangan walau celah tersebut sangat kecil bahkan hampir mustahil ditemukan. Begitulah sifat hati nurani, tidak akan pernah bisa dibohongi.
  
Melalui sabda ini, seorang mu’min mendapat sebuah kepastian dari Rabb melalui Rasul-Nya bahwa jejak kehidupannya akan senantiasa ia lalui dengan berbagai macam kebaikan. Kemu’minan seseorang Allah dudukkan sebagai mesin cetak yang akan memproduk berbagai macam cetakan kebaikan. Latar belakang apapun, baik lapang maupun sempit, akan dinetralisir oleh seorang mu’min sehingga menjadi amal sholeh yang bernilai kebaikan. Inilah keajaibannya.
  
Sejarah pun telah membuktikan hubungan antara kemu’minan seseorang dengan keajaibannya. Kita mengetahui di antara sosok mu’min adalah para Nabi/Rasul serta para wali-Nya. Dan, mereka memiliki keajaiban (yang dalam tadris Aqidah kita kenal dengan istilah) mu’jizat serta karomah. Ada Nabi Nuh yang memiliki mu’jizat membuat bahtera kapal, Nabi Musa dengan tongkatnya yang bisa memancarkan air dari batu atau membelah lautan, apalagi Nabi Isa yang kita tahu adalah Nabi yang paling banyak menampilkan (show up) mu’jizatnya. Begitupun para wali yang bahkan antara mitos dan realita kekaromahannya sulit dibedakan. Itulah keajaiban yang diberikan Allah kepada Nabi/Rasul dan wali-Nya.
  
Lalu, bagaimana dengan orang biasa? Barokallahu lakum wa lana, ternyata Allah pun memberikan keluarbiasaan kepada orang biasa, tentunya selama ia adalah seorang mu’min. Inilah maunah. Bila kita pelajari sejarah para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabiin, dst., mereka memiliki keunikan masing-masing yang bagi mereka biasa namun bagi kita adalah luar biasa.  Sahabat Bilal yang ketika Rasulullah bermimpi mau memasuki surga ternyata di dalamnya sudah terdengar terompah sandal Bilal hanya karena Bilal selalu menjaga wudlunya. Atau Sahabat Usamah bin Zaid yang dipercaya Khalifah Umar untuk mengganti Panglima Perang Legendaris (Khalid bin Walid) di usia belasan tahun dan berhasil mengembannya. Juga Imam Syafi’I yang hapal Qur’an dalam usia sangat belia serta mampu memahami penjelasan gurunya secara langsung tanpa melalui transformasi ilmu tersebut ke dalam bentuk tulisan. Siapa lagi, ayo? Tentunya akan terlampau banyak tokoh-tokoh mu’min (yang mendapatkan maunah) bila harus kita tulis dan sebutkan satu per satu. Tentunya, pengetahuan ini jangan hanya lewat begitu saja. Saat ini kita mendapat sebuah kesadaran bahwa ada kesempatan besar untuk menjadi pribadi menyejarah melaui maunah-Nya, maukah kita menjadi salah seorang yang mendapatkannya?
 
Tentunya tidak ada orang yang tidak ingin menjadi luar biasa (makanya training-training motivasi begitu menjamur dan laku baik di dalam maupun di luar negeri). Itu semua menandakan bahwa semua manusia mendambakan prestasi. Dan, semakin besar prestasi atau karya seseorang maka semakin bangga ia dengan jatidirinya sebagai manusia. Lalu, sulitkah menjadi pribadi yang luar biasa?
 
Menjadi orang luar biasa bisa terasa sulit namun juga bisa terasa amat mudah karena keluar-biasaan bukan dicari tapi didapat, dan pemberinya adalah Allah. Oleh karenanya, carilah penyebab yang akan mendatangkan akibat Allah memberikan keluar-biasaannya kepada kita. Berdasarkan H.R. Muslim di atas, satu-satunya penyebab adalah kemu’minan seseorang. Oleh karenanya, supaya kita menjadi orang luar biasa maka perjalankanlah diri kita untuk menjadi sebaik-baiknya mu’min (mu’min haq). Dan, sebenarnya Allah telah memberikan tuntunan kepada kita untuk menjadi the real mu’min tersebut. Wallahu a’lam.






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Inspirasi Lainnya
Tenteramkan Hati Karena Berbagi
Tenteramkan Hati Karena Berbagi
22
Sedekah bukan uang sisa yang aku berikan, namun hal pertama dari kebutuhan primer dan sekunder yang kami lakukan.