Inspirasi
Pemuda yang Berkarya

Pemuda yang Berkarya
Muhammad Al-Fatih menjadi Sultan (Raja) saat berusia 19 tahun, menggantikan ayahnya. Ia pun mampu menaklukkan Konstantinopel pada Kamis, 26 rabiul Awal 857 H atau 6 April 1453 M, bersama tentaranya saat berusia 21 tahun.

Muhammad al-Fatih dilahirkan pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine, ibu kota Daulah Utsmaniyah saat itu. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang merupakan raja keenam Daulah Utsmaniyah.
 
Sejak kecil, ia dididik oleh orangtuanya tentang ketauhidan kepada Allah SWT. Ia diajarkan tentang syariat Islam, sejarah peradaban Islam, bahkan, ia pun dididik untuk menjadi seseorang yang Rasulullah saw sabdakan.
 
Apa sabda Rasulullah saw itu? “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].
 
Sudah banyak pemuda dan pemimpin dari Umat Islam terdahulu yang berusaha mewujudkan sabda Rasul itu. Namun, belum ada yang dapat menaklukkannya. Maka, Muhammad al-Fatih inilah yang diharapkan kedua orangtuanya untuk meneruskan perjuangan, untuk mewujudkan sabda Rasulullah Muhammad saw. Bahkan, salah seorang guru yang menempa beliau ialah Syeikh Syamsuddin, yang ternyata masih keturunan dari Abu Bakar As-Sidiq.
 
Muhammad Al-Fatih menjadi Sultan (Raja) saat berusia 19 tahun, menggantikan ayahnya. Ia pun mampu menaklukkan Konstantinopel pada Kamis, 26 rabiul Awal 857 H atau 6 April 1453 M, bersama tentaranya saat berusia 21 tahun. Usia yang sangat muda untuk menjadi pemimpin kerajaan, sekaligus pemimpin pasukan perang.
 
Keberhasilannya itu menyebabkan banyak kawan dan lawan kagum kepada dirinya. Caranya memimpin, akhlaknya yang mulia, serta taktik atau strategi perangnya yang sangat tidak masuk akal, serta kekuatan tauhid para tentaranya yang luar biasa. Setelah ditaklukan, ia pun mengganti nama Konstantinopel menjadi Isalambu (Islam Keseluruhannya). Namun, di masa kini, nama Islambul diganti oleh Mustafa Kemal Ataturk menjadi Istanbul. Sebagai bentuk penghargaan bagi Sultan Muhammad al-Fatih, dibangunlah Masjid al-Fatih yang berada tepat di sebelah makamnya.
 
 
Apa kunci kesuksesan Sultan Muhammad al-Fatih, Sang Pedang Malam? Ia tidak pernah meninggalkan salat wajib dan salat tahajud selama hidupnya, semenjak baligh. Bahkan tentaranya juga tidak pernah meninggalkan salat wajib. Maka, benarlah sabda Rasulullah saw sebelum wafatnya, bahwa Konstantinopel akan takluk kepada sebaik-baik pemimpin, dan sebaik-baik tentara. Rasulullah saw tidak pernah berbohong dengan semua sabdanya. Masya Allah, Allahu Akbar!
 
Bangkitlah Pemuda! Mari Berkarya!
 
Lalu, bagaimana dengan pemuda di masa kini? Banyak kah diantara mereka yang berkarya di usia muda, kemudian menempa mental dengan berdagang? Banyak kah diantara mereka yang sudah berani pergi ke luar negeri, dan mencetak prestasi di sana? Atau, mereka hanya bisa bergantung pada orangtua, dan menengadahkan tangan meminta uang jajan? Wallahualam.
 
Tapi sepertinya, masih banyak pemuda yang belum berani keluar dari zona nyamannya sendiri. Jika mereka dianugerahi lahir dari keluarga yang kaya raya, tak sedikit dari mereka yang tumbuh menjadi pemuda yang manja. Ingin ini, ingin itu, tinggal minta. Sedikit saja diantara mereka yang inisiatif untuk berkarya.
 
Sebaliknya, saat mereka terlahir dari keluarga yang kurang mampu, atau dhuafa. Ada yang penuh semangat menembus batas garis kemiskinan dengan beragam usaha yang halal. Namun, ada pula yang memilih menjadi perampok, penjahat, atau profesi buruk lainnya, dengan alasan, yang penting dapat penghasilan untuk makan.
 
Padahal jelas sekali pesan Allah SWT melalui firman-Nya dalam al-Quran: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Q. S. Ar- Ra’d [13] : 11).
 
Jadi, harus ada upaya untuk merubah menjadi lebih baik. Bahkan seekor burung pun pergi pagi-pagi mengepakkan sayapnya untuk mencari makan, lalu ia kembali dengan perut kenyang. Itu tandanya, Allah akan memberi jalan, bagi mereka yang mau berjuang dengan cara yang halal. Bukan berdiam diri, mengutuk keadaan, lalu bunuh diri dengan alasan untuk mengakhiri segala penderitaan. Naudzubillah.
 
Maka, bangkitlah wahai pemuda harapan bangsa. Bangkitlah pemuda untuk menegakkan agama Allah di muka bumi. Bangkitlah pemuda dengan terus memperbaiki kualitas diri. Bangkitlah pemuda, dan bermanfatlah bagi sebanyak-banyaknya umat di dunia.
 
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Inspirasi Lainnya
Tenteramkan Hati Karena Berbagi
Tenteramkan Hati Karena Berbagi
22
Sedekah bukan uang sisa yang aku berikan, namun hal pertama dari kebutuhan primer dan sekunder yang kami lakukan.