Inspirasi
Syahidnya Sang Muadzin Rasulullah

Syahidnya Sang Muadzin Rasulullah
Jangan ada seorang pun yang ketinggalan dari orang-orang yang memiliki senjata, orang yang mempunyai kuda, atau yang berani, atau yang berpikiran tajam, melainkan hadapkan semuanya kepadaku sesegera mungkin!

Sejumlah orang mungkin hanya mengetahui Rasulullah saw memiliki satu orang muadzin, yakni Bilal bin Rabah. Padahal, tidak hanya Bilal yang menjadi muadzin Rasulullah. Ada nama lain yaitu Abdullah bin Ummi Maktum.  
 
Abdullah bin Ummi Maktum adalah salah seorang sahabat senior Rasulullah. Beliau termasuk di antara as sabiquna awwalun (orang-orang yang pertama memeluk Islam). Ada yang mengatakan namanya Umar. Ada juga yang menyebut Amr. Kemudian Rasulullah menggantinya dengan nama Abdullah.
 
Abdullah bin Ummi Maktum memiliki kekurangan fisik berupa kebutaan (tuna netra). Rasulullah bertanya kepadanya, “Sejak kapan engkau kehilangan penglihatan?” Ia menjawab, “Sejak kecil.” Maka Rasulullah bersabda: “Allah berfirman, ‘Jika Aku mengambil penglihatan hamba-Ku, maka tidak ada balasan yang lebih pantas kecuali surga.’”
 
Saat Allah memerintahkan Rasul-Nya dan kaum muslimin untuk hijrah ke Madinah, maka Abdullah menjadi orang yang pertama-tama menyambut seruan tersebut. Walaupun memiliki kekurangan fisik, jarak antara Mekah dan Madinah yang jauh (sekitar 490 km, ancaman dari orang-orang Quraisy, dan bahaya dalam perjalanan, semua itu tidak menghalangi Abdullah untuk memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya.
 
Pada tahun 14 H, Amirul Mukminin Umar bin Khattab mengadakan konfrontasi dengan Kerajaan Persia. Umar menulis surat kepada para gubernurnya dengan menyatakan, “Jangan ada seorang pun yang ketinggalan dari orang-orang yang memiliki senjata, orang yang mempunyai kuda, atau yang berani, atau yang berpikiran tajam, melainkan hadapkan semuanya kepadaku sesegera mungkin!” Lalu berkumpullah kaum muslimin, tergabung dalam pasukan besar yang dipimpin oleh sahabat yang mulia, Saad bin Abi Waqqash. Di antara pasukan tersebut terdapat Abdullah bin Ummi Maktum.
 
Abdullah masuk ke dalam pasukan Perang Qadisiyah dengan mengenakan baju besinya, tampil gagah, dan bertugas memegang panji bendera Islam. Tidak membuatnya gentar suara di medan perang yang menderu, dentingan tebasan pedang, atau pun desiran anak panah yang melesat. Baginya Amirul Mukminin telah membuka kesempatan bagi semua orang dalam jihad ini. Ia pun tidak mau melewatkan peluang berjihad di jalan Allah, walaupun bahaya sebagai seorang tuna netra lebih berlipat ganda.
 
Perang yang hebat pun berkecamuk. Hingga sampai pada hari ketiga, barulah kaum muslimin berhasil mengalahkan pasukan Persia. Kemenangan tersebut menjadi kemenangan terbesar dalam sejarah peperangan Islam sampai saat itu. Namun, kemenangan tersebut juga harus dibayar dengan gugurnya para syuhada. Di antara mereka adalah sahabat dan muadzin Rasulullah, Abdullah bin Ummi Maktum. Jasadnya ditemukan terkapar di medan perang sambil memeluk bendera yang diamanahkan kepadanya untuk dijaga.
 
Akhirnya sang muadzin pulang ke rahmatullah. Gugur sebagai pahlawan memerangi bangsa Majusi Persia. Semoga Allah SWT menerima amalan-amalan Abdullah bin Ummi Maktum dan memasukkan kita dan beliau ke dalam surga-Nya. (sumber: kisahmuslim.com dengan beberapa perubahan)
 
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Inspirasi Lainnya
Berinvestasi dan Menabung Tanpa Uang
Berinvestasi dan Menabung Tanpa Uang
22
Cara menabung dengan berternak atau bertani sebenarnya bukan cara baru. Tapi sehubungan saat ini sudah serba dinilai dengan uang, maka cara itu menjadi tidak populer bahkan terlupakan.