Inspirasi
Nunung Lebih Memilih Rumah di Surga

Nunung Lebih Memilih Rumah di Surga
Saya melihat sebuah kontrakan sederhana berukuran 4x4 meter. Hal itu membuat saya tertegun cukup lama. Sebelum mengetuk dan mengucapkan salam, sempat terbersit sebuah pertanyaan,

Jika kita berpikir berwakaf hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berkantong tebal dan memiliki tanah di mana-mana, tentu itu keliru. Tanpa kita duga, berwakaf dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki harta pas-pasan, bahkan penghasilannya hanya cukup untuk keperluan makan sehari-hari.

Kisah ini diceritakan salah seorang petugas Jemput Wakaf Daarut Tauhiid (DT), pertengahan Juni lalu. Kejadian yang membuatnya sangat tersentuh dan terenyuh, sekaligus membuatnya malu. Berikut kisahnya:

Seperti biasa, saya menjemput dana wakaf sesuai permintaan muwakif (pewakaf). Berbeda dari biasanya, kali ini muwakif yang saya temui membuat saya malu, sekaligus terharu.

Saya melihat sebuah kontrakan sederhana berukuran 4x4 meter. Hal itu membuat saya tertegun cukup lama. Sebelum mengetuk dan mengucapkan salam, sempat terbersit sebuah pertanyaan, “Inikah rumah muwakif tersebut?” Ternyata benar. Sesosok perempuan paruh baya mempersilakan masuk dan langsung mengutarakan maksudnya untuk berwakaf masjid.

Nunung, panggilan perempuan penuh sahaja itu. Ibu dari empat anak tersebut langsung menyerahkan sejumlah uang kepada petugas wakaf. “Awalnya mau lima juta, tapi baru ada segini,” tutur Nunung sambil tersenyum malu.

Saat menerima uang tersebut, saya hampir tak bisa berkata-kata. Lidah saya hampir kelu, pikiran pun dipenuhi sederet pertanyaan. Takjub, haru, penasaran, dan sederet perasaan lainnya membuat saya tak tahan lagi untuk bertanya beberapa hal.

Di sudut rumah, terlihat sesosok pria sedang berbaring. Usianya tak jauh dengan Nunung. Terlihat anak-anaknya sedang menemaninya. “Itu suami saya, dua tahun lalu ia kecelakaan, sebentar lagi harus operasi,” tutur Nunung.

Perkataan Nunung semakin membuat saya malu. “Maaf bu, tujuan ibu berwakaf apa?” tanya saya. “Saya teh walaupun keadaan sekarang seperti ini, saya ingin sekali berwakaf. Niat saya berwakaf bukan ingin suami saya sembuh, tapi saya sudah niat dari dulu ingin berwakaf agar harta saya berkah dan dapat pahala,” katanya sambil berkaca-kaca.

Sejak kecelakaan tersebut, suami Nunung sudah tidak bekerja. Akhirnya, Nunung harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai sekolah anak-anaknya. Nunung hanyalah seorang buruh pabrik tekstil di Muhamad Toha, Bandung. Walau gajinya terbilang pas-pasan, Nunung masih mampu menyisihkan sebagian hartanya untuk berwakaf.

Jika Nunung mau, bisa saja uang tersebut ia pergunakan untuk mencicil rumah, membiayai operasi suaminya, atau membiayai kebutuhan sehari-harinya. Tapi tidak demikian, komitmen Nunung lebih kuat dan tak terpatahkan. Nunung rupanya lebih memilih rumah di surga dari Allah.

Wakaf DT membuka kesempatan bagi siapa pun untuk berwakaf. Sahabat dapat bersilaturahim langsung ke kantor Wakaf di Gedung Yayasan lantai 2, Gegerkalong Girang no. 67. Dana wakaf juga dapat ditransfer melalui Mandiri Syariah 7766 7766 33 dan BNI 2251 2118 an. Yayasan Daarut Tauhiid. Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi 085 200 123 123 atau 022 200 6655.






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Inspirasi Lainnya
Memilih dan Menentukan Mitra
Memilih dan Menentukan Mitra
16
Bagi pihak yang menerima atau mencari mitra untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasanya, maka memilih dan menentukan mitra pun akan dapat meniingkatkan efisiensi dan efektifitas.
Galeri
Lempar Jumroh

Ust. Abdul Wahab sedang memperagakan Lempar Jumroh kepa

DR. Zakir Naik dan Aa Gym sedang berdialog

Dialog antara Aa Gym dengan Dr. Zakir Naik selepas Shol

Dari Kecil Mencintai NKRI

Belajar mengajak anak bergabung dalam event besar, agar