Inspirasi
Perihal Mendidik Anak, Salim A. Fillah Berkisah

Perihal Mendidik Anak, Salim A. Fillah Berkisah
Saat ibunya kembali, beliau hanya bisa geleng-geleng kepala. Yang dibeli oleh Salim adalah buku-buku yang sama sekali tidak berkaitan dengan anak kelas 5 SD. Yang ada di keranjang belanja justru buku sejarah, biografi tokoh, filsafat, dan psikologi. Seingat Salim,

“Bapak dan ibu. Saya harus menyebut beliau berdua jika berbincang tentang menulis. Saya yakin jika Allah SWT berkenan menjadikan tiap huruf yang mengalir dari jemari saya ini sebagai kebaikan, maka kebaikan itu pertama-tama akan menjadi hak mereka,” ujar Salim A. Fillah, seorang penulis dan da’i muda saat ditemui beberapa waktu oleh Majalah Swadaya di Omah Dakwah, Yogyakarta.
 
Salim A. Fillah, selain dikenal sebagai penulis dengan gaya bahasa yang puitis, ia juga aktif mengisi kajian di berbagai kota hingga mancanegara. Salim mendirikan kajian Majelis Jejak Nabi dan aktif dalam organisasi Indonesia Tanpa JIL di Bandung. Kajian Majelis Jejak Nabi tidak hanya dilakukan di Masjid Jogokariyan, tetapi juga dilaksanakan di Masjid al-Ukhuwah Bandung setiap pekan ke-4.
 
Menurutnya, bapak dan ibunyalah yang sangat berperan dalam menumbuhkan kegemarannya menulis dan menimba ilmu. Salim mengenang masa kecilnya ketika masih kelas 5 SD. Ibunya membawa Salim ke toko buku di awal tahun ajaran. Maksudnya, tentu untuk berbelanja buku pelajaran dan alat tulis sebagaimana lazimnya anak yang lain. Karena ibunya ada kepentingan lain, Salim ditinggalkan di toko buku dengan uang yang pas untuk membeli semua keperluan tahun ajaran baru.
 
Saat ibunya kembali, beliau hanya bisa geleng-geleng kepala. Yang dibeli oleh Salim adalah buku-buku yang sama sekali tidak berkaitan dengan anak kelas 5 SD. Yang ada di keranjang belanja justru buku sejarah, biografi tokoh, filsafat, dan psikologi. Seingat Salim, dari lisan ibunya hanya keluar pekik, “Masya Allah!” Ketika sampai di rumah, bapaknya juga hanya tertawa-tawa.
 
Cara Mendidik Anak
Berkaitan perihal mendidik anak, Salim menjelaskan nilai pertama yang harus diajarkan kepada anak adalah tauhid. Tujuannya agar anak tidak menyekutukan Allah SWT. Lalu, dilanjutkan dengan memberikan teladan bagaimana kita berbakti kepada kedua orangtua. Hal ini akan dijadikan cermin oleh anak-anak kita kelak. Selain itu, mengajarkan sikap kuat memegang prinsip (nilai tauhid).
 
“Bukan lemah lembut yang akan kita ajarkan kepada anak, tetapi kuat dan lembut. Kalau lemah lembut saja, kayaknya lemah ya. Kenapa harus juga disertai kuat? Karena kekuatan tidak menghalangi kelembutan. Kuat di dalam prinsip, kuat dalam apa yang ia yakini, asalkan itu kebaikan, tetapi juga lembut dalam sikap,” kata Salim.
 
Salah satu contoh sikap teguh memegang prinsip ketauhidan, Salim mengisahkan tentang Sa’ad bin Abi waqas. “Ketika Sa’ad masuk Islam pada usia 13 tahun, ibunya yang mengetahui Islamnya Sa’ad amat kecewa dan marah. Ia lalu memutuskan untuk mogok makan. Ia berkata kepada puteranya:  “Anakku, sebelum kau meninggalkan agama Muhammad, maka ibumu ini tidak akan makan. Tidak akan memasukkan satu suapan pun ke dalam mulut sama sekali.”
 
Sa’ad bin Abi Waqas selama masa-masa itu terus berada di sisi ibunya. Membujuknya untuk mau makan, disuapi, menyediakan makanan, dan setiap saat merayu ibunya.
 
Sampai pada hari ketiga, dan ibunya sudah tidak berdaya, Sa’ad bin Abi Waqas menyatakan sikapnya: “Ibu, aku sangat menyayangimu. Aku tidak ingin ibu sakit. Tidak ingin ibu mengalami penderitaan seperti ini. Tetapi bila ibu ingin aku kembali kepada kemusyrikan, setelah aku beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah saw, maka demi Allah! Meskipun ibu punya 70 nyawa, lalu setiap nyawanya dikeluarkan, aku tidak akan kembali kepada kekufuran,” kata Sa’ad tegas. Ibunya pun luluh. Ia kemudian mengikrarkan diri untuk masuk Islam.
 
Ajarkan Tauhid Sejak Dini
“Mengapa dalam Islam, anak diperintahkan salat pada usia 7 tahun dan bukan sebelumnya? Karena ternyata ada yang lebih penting dari memerintahkan salat, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan bersabar. Apa itu? Tauhid,” ujar Salim.
 
“Ajarkan kepada anak: ‘Nak, apa pun yang kau kerjakan, meski Abah dan Ummi tidak melihat, meskipun ustaz dan ustazah tidak lihat, meskipun bapak dan ibu guru tidak lihat, meski tidak ada satu pun yang melihat, tetapi perbuatanmu kecil atau pun besar, baik atau pun buruk, Allah Mahamelihat dan Allah yang akan mendatangkan balasannya,” lanjut Salim.
 
Menurut Salim, hal itu yang menjadi dasar dan pokok anak untuk beramal. Kesadaran bahwa Allah Mahamelihat, dan balasan dari Allah adalah balasan yang terbaik.
 
Hindari Reward & Punishment
“Kita boleh memberikan penghargaan kepada anak, seperti Rasulullah memberikan hadiah kepada anak. Tetapi tidak mendahuluinya dengan janji adalah hal yang utama. Sebab yang perlu kita terapkan kepada mereka adalah balasan Allah lebih utama. Ini harus kita tanamkan awal-awal. Seperti misalnya: ‘Nak, kalau nanti kamu hafal juzz ‘amma, bapak belikan sepeda. Nak, kalau kamu bisa salat dengan bagus, bapak belikan mainan. Nak, kalau kamu bisa puasa Ramadan, bapak belikan apa dan apa.’ Tidak!” kata Salim.
 
Salim kemudian melanjutkan obrolannya, “Memberi hadiah itu silakan. Membelikan sesuatu agar bermanfaat bagi anak, silakan. Tetapi ada cerita tentang dua orang ibu yang anaknya sama-sama sukar dibangunkan, dan sama-sama suka minum susu.”
 
Ibu pertama mengatakan kepada anaknya, “Nak, bangun nak, nanti kalau kamu bangun, ibu bikinkan susu deh.”
 
Ibu kedua, “Nak, bangun nak, itu sudah ibu bikinkan susu, ibu taruh di meja ya. Segera bangun ya nak, agar susunya tidak dingin.”
 
“Sama capeknya, sama-sama membangunkan anak dan membikinkan susu, tapi anak pertama belajar: jangan lakukan sesuatu kecuali ada manfaatnya bagimu. Ada pun anak kedua belajar: ibuku baik sekali, aku belum bangun saja sudah dibikinkan susu, terus aku dibangunkan buat minum susu. Maka dia belajar tentang ketulusan, dan amal yang tanpa syarat. Ia belajar bagaimana berharap hanya kepada Allah semata,” ujar Salim.
 
Oleh karena itu, menurut Salim, kita akan sulit mengajarkan kebaikan dan melarang mereka berbuat yang dilarang, selama nilai-nilai ketauhidan belum diterapkan. Termasuk mengajarkan anak untuk tulus berbagi. “Mengajarkan kepedulian terhadap sesama pun harus diajarkan sejak dini. Karena berbagi dengan saudara sesama muslim tidak terbatas jarak. Seperti menolong saudara-saudara sesama muslim di dalam maupun di luar negeri,” ujar Salim mengakhiri perbincangan. (Cristi Aningsih Sarif)
 
 






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Inspirasi Lainnya
Sepuluh Fondasi Rumah Tangga
Sepuluh Fondasi Rumah Tangga
20
Seni yang jika diibaratkan sebagai fondasi atau pilar dalam berumah tangga, maka ia haruslah kokoh dan kuat terhujam.
Galeri
DR. Zakir Naik dan Aa Gym sedang berdialog

Dialog antara Aa Gym dengan Dr. Zakir Naik selepas Shol

Dari Kecil Mencintai NKRI

Belajar mengajak anak bergabung dalam event besar, agar

Antri Toilet

Jamaah rapi berbaris antri untuk menggunakan toilet por